
Rayyan menunggu resah di depan sebuah ruangan bertuliskan IGD. Sebentar duduk sebentar berdiri, sesekali mencoba mengintip keadaan omnya di dalam sana. Namun, nihil dia tidak bisa melihat apapun.
''Ray, duduklah! Aku pusing melihat tingkahmu." Andrian yang merasa jengah menegur pria itu.
''Pikiranku tidak tenang, kau lihat sendiri 'kan, bagaimana peristiwa tadi?''
Andrian tampak menghela nafas, kondisi Bram memang sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, sebuah tiang kayu berselimut kain yang dipenuhi api sepanjang juluran kain tersebut menimpa punggung pria baya itu. Saat itu juga, Bram langsung tidak sadarkan diri, setelah terdengar teriakannya yang begitu memilukan.
''Banyak-banyak berdoa supaya tidak terjadi sesuatu pada Tuan Bram."
''Apa sudah diketahui penyebab kebakaran tadi?" Suara bariton seseorang mengalihkan perhatian dua pria itu.
Seorang pria bertubuh kekar dengan balutan jas rapi menghampiri mereka.
''Entahlah, Kak," jawab Andrian.
''Kata salah satu pelayan api itu berasal dari dapur." Rayyan menimpali dengan suara beratnya.
''Bukankah semua makanan pesan melalui jasa catering? Lalu untuk apa tiba-tiba ada asap di dapur? Lagipula, para pelayan pesta yang ada di acara kalian, orang sewaan semua, 'kan? Tidak mungkin orang asing selancang itu memasuki dapur kalian karena tugas mereka hanya melayani makanan bukan membuat makanan," papar pria itu panjang lebar.
Rayyan tertegun mendengarnya, kenapa dia tidak menyadari hal ini. Jika para pelayan di rumah mereka, rasanya tidak mungkin. Karena dia paham betul satu per satu dari mereka.
''Apa itu artinya ... Peristiwa ini sebuah kesengajaan?" tanya Rayyan meragu.
''Lebih tepatnya direncanakan," sahut Andrian, "Ada yang menginginkan acara ini batal."
Bertepatan dengan itu, ponsel yang berada di saku celana milik Rayyan berdering tanda ada panggilan masuk. Tanpa basa basi, dia langsung menjawab setelah melihat identitas si pemanggil.
''Ada kabar apa?" tanya Rayyan to the point.
''Kami menemukan kerusakan pada kabel listrik yang ada di dapur, Tuan. Kerusakan itu yang menyebabkan korsleting arus listrik sehingga timbul percikan api, Tuan."
Rayyan mengepalkan tangannya kuat. Dia berusaha menahan amarah yang tiba-tiba merasuk ke dalam jiwa.
''Dan ada lagi, Tuan.''
''Apa?''
''Saya tidak bisa menjelaskannya, Tuan. Saya akan mengirim sebuah file. Silahkan, Anda lihat sendiri isinya."
''Cepat!"
Sambungan pun terputus. Beberapa saat kemudian, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel milik Rayyan. Tanpa menunggu lama, dia segera membuka pesan tersebut, darahnya semakin mendidih ketika melihat salinan rekaman kamera pengawas yang terpasang di kamar sepupunya.
__ADS_1
''Bangs**!''
Semua orang yang ada di sana terkejut saat mendengar makian yang keluar dari mulut pria itu.
''Ada apa, Ray?''
Karena penasaran, Andrian segera menghampiri pria itu. Reaksi yang dia tunjukkan pun sama, bahkan sempat tidak habis pikir dengan semua yang ia lihat.
"Apa jangan-jangan ... Dia?''
''Bisa jadi," jawab Rayyan menahan geram.
Ada perasaan yang sulit dijelaskan yang tiba-tiba merasuk ke hati Andrian. Dia tidak menyangka gadis selugu Maura tega melakukan ini padanya. Ibarat dilambungkan setinggi mungkin, tiba-tiba di terjunkan ke dasar bumi yang paling dalam. Ada remasan tak kasat mata yang dirasakan Andrian.
''Ternyata, ucapanmu hanya sebagai pemanis bibir saja, Ra."
''Kau pembohong besar, Maura," geramnya dalam hati.
''Ayo, Kak kita pulang. Tidak bada gunanya kita ada di sini.'' Andrian memutuskan pergi dari sana daripada nanti hatinya bertambah sakit.
Sang kakak hanya menuruti keinginan adiknya. Dia ikut beranjak, kemudian menyusul langkah pria itu.
''Permisi, ada yang bernama Andrian Tanujaya?"
''Andrian Tanujaya, tolong jawab. Pasien ingin bertemu.'' Suster itu mengulang pertanyaannya karena tidak mendapat respon dari beberapa pria yang ada di depannya.
''Dia sudah pergi, Sus." Rayyan menimpali.
''Pasien ingin bertemu sekarang juga. Mohon diusahakan," pintanya dengan nada mendesak.
''Saya di sini, ada apa?"
Andrian yang mendengar namanya terpanggil pun segera berbalik kembali ke tempat itu.
''Mari ikut saya."
Tanpa banyak bertanya, pria itu segera mengikuti langkah suster memasuki ruangan. Di sana, dia bisa melihat bagaimana kondisi Bram yang terbalut perban di beberapa bagian tubuhnya.
''Silahkan, pasien mencari Anda.''
''Permisi...."
Setelah kepergian suster, Andrian berjalan perlahan mendekati ranjang pasien. Dia hanya diam membisu di sisi Bram. Tak berniat membuka suara meski sekedar bertanya tentang keadaannya.
__ADS_1
''Andrian," panggil Bram dengan nada lemah.
Pria baya itu tersenyum lembut saat mendapati orang yang dicari ada di depannya.
''Saya di sini, Tuan," jawab pria itu dengan raut datar. Tak ada lagi keramahan yang selalu ditunjukkan setiap berhadapan dengannya.
.Bram sangat menyadari hal itu. Dia yakin, jika pria ini telah mengetahui sesuatu.
''Kemarilah!"
Andrian menurut, dia berjalan lebih mendekat ke ranjang pasien.
''Maafkan aku...
''Untuk apa, Tuan?"
''Tidak semestinya aku memaksa kalian untuk bersama. Aku sadar cinta tak bisa dipaksakan. Tolong, maafkan juga putriku."
Andrian tertegun mendengarnya. Dia sangat ingin melampiaskan kemarahannya. Namun, dia tidak sampai hati melakukan hal itu ketika melihat kondisi Bramasta yang seperti ini. Dia hanya mengangguk pelan sebagai respon.
''Terima kasih...."
...----------------...
''Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Rayyan ketika seseorang dokter meminta pria itu ikut ke ruangannya.
''Maafkan saya ... Kondisinya sangat memperihatinkan. Luka bakar yang dialami cukup serius. Belum lagi, hantaman benda keras yang menghantam kepala belakangnya. Tuan Bram harus di rawat secara intensif.''
''Apa Om Bram akan baik-baik saja?"
''Banyak-banyak berdoa."
Sebagai seorang dokter, dia sangat paham dengan isyarat itu. Dia harus siap dengan segalanya, bahkan kemungkinan terburuk sekalipun.
''Saya paham...." Hanya itu tanggapan Rayyan.
Dia memutuskan kembali ke tempatnya. Namun, baru beberapa saat dia mendudukkan diri. Seorang suster keluar dari ruangan omnya dengan wajah panik diiringi teriakan memanggil dokter.
Rayyan yang melihat hal itupun ikutan panik. Dia segera menghadang langkah suster untuk mengetahui apa yang terjadi.
''Kondisi pasien menurun drastis, Tuan.''
Pria itu menegang di tempat. Hanya kata itu yang terngiang di telinganya, tubuhnya melemas. Dia tidak siap dengan kemungkinan terburuk ini. Dia segera menerobos masuk ruangan itu tanpa memedulikan peringatan para suster yang berusaha mencegahnya.
__ADS_1
''Apa yang kalian lakukan?"