
Fania mengerjap beberapa kali karena sinar terang yang menyeruak di celah tirai kamar yang menimpa wajahnya. Entah kenapa tubuhnya terasa sangat lelah dan lemas. Berniat bangun tapi ada benda berat menimpa perutnya.
''Apa ini?"
Dia mencoba meraba benda itu, matanya terbelalak ketika mengetahui jika itu sebuah tangan pria. Dia segera berbalik, di dapatinya seorang pria tengah tertidur lelap di sisinya dengan kondisi....
''Aarrrgggg ... Siapa kamu? Apa yang telah kau lakukan? Kamu jahat!" teriaknya lantang saat mengetahui kondisi tubuh mereka seperti bayi baru lahir.
Angelo yang merasa terganggu terpaksa membuka mata meski masih terasa berat.
''Bisa tidak, kau tidak menggangguku? Aku lelah karena melayanimu sampai pagi," gerutunya dengan kesal, kemudian berbalik membelakangi wanita itu.
"Apa katamu?!"
"Dasar pria kurangaj**! Kau kira aku perempuan apa, hah!" Dia memukuli punggung kekar itu bertubi-tubi.
Air mata mengalir deras ketika mendapati kenyataan bahwa dia sudah tidak suci lagi. Sesuatu yang ia jaga mati-matian telah direnggut oleh pria tak dikenal. Kekesalannya semakin bertambah ketika pria itu hanya mengacuhkannya. Tak ingin terlalu kecewa, Fania berniat bangun dengan menarik paksa selimut yang digunakan untuk menutupi tubuh mereka. Hatinya semakin teriris kala mendapati noda merah pada sprei yang dia tempati.
__ADS_1
''Ini semua gara-gara kau!" makinya dalam hati.
Berbagai umpatan keluar begitu saja dari mulutnya. Dia benar-benar merasa seperti wanita yang haus belaian.
''Sebaiknya, aku segera pergi sebelum aku diterkam lagi sama pria sialan ini."
Baru saja hendak melangkah tapi harus terhenti lagi ketika merasakan perih luar biasa pada inti tubuhnya. Dengan tertatih dan berpegang pada setiap benda yang ditemui, Fania menuju kamar mandi yang juga berada di kamar itu. Tak lupa dia juga memungut bajunya yang teronggok mengenaskan di lantai.
Dia memekik kencang ketika tiba-tiba tubuhnya melayang dalam gendongan seseorang. Tangannya refleks mengalung pada leher pria itu.
Fania memilih memalingkan wajah ketika pria itu menatap intens kearahnya. Dia akan selalu mengingat-ingat jika wajah ini akan menjadi daftar blacklist pria idamannya.
''Kamu!" sahut Fania tidak terima.
''Apa?"
Fania mengatupkan mulutnya rapat-rapat dengan menahan kekesalan dalam dadanya.
__ADS_1
''Mandilah! Jika sudah panggil aku lagi," kata Ello dengan mendudukkan tubuh wanita itu di atas closed.
''Modus. Kau sengaja 'kan biar bisa pegang-pegang tubuhku lagi. Dasar pria hidung belang," balasnya dengan ketus
Angelo hanya bisa menahan dongkol di dalam dada saat mendengar julukan yang disematkan wanita itu. Seandainya, dia seorang pria mungkin dia sudah menghajar habis-habisan mulutnya.
''Mandilah!"
Angelo memilih keluar daripada meladeni kekesalan wanita yang telah menghabiskan malam dengannya.
Fania melempar sesuatu hingga mengenai pintu yang tertutup sebagai pelampiasan rasa kesalnya. Dia tidak peduli jika pria itu akan marah, bahkan mengamuk karena ulahnya.
Yang jelas, saat ini dia benar-benar kesal, dia benci dengan tubuhnya, dia benci hidupnya. Seandainya dia mempunyai kuku runcing dan tajam. Ingin rasanya, dia mencabik-cabik tubuh kekar itu hingga tak berbetuk, lalu melemparkan ke laut untuk dijadikan santapan para hiu di sana.
''Pria baj*ng*n!''
Tiada kata lain keluar dari mulut Fania kecuali umpatan, cacian dan makian.
__ADS_1
''Bagaimana jika aku hamil?"