Pencarian Maura

Pencarian Maura
Apa ini Cemburu?


__ADS_3

''Mbak, keluar yuk ... cari sesuatu yang seger-seger," rengek Mira pada sahabatnya yang sedang menikmati acara film kesayangan.


''Kemana?" tanya Maura tanpa mengalihkan sedikitpun perhatian dari layar besar di depannya.


''Sudah malam, Mira," lanjut wanita itu.


''Baru pukul setengah delapan, Mbak. Masih sore. Yuk, Mbak. Aku lagi pengen ke kafe yang ada di Jalan Mawar, mocca latte-nya recommended banget katanya," ujar gadis muda itu dengan antusias.


''Tempatnya trendy, instragamable banget pokoknya lah." Mira sudah seperti sales promosi yang menawarkan dagangannya.


''Minta antar sama ajudan gantengnya, Mbak." Mira terus saja mendesak Maura untuk menuruti keinginannya dengan menggoyang lengan wanita itu.


''Bilang saja, kau pengen dekat sama si Ono, Mir. Modus kau," cibir Maura.


Namun, tak urung dia beranjak menuju kamarnya untuk mengambil Long Cardi yang biasa dia pakai saat keluar rumah.


''Hehe, tau aja."


''Sebentar, aku hubungi dia dulu untuk bersiap-siap."


Lima belas menit kemudian mereka sudah sampai pada tempat yang diinginkan Mira. Dengan antusias, gadis itu turun, lalu menggandeng tangan Maura memasuki tempat yang digandrungi banyak kaum muda-mudi saat ini. Ketika mereka menunggu pesanan datang, tanpa sengaja Maura melihat sosok yang sangat ia kenal tengah duduk bersama seseorang.


Dia melihat sosok Emran tengah asik berbincang dengan gadis yang bersamanya. Entah apa yang mereka bicarakan, Maura tidak bisa mendengar dengan jelas karena jarak yang terlalu jauh. Akan tetapi, ada perbedaan yang Maura rasakan saat melihat itu. Emran terlihat lebih ramah tidak dingin seperti biasanya, sesekali pria itu juga terlihat menyunggingkan sebuah senyuman.


''Apa kau sudah menerima perjodohan itu, Em?" tanyanya dalam hati


''Padahal aku yang meminta dia menerimanya, kemarin. Tapi, kenapa dadaku semakin sesak, dan kenapa di dalam sini terasa perih?" Maura masih sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga suara Mira menyadarkan lamunan wanita itu.


''Mbak, kenapa sih?"


''Gak apa-apa kok, Mir." Maura memaksakan senyumnya.


Mira tidak mempercayai ucapan Maura begitu saja, matanya tampak memicing seolah sedang meneliti sesuatu.


''Biasa aja kali." Maura menangkup wajah sahabatnya bermaksud untuk menghentikan keingintahuan gadis itu.


''Mbak, habis liat apa, sih? Kok mukanya sedih begitu," kata Mira melongok ke sana kemari untuk mencari sesuatu.


''Tidak ada, Mira. Sudah! Nikmati pesananmu atau kita pulang." perintah Maura.


''Eh, jangan dulu! Aku masih mau foto-foto di sini. Sayang, tempat sebagus ini dilewatkan begitu saja."


...----------------...


Beberapa jam sebelumnya....


''Kak, kita diminta sama mama untuk melakukan kencan buta di kafe ini."


Emru memasuki ruang kerja kakaknya dengan menunjukkan alamat sebuah kafe yang dikirimkan oleh ibunya tadi.

__ADS_1


''Kau saja, aku tidak berminat," jawab Emran tanpa mengalihkan perhatian dari berkas-berkas yang ada di tangannya.


''Ayolah, Kak. Aku diminta mama untuk membujuk kakak. Kalau kakak gak mau, nanti aku juga yang kena marah," ucap Emru dengan mimik frustasi.


Emran meletakkan kasar bolpoinnya ke atas meja, lalu menatap tajam sang adik.


''Itu resikomu. Dari awal aku tidak tertarik dengan perjodohan konyol ini. Kau yang berminat jadi kau tanggung resikomu sendiri."


''Kau memang keras kepala, Kak." Emru meninggalkan ruangan itu dengan membawa kekesalannya.


Dan benar dugaan Emru. Divia marah besar mendengar penolakan yang kesekian dari putra sulungnya. Dia sendiri yang mendatangi ruang kerja anaknya untuk memaksa Emran.


''Apa karena dia, kau menolak perjodohan ini, Emran?" tanya Divia dengan geram.


''Aku sudah menunjukkan penolakanku dari awal, tapi mama tetap ngotot memaksaku. Mama tau sendiri kalau aku paling tidak suka diatur-atur apalagi dipaksa seperti ini. Aku bukan Emru yang dengan mudahnya bisa mama jadikan boneka."


''Mama ingin memilihkan wanita terbaik untukmu, Emran."


''Wanita terbaik untukku hanya Maura," sahut Emran cepat.


''Selalu dia yang kau banggakan. Mungkin dia juga yang mempengaruhimu untuk menolak perjodohan ini." Divia berteriak marah dengan menahan kesal di dalam dada.


''Entah guna-guna apa yang dia miliki sampai putraku begitu tunduk dengan semua perintahnya." Wanita baya itu masih mengeluarkan emosinya.


''Berhenti berkata buruk tentangnya, Mam," desis Emran tak suka.


''Sepertinya, dia belum kapok dengan peringatanku waktu itu. Aku harus mendatanginya lagi," gumam Divia, kemudian berlalu pergi dari tempat itu.


''Kalau kau tak ingin terjadi sesuatu dengan wanita itu, maka turuti keinginan mama. Hanya kencan buta, Emran. Masalah cocok atau tidak semua mama serahkan padamu."


Emran menghembuskan nafas kasar, mamanya akan terus memaksa jika keinginannya tidak segera dituruti. Terlebih, dia sudah mengeluarkan ancamannya. Emran terpaksa menuruti keinginannya demi keselamatan sang pujaan hati.


''Baik, aku turuti keinginan mama kali ini. Asal mama tidak mendekati apalagi menyentuh Maura."


''Oke."


Divia tersenyum penuh kemenangan, dia sudah menemukan titik kelemahan putranya. Bisa dipastikan, dia akan menggunakan itu untuk melanjutkan rencananya kedepan.


...----------------...


Disepanjang perjalanan pulang, Maura hanya termenung dengan memandang ke arah luar jendela. Ingatannya masih mengembara pada peristiwa yang ia lihat beberapa menit yang lalu. Dia masih menyangkal jika itu Emran. Memang, dia yang meminta pria itu menerima perjodohan orang tuanya tapi dia tidak menyangka jika pada akhirnya akan sesakit ini. Ada rasa panas yang menelusup dalam hati ketika melihat senyuman Emran ditujukan untuk wanita lain, bukan untuknya.


''Mungkinkah ini yang dinamakan cemburu?'' tanyanya dalam hati.


Semua sikap Maura tak luput dari perhatian ajudan yang sedari tadi memperhatikan dari kaca spion yang ada di depannya. Pria itu melirik wanita di sampingnya yang masih sibuk dengan ponsel sedari tadi.


''Nona Maura kenapa, Nona Mira?"


''Hah, apa?'' Mira masih tidak fokus dengan pertanyaan pria itu.

__ADS_1


''Nona Maura kenapa?" Pria itu mengulang pertanyaannya dengan nada kesal.


''Kenapa? Tidak apa-apa tuh, dia baik-baik saja."


''Dari tadi melamun." Mira langsung mengalihkan pandangan ke arah belakang. Benar yang dikatakan pria itu, sahabatnya tengah melamun, bahkan dia tidak menyadari jika ponselnya sedari tadi berdering keras.


''Mbak Maura...."


Hening tidak ada sahutan.


''Mbak Maura...." Mira mengulangi lagi panggilannya.


"Mbak!"


''Eh, iya, ada apa?" Maura gelagapan menyahuti suara lantang Mira.


"Ponsel mbak dari tadi berbunyi."


Maura baru menyadari hal itu, dia meringis menahan malu karena ketahuan melamun.


''Oh, iya. Aku tidak sadar."


Maura segera mengangkat panggilan itu yang ternyata dari sang ayah.


''Halo, Yah...."


''....''


''Iya, aku siap. Mulai besok, aku masuk. Ayah persiapkan saja semuanya."


''....''


''Aku baik-baik saja. Tadi aku tidak dengar."


''...."


''Aku tidak lemas ayah hanya sedikit ngantuk. Ini lagi perjalan pulang habis cari angin."


''...."


''Iya. Nanti, aku langsung istirahat."


"Ayah juga segera istirahat. Jangan lupa minum obat.''


''....''


"Bye, Ayah...."


Panggilan pun berakhir.

__ADS_1


''Mbak kenapa, sih? Sejak di kafe sikap mbak aneh," tanya Mira dengan mata menelisik.


''Tidak apa-apa, Mira. Aku hanya ngantuk."


__ADS_2