
''Kau siap, Andrian?"
''Aku gugup, Yah," jawab Andrian tampak keringat mengucur deras membanjiri pelipisnya.
Sang ayah menepuk pelan pundak putranya. Dia hanya terkekeh kecil melihat tingkah putranya. Dia teringat sewaktu akan melamar Ibu Andrian puluhan tahun silam. Sedetik kemudian, pria baya itu menghembuskan nafas kasar saat ingatan perpisahan dengan mantan istri berkelebat dalam benaknya.
''Semoga dia memang wanita terbaik untukmu, Andrian," batinnya penuh harap.
''Ini belum hari H. Hari itu lebih menegangkan daripada hari ini."
''Sejak kapan ayah menjadi lebay," cibir pemuda itu.
''Sudahlah, mari masuk ... Tidak baik terlalu lama berada di luar."
Rombongan keluarga Andrian yang berjumlah hanya empat orang memasuki segera memasuki kediaman megah orang tua Maura. Kedatangan mereka disambut sangat baik oleh pemilik rumah secara langsung.
''Silahkan, masuk...," sambut Bram dengan keramahannya, "putriku tengah bersiap-siap, beberapa menit lagi dia akan turun."
...----------------...
Maura menatap pantulan dirinya di depan cermin, dress selutut bermodel off shoulder membalut sempurna bentuk tubuhnya, tidak ketat namun sangat pas. Ditambah riasan natural dengan rambut bergelombang yang sengaja digerai semakin menambah kesan menawan penampilan wanita itu.
Dia menghirup udara, sebanyak-banyaknya, kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Berkali-kali, meyakinkan diri bahwa ini jalan terbaik untuk hidupnya. Inilah takdir yang harus dia jalani.
''Mbak, waktunya keluar sudah di tunggu."
__ADS_1
Suara Mira membuyarkan lamunan wanita itu. Dia berusaha memaksakan senyum terbaiknya agar tidak ada yang curiga jika dia terpaksa menjalani perjodohan ini.
''Wah, Mbak cantik banget," puji Mira ketika berada di dekat wanita itu
''Kamu bisa aja," timpal Maura sekenanya.
''Yuk, Mbak, sang pangeran tidak sabar ingin melihat calon permaisurinya."
Perlahan-lahan, Maura menapaki anak tangga menuju lantai dasar dengan tangan setia berada diapit sahabatnya. Semua mata tertuju pada wanita itu, ketika dia berada tepat di hadapan calon suaminya. Andrian tak dapat memalingkan pandangan ke arah lain, tatapan matanya terpaku pada kecantikan calon istrinya.
''Baiklah, karena semua sudah berkumpul. Mari, kita mulai saja acaranya."
...----------------...
''Arrrgghh!"
Suara hantaman benda keras bertubi-tubi terdengar dari arah kamar seorang pria. Nafasnya memburu setelah sebuah vas bunga berhasil memecahkan sebuah kaca besar yang ada di depannya.
''Kau jahat, Maura," teriaknya di tengah serpihan kaca yang berceceran.
Tangannya meraih stick golf yang berada dalam jangkauannya, lalu mengayunkan benda itu pada guci mahal yang ada di sekelilingnya, bahkan pintu kaca yang mengarah ke balkon pun tak luput dari sasaran amukannya.
Semenjak hari itu, Emran sering uring-uringan tidak jelas. Banyak yang sudah menjadi sasaran kemarahannya baik pelayan di rumah maupun bawahan di rumah sakit. Penampilannya sangat tidak terurus, tubuhnya tampak kurus, juga jambang tumbuh di area wajahnya, mirip seorang suami yang ditinggalkan istrinya tanpa kabar.
Se-dahsyat itu pengaruh Maura untuk hidup Emran. Dia sangat menyesal akan hinaan yang pernah ia lontarkan waktu itu. Ingin meminta maaf tapi gengsi lebih mendominasi. Alhasil, dia hanya bisa melampiaskan kekesalan pada orang-orang sekitar.
__ADS_1
Divia yang mendengar keributan dari arah kamar putra sulungnya pun segera menghampiri. Betapa terkejutnya dia ketika melihat banyak serpihan kaca di sana.
Wanita itu berjalan dengan sangat hati-hati mendekati putranya yang masih berusaha mengatur emosi. Dia juga sempat melirik sebuah ponsel yang masih menyala tengah menayangkan acara live di salah satu media sosial. Tampak dengan jelas, di sana seorang wanita tengah menyematkan sebuah cincin pada jari kekar seorang pria.
''Jadi ini penyebabnya," gumam Divia.
''Ada apa denganmu, Kak? Kenapa kau mengamuk macam orang gila yang menghancurkan semua yang kau temui," omel wanita itu.
Namun, Emran enggan menanggapi, tatapannya masih tajam ke depan seolah ingin menguliti mangsanya. Nafasnya juga masih tampak memburu.
''Kau jangan bodoh, Emran! Hanya karena wanita itu kau jadi seperti ini. Lihatlah, Shita! Dia berkali-kali jauh lebih baik dari wanita itu. Buka matamu, Emran."
''Diam, Mam!"
Divia terjengkit mendengar sentakan putranya, dia bahkan sampai harus mengusap pelan dadanya.
''Lebih baik mama keluar, aku tidak ingin mendengar apapun dari mulut mama," ujar Emran dengan nada rendahnya.
''Emran--"
''Keluar, Mam. Sebelum aku melampiaskan kemarahanku pada mama," sambung pria itu menahan geram.
Karena sadar putranya tidak bisa diajak bicara, Divia memilih keluar sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Dia beralih meminta salah satu pelayan untuk membereskan kekacauan yang terjadi di dalam sana.
''Kau sudah puas, Mam? Melihat putramu seperti itu?"
__ADS_1