Pencarian Maura

Pencarian Maura
Divia Beraksi


__ADS_3

Divia harus menajamkan penglihatan ketika memulai aksinya. Asap tebal menjadi rintangan terbesarnya kali ini. Dia tidak hanya harus menahan sesak, melainkan juga harus menahan perih pada mata yang membuat jarak pandangnya terbatas.


''Kemana sih wanita itu, kenapa tidak turun- turun? Hampir dua puluh menit aku ada di sini, huk-huk," gerutunya dengan menahan batuk.


Beberapa menit setelahnya, wanita itu seperti mendengar suara seorang wanita tengah terbatuk-batuk, di susul dengan suara minta tolong dari arah tangga.


''Tolong, ada orang di sini, uhuk-uhuk."


''Tolong...."


Divia menyeringai senang, orang yang dinanti telah tiba. Dia segera memakai kembali maskernya, kemudian mengintip sebentar siapa wanita itu. Seorang wanita berkebaya coklat berhenti di tengah tangga dengan teriakan tertahan.


''Waktumu tiba, Sayang ... Saatnya kau bersenang-senang with my partner," gumamnya.


Meskipun Divia tidak bisa melihat dengan jelas rupa wanita itu tetapi dia sangat yakin jika itu targetnya. Karena dari postur tubuh beserta tingginya mirip seperti target incaran mereka, ditambah pakaian yang dipakai semakin menguatkan dugaannya.


''Mari, ikut aku ... Aku anak buah Tuan Bram yang di perintahkan untuk menyelematkan orang-orang yang terjebak," ucap Divia beralibi sambil mengulurkan tangannya.


Wanita itu percaya begitu saja, karena memang situasi yang mendesak membuatnya tak bisa berfikir jernih. Ditambah lagi, kondisinya memang sangat lemah akibat terlalu banyak menghirup asap.


Dia segera menerima uluran tangan itu, kemudian dibantu keluar dengan dipapah orang misterius itu.


''Siapa pun Anda ... Terima kasih," ucap wanita itu dengan nada lemah.

__ADS_1


Divia hanya mengangguk sekilas. Ketika hampir mendekati pintu keluar, salah satu tangan Divia sudah siap dengan sapu tangan yang sudah diteteskan obat bius. Tanpa menunggu lama, dia segera membekap mulut wanita itu dengan sapu tangan tersebut. Awalnya, wanita sempat memberontak namun lama-kelamaan gerakannya semakin melemah, hingga tak sadarkan diri akibat obat yang mulai bekerja.


Divia beralih mengeluarkan sebuah suntikan yang berisi cairan, kemudian menyuntikkan ke leher wanita itu. Dia tersenyum puas karena pekerjaannya berjalan sesuai harapan. Dengan tangan masih membungkam mulut target menggunakan sapu tangan, Divia segera meraih ponsel untuk menghubungi anak buah Angelo agar segera mengambil mangsa mereka.


''Segera kemari, wanita ini sudah di tanganku. Dia harus segera sampai ke tangan tuan kalian sebelum terbangun."


''Baik, Nyonya."


Pembicaraan singkat itu tertutup. Divia menatap sinis ke arah wanita yang ada dalam kuasanya.


''Selamat bersenang-senang, Wanita Malang.''


Wanita paruh baya itu tak berniat sedikitpun untuk membuka tangannya karena dia sangat yakin jika itu Maura, wanita yang sangat ingin dia singkirkan dari kehidupan putranya.


Kemudian kedua pria itu segera mengangkat tubuh mungil target menuju sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya. Divia pun mengikuti langkah mereka dari belakang.


''Siapa dia? Mau dibawa kemana wanita itu?"


Divia menegang di tempat ketika aksinya kepergok salah satu anak buah Bram. Namun, wanita itu berusaha bersikap normal agar tidak menimbulkan kecurigaan. Dia segera membuka masker, lalu menghadap pria itu.


''Dia adik saya, Tuan. Kondisinya sangat mengkhawatirkan karena terlalu lama terjebak di dalam, sedangkan dia punya riwayat penyakit asma. Saya hendak membawanya ke klinik terdekat," ucap Divia dengan wajah dibuat memelas.


Beruntung tadi, Divia sempat berpikir untuk menghapus riasannya. Jadi, dia aman karena tidak ada yang mengenali wajah polosnya kecuali suaminya sendiri. Pria itu juga mengira jika wanita yang berhadapan dengannya ini adalah wanita biasa jadi dia memutuskan untuk tidak mencurigai wanita itu lagi.

__ADS_1


''Ya sudah, maaf telah mengulur waktumu. Jika ada apa-apa dengan adikmu segera hubungi panitia penyelenggara pesta "


''Baik, Tuan."


''Dasar bodoh!"


...----------------...


''Senang bekerjasama dengan Tante Divia. Lain kali, kita bisa bekerjasama lagi." Angelo tersenyum puas melihat wanita berkebaya yang tidak sadarkan diri berada dalam pangkuannya.


''Aku juga senang bisa membantu, An. Bila butuh bantuan, kau bisa menghubungiku lagi."


Keduanya berada di tempat sepi yang berada tak jauh dari kediaman Bramasta Haydar. Divia tersenyum ramah pada partner-nya dengan mengintip dari luar jendela mobil


''Tentu saja, Tan. Tapi sepertinya aku sudah selesai dengan misiku. Aku pastikan ini aksiku yang terakhir."


''Aku pergi dulu sebelum dia bangun. Tante juga hati-hati," sambungnya lagi.


''Siap."


Divia melambaikan tangan seiring dengan kepergian mobil yang ditumpangi partner-nya. Kini, dia merasa sangat puas karena telah berhasil dengan misinya.


''Semoga setelah ini tidak terjadi apa-apa padaku," gumam Divia.

__ADS_1


__ADS_2