Pencarian Maura

Pencarian Maura
Kekekian Rayyan


__ADS_3

''Ayo, Mbak. Buka mulutnya—'' Mira menyodorkan sesendok penuh nasi beserta lauknya, "Mbak dari tadi belum makan lho."


"Apa sih, Mir? Aku bisa makan sendiri. Aku belum mood aja." Maura berusaha menghindari sodoran itu hingga sampai memundurkan kepala.


''Mbak Maura, mbak itu harus makan terus minum obat biar tangannya itu cepet sembuh. Emang mbak gak bosen di rumah terus. Gak pengen kerja lagi, gak pengen ngelanjutin pencarian mbak. Kalau kondisi mbak aja kayak gini, gimana mau nerusin misi," cerocos gadis itu sambil memotong gemas lauk yang ada di piring.


''Iya, Bu. Nanti aku makan sendiri meski pakai tangan kiri,'' sahut Maura dengan cuek.


''Kata mamaku dulu, kalau makan pakai tangan kiri nanti temannya setan."


Sontak saja, Maura menahan tawa mendengar hal itu. Semenjak sakit, gadis itu selalu memperlakukannya seperti anak kecil, terkadang seperti orang pesakitan yang tengah menderita sakit parah. Untuk ke kamar mandi saja, Mira selalu memaksa untuk membantunya.


''Kalau yang kamu nasehati anak kecil pasti dia akan nurut. Sayangnya, yang kamu nasehati itu anak besar jadi gak bakal mempan."


''Udah sana bersih-bersih, bau keringat. Pulang kerja bukannya langsung mandi malah ngurusin orang sakit,'' lanjutnya dengan mendorong pelan tubuh sahabatnya.


''Masa sih?''


Mira mencium area ketiaknya, bukan bau yang seperti dibilang Maura, hanya sisa parfum yang dia pakai.


''Enggak, ya ... Nih, wangi—'' Mira menyodorkan ketiaknya pada sang sahabat


"Ihh, Mira jorok," jerit Maura sambil menutup hidungnya berusaha menghindar.


Melihat hal itu bukan berhenti, Mira malah semakin gencar menggoda sahabatnya. Hingga pekikan keras bercampur tawa tak dapat terelakkan dari mulut keduanya.


Ting-tong.... Ting-tong....


Kedua gadis itu menghentikan aksi bercandanya saat mendengar suara bel berbunyi.


''Siapa?' tanya Maura.


Mira hanya mengedikkan bahunya.


''Biar aku yang buka, kamu mandi," titah Maura layaknya seorang ibu yang memerintah anak.

__ADS_1


''Siap, Bos."


Maura segera melangkah menuju pintu, lalu membuka secara perlahan.


"Kalian...."


...----------------...


Beberapa jam sebelumnya....


Waktu shift satu Mira telah berkahir, kini gadis itu telah bersiap untuk pulang. Sepanjang menyusuri koridor, dia terlihat sibuk dengan ponselnya. Tangannya begitu lincah menari di papan ketik karena tengah berbalas pesan dengan sang sahabat di rumah. Biasanya, Maura ingin menitipkan ini itu pada dirinya sewaktu pulang kerja. Karena kegiatan itu, Mira menjadi tidak fokus pada jalan di depannya. Hingga tiba-tiba, dia merasa dahinya membentur sesuatu yang keras. Dia segera mengalihkan pandangan, terlihat siluet orang berjas putih menghadang dengan berkacak pinggang di depannya.


''Dokter kurang kerjaan ya. Ngapain pakai menghalangi jalan saya segala," gerutu gadis itu dengan kesal.


''Kamu yang kurang kerjaan, mainan handphone di tengah jalan. Untung bukan di jalan raya," balas pria itu tak kalah sewot.


''Gak usah berbelit-belit. Dokter mau apa? Gak mungkin Anda menghadang saya tanpa ada udang di balik rempeyek. Pasti ada sesuatu, 'kan?" cecar Mira dengan tidak sabarnya.


"Buruan! saya mau pulang."


''Sudah ku duga," ucap Mira dengan bersedekap dada.


Rayyan berdecak sebal karena tak kunjung mendapat jawaban dari gadis itu. ''Tinggal jawab, apa susahnya sih?"


''Dia sakit. Puas! Udah minggir, Pak Dokter. Saya mau pulang." Mira menggeser paksa tubuh kekar itu.


''Dia sakit apa? Kok sampai seminggu lebih gak masuk."


Karena kurang puas dengan jawaban gadis itu, Rayyan beralih mengekori langkahnya


''Tangannya patah. Udah jelas, 'kan? Permisi, Mbak Maura sudah menunggu di rumah." Tanpa menunggu jawaban pria itu, Mira berlalu begitu saja dari hadapan dokter sengklek itu.


''Kesempatan untuk merebut hati Maura," gumamnya.


Dia segera berlalu ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya, lalu menuju tempat tinggal gadis pujaannya.

__ADS_1


Tanpa disadari, jika Emran juga mendengar hal itu, sewaktu hendak pulang ke rumahnya. Tanpa berfikir panjang, pria itu segera meluncur ke tempat yang sama.


...----------------...


''Mira!"


Langkah Mira terhenti saat mendengar teriakan dari sahabatnya. Terdengar dari suaranya jika Maura sedang kesal. Segera saja, dia menghampiri untuk melihat siapa yang datang.


''Iya, Mbak. Ada apa?"


''Dokter Emran, Dokter Rayyan. Kenapa kalian kemari? Bersamaan pula," ucap Mira yang tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.


''Ini pasti ulahmu." Maura memicing tajam pada teman seatapnya itu.


Gadis itu menggeleng keras untuk menyangkal tuduhan itu. "Aku cuma menjawab pertanyaan Dokter Rayyan yang menanyakan keberadaan mbak.Gak tau kalau Dokter Emran tau dari mana.''


''Apa begini cara kalian menyambut tamu?" Suara tegas Emran mengalihkan perdebatan kedua gadis itu.


''Eh, i-iya. Silahkan masuk, Dokter-dokter. Maaf diabaikan di depan pintu." Mira segera membuka lebar pintu unitnya untuk mempersilahkan dua laki-laki itu masuk.


''Mau minum apa, Dok? Haduh, gak ada apa-apa untuk menyambut tamu, camilan juga udah pada habis," ucap Mira merasa tidak enak, karena tidak tersedia apapun di tempatnya.


''Tidak usah repot-repot, saya hanya ingin melihat kondisi Maura,'' sahut Rayyan.


"Maaf, baru kemari. Aku baru tahu mengenai kondisimu sebelum pulang tadi," ucap Emran menatap lembut gadis itu.


''I-iya, tidak apa-apa. Aku malah yang tidak enak karena merepotkanmu," jawab Maura dengan kikuk.


Rayyan mengernyit mendengar sapaan Maura terhadap Emran. "Aku kamu, sedekat apa hubungan mereka?" batinnya.


Kekesalannya semakin bertambah setelah mendengar candaan yang keluar dari mulut dua orang berbeda gender itu. Dari cara bicara mereka sudah menunjukkan jika hubungan mereka sangatlah dekat.


''Kenapa juga mesti ketemu pria dingin ini di lobby tadi. Eh, tapi kalau tidak ada dia, gue gak bakal tau tempat tinggal Maura. Ada untungnya ada ruginya juga. Ruginya ya ini hati gue panas." Pria itu terus saja menggerutu dalam hati.


''Tumben Dokter Rayyan diem aja dari tadi. Biasanya kayak burung perkutut yang gak berhenti berkicau," celetuk Mira yang datang dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi di tangannya.

__ADS_1


Ucapan Mira seolah menjadi pelengkap kekesalannya sore itu. Wajahnya terlihat semakin asam se-asam mangga muda orang ngidam. Niat hati pendekatan malah kekekian yang di dapat.


__ADS_2