
Emran berbalik menghampiri gadis yang mematung di belakangnya. Berdiri tepat di hadapannya dengan jarak yang sangat dekat hingga Maura harus mendongak menatap wajah tegas itu.
''Karena kau sudah menyetujui syarat dariku. Maka, kau harus menuruti semua yang ku mau, Maura."
"Aku bersedia menuruti semua perintah dokter. Asal bukan kehormatanku," sahut Maura dengan tegas.
''Kau sudah berani, Maura," ucap Emran dengan nada pelan penuh penekanan.
''Aku berani pada orang yang menindasku. Aku hanya meminta bantuan, tapi kalau Anda memanfaatkan ini demi kepuasan sendiri. Maaf, aku tidak bisa untuk diam saja. Lebih baik aku biarkan dia menyabotase hasilnya dan berbuat sesukanya terhadapku. Biarlah aku tidak bertemu dengan ayahku."
"Ibuku selalu berpesan agar aku selalu menjaga kehormatanku untuk suamiku kelak. Biar kita miskin yang terpenting kehormatan tetap terjaga. Karena mahkota wanita lebih berharga dari harta seberapapun banyaknya."
Kekaguman Emran semakin bertambah pada sosok wanita di hadapannya. Dia semakin yakin jika Maura bukanlah wanita seperti yang di katakan ibunya. Dan apa katanya tadi, membiarkan dia menyabotase hasilnya, lalu berbuat sesuka hati pada wanitanya. Tentu Emran tidak akan tinggal diam akan hal itu.
''Baiklah, aku tidak akan meminta aneh-aneh darimu. Aku hanya memintamu untuk menjadi pasanganku di pesta ulang tahun pernikahan orang tuaku yang diadakan dua malam lagi."
"Apa?" tanya Maura terkejut.
''Menjadi pasangan di pesta orang tua Emran? Itu artinya aku akan bertemu dengan ibunya? Bagaimana jika dia tahu kalau aku masih dekat anaknya. Bisa jadi dia benar-benar akan menendangku dari rumah sakit ini."
''Kenapa?"
''Bagaimana jika yang lainnya? Jangan itu, aku janji, aku akan menuruti tanpa banyak debat," ucap Maura yang tak bisa menutupi kegelisahannya.
''Memangnya kenapa dengan permintaanku itu?" Emran menatap intens wanita di depannya.
''A-aku tidak bi-bisa. Ak-aku ada acara lain, ya aku ada janji dengan Mira dua malam lagi," kata Maura dengan gugup.
Alasan itu tercetus begitu saja dari bibir mungilnya. Maura menggigit bibir bawahnya, berharap pria ini percaya dengan kebohongannya.
Emran hanya bersedekap dada. Dia tidak habis pikir, kenapa wanita ini selalu mengkambing hitamkan orang lain, pikirnya.
Terjadi keheningan beberapa saat diantar mereka. Dua makhluk berbeda gender itu sibuk dengan pikiran masing-masing.
''Jujur padaku, Maura. Apa saja yang dikatakan ibuku padamu?"
Maura terbelalak mendengar pertanyaan itu, dari mana dia mengetahui tentang pertemuan itu, siapa yang memberitahunya, apa dia menyelidiki. Berbagai pertanyaan berkelebat dalam benak wanita itu.
''Jawab aku, Maura. Kenapa kau diam saja?" tanya Emran lagi dengan penuh penekanan.
__ADS_1
''Aku—" Maura merem*s jari-jarinya dengan gugup.
"Aku ... Maaf aku tidak bisa mengatakannya."
''Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin kau berseteru dengan ibumu sendiri. Maaf aku tidak bisa. Kau ingin aku menjadi pasanganmu, 'kan? Baiklah, aku setuju. Permisi...."
Maura berlalu begitu saja dari hadapan Emran. Dia tidak ingin mengingat pertemuan itu lagi. Jika bukan karena terpaksa, mungkin dia tidak akan memohon bantuan pada pria itu.
''Kenapa sulit sekali membuatmu berkata jujur, Maura."
......................
Rayyan berada di depan sebuah ruangan dengan memperhatikan sekitar. Setelah di rasa aman, dia segera memasuki ruangan itu. Tak lupa menutup pintu dan menguncinya. Dia sengaja mematikan lampu yang ada di sana agar siapapun tidak melihat aksinya dari kamera pengawas yang sengaja di pasang dalam ruangan itu.
Dia memeriksa seluruh sample yang ada di hadapannya dengan bantuan cahaya dari ponsel pintarnya. Senyumnya terkembang saat menemukan apa yang di cari. Dengan segera dia mengambil salah satu sample itu, lalu menukarnya dengan sample yang dia bawa.
''Maafkan aku, Ra. Sebut saja aku gila, tapi aku benar-benar ingin memilikimu," gumam Rayyan.
Setelah itu, dia segera keluar dari ruangan itu dengan senyum terkembang dari bibirnya.
Rayyan menghentikan langkahnya ketiak mendengar suara bariton yang sangat dia kenal.
''Woho, ada super hero yang selalu siaga ternyata," ucap Rayyan dengan membalikkan tubuhnya.
Dia membalas tatapan elang itu tak kalah tajamnya.
''Sedang apa kau di sini?" Pria itu mengulang pertanyaannya dengan penuh kegeraman.
''Memperjuangkan yang seharusnya menjadi milikku."
''Kau tau, perbuatanmu ini melanggar kode etik seorang dokter, Rayyan."
''Aku tidak peduli, asal dia bisa ku miliki seutuhnya," ucap Rayyan dengan pongah.
"Kau—" Emran menunjuk muka pria menyebalkan itu.
"Apa? Kau mau mengancamku, silahkan. Aku tidak peduli."
__ADS_1
Bukannya takut, justru Rayyan menantang pria di hadapannya. Kebetulan lorong yang mereka tempati sangatlah sepi karena hari sudah lumayan larut. Hanya ada mereka berdua disana.
''Aku pastikan, kau akan di copot dari pekerjaanmu!"
''Silahkan, asal kau punya bukti." Rayyan menunjukkan sample berwarna merah milik gadis pujaannya.
Pria itu sengaja menggoyangkan benda kecil itu di depan Emran.
"Kemarikan!"
Emran ingin merebut benda itu tapi gerakannya kalah cepat dengan gerakan tangan Rayyan.
''Tidak semudah itu."
''Aku akan memusnahkan benda ini," lanjut Rayyan lagi.
''Silahkan. Aku akan meminta yang baru pada Maura."
''Lakukan saja jika bisa. Karena aku tidak akan tinggal diam. Gerak-gerikmu selalu ku awasi, Dokter Emran."
Emran hanya bisa mengepalkan tangan kuat-kuat, demi menahan amarah yang membakar dadanya. Rayyan berani menabuh genderang perang padanya.
''Kita lihat, siapa yang akan mendapatkan Maura pada akhirnya."
......................
Konfliknya terlalu lebay gak sih? Enggak ya....
Segini dulu, badan kurang fit gara-gara kehujanan. Terima kasih buat kalian yang masih setia menanti kelanjutan cerita receh ku ini.
Jangan lupa tinggalkan kenal kalian, Bestie...
Oh, ya... Yuk, saling sapa in my medsos
IG: mbak_miss38,
FB: Nur Saidah (mbak miss).
Jangan lupa juga follow akun ku di aplikasi ya...
__ADS_1
Babay...