
''Ayo, dong, An ... Angkat telepon dariku." Divia mondar-mandir tak tentu arah di dalam kamar dengan ponsel setia menempel di telinga.
Pikirannya semakin gelisah karena sudah beberapa hari nomor partner in crime-nya tidak bisa dihubungi. Lebih tepatnya sejak aksi kriminal mereka berhasil. Berulang kali, Divia mencoba menghubungi kadang tersambung namun tidak diangkat, kadang hanya bunyi operator yang menjawab.
''Ck, perasaan dari tadi tersambung. Kenapa gak dijawab sih," gerutunya berdecak kesal.
Dia mencoba peruntungan terakhir, berharap kali ini Angelo mau mengangkat.
''Hallo, An...." Senyumnya terkembang sempurna saat panggilannya diangkat.
''Akhirnya kau angkat juga. Kau ini kemana saja dari kemarin aku mencoba menghubungimu tapi selalu berakhir mengecewakan."
''Ada apa, Tan. Misiku sudah berhasil, jadi kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi, selain urusan bisnis keluargamu." Suara Angelo terdengar dingin di telinga Divia.
''Enak sekali kau berkata seperti itu ya ... Aku ingin meminta perlindunganmu jika sampai terjadi apa-apa padaku."
''Itu urusan tante. Jika sampai hal itu terjadi berarti tante yang kurang hati-hati menjalankan tugas," sahutnya tanpa beban.
''Apa kau bilang? Urusanku! Heh, Angelo. Aku sudah membantu menjalankan misimu hingga berhasil. Sekarang, mana timbal balikmu," teriak Divia yang tidak bisa lagi menahan emosi.
''Apa yang mama lakukan? Misi apa?"
Divia menegang di tempat saat mendengar suara bariton sang suami, hingga tanpa sadar menjatuhkan ponselnya.
''Apa yang mama lakukan? Misi apa?" Raichand mengulang pertanyaannya dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.
''Bu-bukan apa-apa, Pap. Papa sa-salah dengar,'' jawabnya gugup, tampak keringat dingin membasahi pelipisnya. Tangannya pun ikut terasa dingin akibat kegugupan hebat yang mendera.q
''Tidak mungkin aku salah dengar. Jelas-jelas kau berkata, 'aku sudah membantu menjalankan misi, hingga berhasil,' bahkan mama meminta timbal balik segala. Papa mendengarnya dengan jelas, Mam. Telinga papa masih normal."
__ADS_1
''Apa yang sudah mama lakukan?"
''Jawab!" Suara Raichand menggelegar di dalam kamarnya, bahkan terdengar hingga keluar ruangan.
''Ada apa, sih, Kak? Kenapa papa marah sampai seperti itu?" tanya Emru dengan sejuta penasarannya.
''Bukan urusanku," balas Emran datar.
''Kau keterlaluan, Mam!"
PLAK!
Emru dan Emran segera menghampiri ketika keributan di kamar orang tuanya semakin menjadi. Mereka takut terjadi sesuatu dengan ibu mereka karena sang ayah yang sedang kalap.
''Astaga, Mam!" pekik Emru yang melihat ibunya tersungkur dengan berurai air mata di hadapan sang ayah.
''Ada apa ini, Pap?" tanya Emran.
Nafasnya tampak naik turun akibat emosi yang menguasai jiwa.
''Maafkan mama, Pap. Mama melakukan ini juga demi usaha keluarga kita." Divia mengiba memeluk lutut suaminya.
Namun, Raichand justru memalingkan muka enggan menatap wajah sang istri. Rasa kecewanya lebih mendominasi, perbuatan istrinya tidak bisa dimaafkan karena termasuk perbuatan kriminal. Apapun alasannya, Raichand tidak akan menerima itu.
''Aku tidak bisa memaafkanmu, Mam. Kamu harus mempertanggung-jawabkan perbuatanmu. Jika tidak maka keluarlah dari rumah ini. Diantara kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi."
Divia menggeleng keras. Air mata semakin deras membanjiri pipinya. Dia melakukan hal itu atas dasar paksaan bukan atas keinginannya.
Sontak, pengakuan pria baya itu mengejutkan kedua putranya.
__ADS_1
''Apa-apaan ini, Pap. Papa sadar apa tidak sih, dengan apa yang papa ucapkan? Papa sudah menalak mama," protes Emru tidak terima.
''Papa sangat sadar, Emru. Tapi kesalahan mamamu benar-benar tidak bisa dimaafkan." Raichand menimpali dengan nada rendah.
''Memangnya apa yang mama lakukan?" tanya Emran.
''Mamamu telah melakukan perbuatan kriminal. Dia terlibat aksi pembakaran kediaman Bramasta Haydar."
''APA?!''
...----------------...
Hayo lho ... Tante Divia dapat kurma, eh karma maksudnya....
Yuk, sambil nunggu up dariku mampir dikaruniai temanku juga ya....
Nama pena : Senja_90
Judul: Anak Genius: Antara Benci dan Rindu
Blurb:
"Aku pergi, Xander. Kuharap kamu akan baik-baik saja." ~ Tania Maharani
"Pergilah! Jangan pernah menampakkan dirimu lagi di hadapanku! Aku sangat membencimu! ~ Alexander Vincent Pramono
Rumah tangga harmonis yang diharapkan langgeng hingga maut memisahkan rupanya hanya angan belaka. Tania harus pergi meninggalkan suami tercinta dalam keadaan hamil.
Lantas, bagaimana kehidupan Tania setelah resmi berpisah dari Xander? Akankah Arsenio menerima Xander sebagai ayahnya setelah mengetahui pria itu akan menikah lagi?
__ADS_1