
Emru menatap tak percaya kondisi ibunya yang terbujur kaku. Air matanya tak bisa dibendung lagi. Baru beberapa hari yang lalu dia bertemu dengan sang ibu. Sebagai anak yang paling dekat dengan Divia, tentulah ini menjadi pukulan terbesar baginya.
''Mama kenapa melakukan hal ini? Masih ada aku yang selalu ada untuk mama," jeritnya diiringi isak tangis yang menyayat hati.
Raichand sendiri hanya bisa mematung dengan mata masih tertuju pada wanita yang beberapa saat lalu dia temui.
''Mama tega...."
Terdengar suara pintu yang dibuka kasar, muncullah seorang pria berkaca mata dengan kepanikan yang tergambar jelas. Seperti halnya sang adik, kabar mengejutkan ini merupakan pukulan terbesar baginya. Dia mematung diambang pintu ketika melihat wanita yang biasanya selalu berdebat dengannya tengah terbaring dalam keadaan tak bernyawa.
''Mama."
Emran melangkah perlahan mendekati ranjang pasien tempat jasad sang ibu berada. Air mata ikut mengalir membasahi jambang tipis di kedua pipinya.
Meskipun, dia sering berbeda pendapat bahkan tak jarang pertengkaran terjadi. Namun, jauh di lubuk hatinya tersimpan perasaan sayang mendalam untuk Divia.
''Kenapa mama pergi secepat ini? Sebelum aku sempat meminta maaf," lirihnya penuh sesal mendalam.
Netranya melirik sang ayah yang hanya diam mematung di belakang adiknya.
''Bagaimana ini bisa terjadi, Pap?''
Raichand masih tak memberi respon apapun. Pandangan matanya masih tertuju pada jasad wanita yang telah menemaninya selama tiga puluh tahun ini.
__ADS_1
''Papa yang terakhir bertemu mama, apa yang terjadi? Bagaimana mama bisa sampai seperti ini? Jawab, Pap! Jangan diam saja." Emran mencecar ayahnya dengan mengguncang keras tubuh pria paruh baya itu.
''Maafkan papa, ini semua salah papa...."
Hanya itu mampu terucap dari mulut Raichand.
''Katakan yang jelas, Pap! Apa yang papa perbuat sampai mama melakukan hal sebodoh ini?" Karena emosi yang tidak stabil, Emran berteriak tepat di wajah ayahnya.
''Papa hanya menyerahkan ini...." Raichand mengangsurkan gulungan kertas kusut yang sejak tadi berada dalam genggamannya.
Emran segera membuka kertas itu, rahangnya mengeras ketika membaca keseluruhan isi surat tersebut.
''Apa yang membuat papa tega membuat keputusan sebesar ini? Apa karena mama yang menyebabkan semua bisnis papa hancur? Lalu papa dengan mudahnya memutuskan untuk menceraikan mama."
''Seandainya aku tau ini tujuan papa. Aku tidak akan membiarkan papa menemui mama. Seharusnya, aku yang menemuinya tadi."
''Aku tidak menyangka pria yang aku gadang-gadang paling bijak, pahlawan keluarga. Ternyata seperti ini, rela mengorbankan keluarga, bahkan nyawa hanya karena harta yang hilang," lanjutnya penuh penekanan.
''Harta bisa dicari, Pap. Tapi, nyawa...." Emru menunjuk jasad Divia . "Di mana papa akan mencari, hah!"
''Aku kecewa." Emru pergi begitu saja meninggalkan ruangan menyesakkan itu.
''Aku akan mengurus pemakaman mama," kata Emran datar, ikut berlalu meninggalkan ayahnya sendiri.
__ADS_1
Raichand perlahan mendekat kearah istrinya. Dia menatap kosong wanita itu. Semua kenangan selama puluhan tahun bersama berputar bagaikan kaset rusak dalam benaknya.
Di mulai saat pertama kali bertemu, kemudian mereka berpacaran berlanjut ke jenjang hubungan yang lebih serius.
Sosok Raichand muda terpesona dengan karyawan baru di kantor ayahnya. Dulu perusahaan keluarga Raichand masih perusahaan kecil belum berkembang pesat seperti saat ini. Dia menjabat sebagai manajer pemasaran dengan menyembunyikan identitas aslinya, sedangkan Divia merupakan bawahannya.
Karena intensnya hubungan dua sejoli tersebut di kantor maupun di luar kantor, berhasil menumbuhkan benih-benih cinta di hati keduanya. Hingga suatu ketika Raichand memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya, bak gayung bersambut ternyata Divia juga memiliki perasaan yang sama. Pada akhirnya keduanya sepakat menjalin hubungan asmara.
Setelah sebulan berpacaran, Raichand mengutarakan niatnya untuk serius. Dia mendatangi kedua orang tua Divia secara langsung untuk mempersunting wanita pujaannya. Lagi dan lagi, niat baiknya mendapat sambutan baik dari keluarga Divia.
Dalam waktu singkat, pernikahan sederhana Raichand dan Divia pun terlaksana. Pada saat itu pula, Raichand mengungkapkan jati diri yang sesungguhnya kepada sang istri.
Raichand menyembunyikan semuanya dengan rapi, ketika proses pernikahan pun Raichand muda di dampingi wakil kedua orang tuanya berkedok sebagai paman dan bibi dengan alasan ayah ibunya menjadi tenaga kerja di negeri orang.
Kehadiran Divia disambut baik oleh keluarga besar bermarga Khan tersebut. Seakan keberuntungan selalu menyelimuti rumah tangga Raichand dan Divia. Tepat setelah kelahiran kedua putra kembarnya, tonggak kepemimpinan perusahaan pun jatuh ke tangan Raichand. Berkat sentuhan tangan dinginnya perusahaan yang dia kelola berkembang pesat dalam kurun waktu beberapa tahun saja.
Di sinilah, keharmonisan rumah tangga Raichand diuji. Divia berubah setelah mengenal banyak orang dan sering berkumpul di acara-acara yang diadakan para istri pengusaha. Semakin lama sosok Divia yang sederhana, lemah lembut berubah menjadi sosok yang angkuh dan semaunya sendiri. Ibarat kata bagaikan kacang lupa kulitnya. Dia mulai memandang seseorang berdasarkan kasta, hingga menutup hati nuraninya akan kebaikan orang-orang itu.
Pertemanan elitnya berhasil mengubah sosok Divia seratus delapan puluh derajat dari sifatnya dahulu. Bukan hanya itu, hubungan rumah tangga mereka pun tak seharmonis dulu, ditambah kesibukan Raichand yang sangat menyita waktu membuat hubungan keduanya semakin renggang. Raichand semakin tidak mengenal sosok istrinya.
Namun, pria itu selalu berusaha mengerti. Dia menganggap semua perbuatan istrinya hanyalah pelampiasan rasa sepi akibat selalu ditinggalkan. Tak jarang pula dia selalu menasehati sang istri, bahkan juga bersikap tegas. Beruntung, Divia masih memiliki rasa takut akan kemarahan suaminya.
Hembusan nafas berat keluar dari bibirnya saat mengingat perjalanan cinta mereka.
__ADS_1
''Harta telah mengubah segalanya tentang kita...."