Pencarian Maura

Pencarian Maura
Pada Akhirnya.....


__ADS_3

Deringan keras ponsel, mengalihkan perhatian seorang gadis yang tengah menikmati acara film kesayangannya. Maura mengernyit ketika melihat nomor tak di kenal menghubunginya. Karena merasa tidak mengenal nomor tersebut, gadis itu mengabaikan saja. Bisa saja itu hanya orang iseng, pikirnya.


Namun, lama kelamaan suara itu semakin mengganggu karena si penelpon tidak berhenti menghubunginya. Pada akhirnya, dengan terpaksa Maura mengangkat panggilan itu.


"Hallo."


"Nona Maura," panggil seorang pria dari seberang.


"Iya saya sendiri."


"Nona, ini saya Anton."


Maura membelalakkan matanya. Orang yang di tunggu selama satu minggu ini menghubungi dirinya.


"Pak Anton, bagaimana? Apa saya bisa bertemu dengan ayah saya?" tanya Maura dengan tidak sabar.


"Bisa, tapi—"


"Tapi apa, Pak?"


"Tuan berada di Rumah Sakit Harapan Bersama, beliau sedang menjalani perawatan saat ini. Dan...."


"Apa?!" Maura memotong cepat ucapan pria itu.


"Ayah saya kenapa, Pak? Apa yang terjadi dengannya. Dia tidak apa-apa, 'kan?" cecar Maura dengan penuh kepanikan.


"Sebaiknya, Anda segera kemari, Nona. Tuan selalu mencari Anda."


"Baik, sekarang juga saya kesana."


Wanita itu memutus sambungan secara sepihak. Dia menyambar dompetnya, lalu keluar tanpa mengganti baju. Matanya memerah menahan tangis, bebagai pikiran buruk menghantuinya. Apalagi, Anton tidak memberitahu detail keadaan ayahnya. Sungguh, dia tidak akan sanggup jika harus kehilangan ayah yang belum pernah dia temui.


Maura segera menghentikan pria berjaket hijau yang kebetulan melintas di depannya.


''Bang, antar saya ke rumah sakit. Buruan! Darurat!"


"Tap-tapi, Neng ..."


"Buruan, Bang! Saya bayar lebih," paksa Maura dengan berteriak.


Melihat kepanikan wanita itu, si Abang Ojek segera tancap gas. Tak membutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai di tempat yang di maksud.


"Ini, ambil semua buat abang." Maura menyerahkan dua lembar uang bergambar pahlawan proklamator, lalu segera berlari mengabaikan ucapan terima kasih tukang ojek itu.


Di sepanjang koridor handphone tak pernah lepas dari telinganya. Dia segera menuju tempat yang sudah beritahukan mengenai keberadaan Anton.


"Pak Anton."


Pria yang namanya di panggil pun menoleh.

__ADS_1


"Akhirnya, nona datang. Tuan sudah menunggu. Mari ikut saya."


''Tunggu! Ayah saya kenapa, Pak? Keadaannya baik-baik saja, 'kan?''


''Kondisinya sudah membaik, dia terus mencari Anda. Mari ikuti saya."


Maura mengangguk, kemudian mengikuti pria yang membawanya ke taman rumah sakit.


''Itu orang yang Anda cari." Anton menunjuk pria paruh baya yang tengah duduk di kursi roda dengan posisi membelakanginya. Tak jauh darinya ada seorang wanita yang sepertinya tengah menyuapi pria baya itu.


''Siapa yang bersama ayah saya?" Maura memicing tajam, prasangka buruk hadir begitu saja dalam hatinya.


"Oh, itu hanya sekretarisnya. Anda tenang saja. Tuan sangat setia dengan Nyonya Riyana, bahkan dia rela tidak menikah lagi memilih fokus mencari keberadaan kalian."


Wanita itu bernafas lega mendengar penuturan dari pria di sampingnya.


"Mari, Nona."


Perlahan namun pasti, Maura mendekati kedua orang itu. Jantungnya berdetak kencang dari sebelumnya. Inilah momen yang dia tunggu-tunggu, bertemu sang ayah.


"Tuan, saya membawa orang yang Anda minta."


Maura berhenti di tempat yang sedikit jauh. Secara perlahan, pria berusia enam puluh tahunan itu membalikkan badannya untuk melihat seperti apa rupa sang anak yang tidak pernah dia ketahui.


''Dia sangat mirip denganku, Anton," ucapnya dengan nada bergetar.


Maura menggeleng tidak percaya, pandangannya memburam karena air mata. Kenapa dia tidak menyadari jika selama ini orang dia cari ternyata berada sangat dekat dengannya.


''Putriku. Kemarilah!"


Kaki wanita itu terasa sangat berat untuk melangkah. Dia masih belum bisa menguasai rasa terkejutnya. Dengan langkah pelan dia mendekati sang ayah. Air mata semakin deras membasahi pipinya.


"A-ay-ayah."Dia terbata mengucapkan kata itu.


''Iya, aku ayahmu. Kemarilah!" Bram semakin yakin jika wanita di depannya adalah putrinya ketika melihat sebuah kalung yang menggelantung di leher wanita itu.


''Ay-ayah,'' ucap Maura lagi saat berhadapan dengan pria itu.


Bram memaksa bangun dari kursi rodanya, namun Maura segera mencegah hal itu. Dia merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan pria itu.


''Putriku, kau putriku." Bram meraba wajah putrinya dengan tangan bergetar.


Sungguh dia tidak menyangka telah memiliki seorang putri secantik ini. Dia mirip Riyana samasa muda. Senyumnya sangat teduh, benar-benar duplikat istrinya ketika tersenyum.


Tanpa mengucap banyak kata, Bram segera memeluk putrinya.


''Terima kasih, terima kasih kau mau bertahan, Maura," ucapnya dengan air mata yang berurai.


''Siapa nama lengkapmu?"

__ADS_1


''Maura putri Riyana."


Tangis pria baya itu semakin pilu. "Hanya dari nama, Riyana berusaha menunjukkan jika kau putriku. Kau memang putri kandungku, darah dagingku." Bram kembali memeluk gadis itu, bahkan dekapannya kali ini semakin erat.


Air mata Maura tak kalah deras dalam dekapan hangat sang ayah. Dia sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan keluarga kandungnya secepat ini.


''Dimana ibumu?'


Senyuman yang terlukis di bibir gadis itu memudar, dia bimbang haruskah dia mengatakan yang sebenarnya tentang ibunya, mengingat kondisi Bram yang masih belum sepenuhnya membaik. Maura melerai pelukan itu, berusaha menunjukkan senyum terbaiknya.


''Ayah sehat dulu. Setelah itu, aku akan memberitahu tentang ibu," putus Maura pada akhirnya.


''Kenapa tidak mengatakannya sekarang juga? Aku sudah tidak apa-apa, justru aku lebih bugar setelah bertemu putriku."


''Katakan saja! Di mana ibumu, Maura?"


Maura mengalihkan pandangannya kepada Anton dan Sonia. Keduanya serempak menggeleng pelan.


Wanita itu menghembuskan nafas pelan. ''Ayah sembuh dulu. Aku janji aku akan memberitahu tentang ibu."


''Ayah?" Suara seorang pria mengalihkan perhatian semua orang yang ada di sana.


''Rayyan," gumam Maura.


''Kenapa kau memanggilku om ku dengan sebutan ayah, Ra?'


''Karena ..."


''Dia putri Om yang om cari selama ini, Ray. Om sudah menemukannya," sahut Bram dengan mata berbinar.


''Tidak mungkin." Rayyan menggeleng tidak percaya.


"Om bohong! Aku tidak percaya."


''Kamu kenapa, Ray?'' Bramasta merasa bingung dengan reaksi keponakannya, "seharusnya, kamu senang. Om sudah bertemu dengan orang yang selama ini om cari."


''Aku akan bahagia jika orang itu bukan Maura, gadis yang selama ini aku ceritakan. Tidak! Aku tidak akan percaya jika belum ada bukti valid mengenai hal itu." Rayyan masih menyangkal keras kenyataan yang ada dihadapannya.


Dia meninggalkan tempat itu dengan kekecewaan mendalam dalam hatinya.


"Rayyan, tunggu!" Maura berteriak mengejar pria itu.


"Rayyan," panggil Maura setelah berhasil mengejar langkahnya.


''Tinggalkan aku sendiri, Ra."


"Ray, kita harus bicara."


Suara Maura menggema di lorong sepi itu. Rayyan yang terlanjur kecewa hanya mengabaikan wanita yang terus memanggil namanya.

__ADS_1


"Sepertinya ini akan menjadi kesempatan emas bagiku untuk mendekati Maura lagi," ucap Emran yang sedari tadi menyaksikan itu semua dari kejauhan.


__ADS_2