Pencarian Maura

Pencarian Maura
Maafkan Mamaku


__ADS_3

Satu per satu para pelayat mulai meninggalkan tempat pemakaman yang masih tinggal hanyalah keluarga inti. Emran menatap kosong gundukan tanah basah di hadapannya. Bukan hanya sang adik, dia pun juga tak percaya jika ibunya pergi dengan cara setragis ini. Semua kenangan bersama sang ibu berkelebat dalam ingatannya.


Dulu, ibunya adalah sosok yang baik, lemah lembut, anggun dan penyayang. Sejak bisnis ayahnya semakin maju, perubahan mulai tampak dalam diri sang ibu. Rupanya pergaulan yang telah merubah segala tentang Divia. Semenjak saat itu, percekcokan antara dia dan Divia pun sering terjadi entah itu karena masalah kecil ataupun masalah besar sekalipun. Tanpa terasa setetes kristal bening membasahi pipi kala mengingat semua itu.


''Kak, aku pulang duluan. Kasihan papa, kondisinya semakin melemah," pamit Emru.


Emran hanya menanggapi dengan anggukan kecil tanpa menoleh sedikitpun.


Kondisi Raichand sempat drop karena rasa bersalah yang mendera. Pria baya itu terus menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian sang istri.


Emran tak berniat beranjak dari pusara sang ibu. Tangannya terulur mengusap papan kayu bertuliskan 'Divia Rahman Khan', meski raut wajahnya terlihat datar. Akan tetapi kesedihan mendalam tergambar jelas di matanya.


''Maafkan aku, Mam."


"Maaf, karena aku selalu menentang bahkan membentak mama. Semua itu aku lakukan semata karena aku kesal dengan perubahan sikap mama. Aku rindu mama yang dulu. Dalam bentakanku terselip setiap harapan mama sadar akan perubahan mama. Tapi ternyata—" Pria itu tak mampu lagi melanjutkan ucapannya, justru dilanjutkan tangis tergugu yang keluar dari mulutnya hingga bahunya ikut bergetar.


Tak jauh dari tempatnya berada, seorang wanita menatap nanar kesedihan pria pujaannya. Maura paham betul dengan apa yang dirasakan Emran. Bukan hal mudah mengikhlaskan kepergian seseorang yang sangat kita sayangi terlebih seorang ibu.


Perlahan namun pasti, dia berjalan lebih mendekat. Dia sempat menoleh ke belakang di mana Mira dan Rayyan berada. Seakan paham dengan isyaratnya, kedua orang itu kompak mengangguk tanda menyetujui.


Tangan Maura terulur hendak menyentuh pundak kekar itu. Namun, belum sampai pada tempatnya, dia menarik lagi uluran tangan itu karena keraguan yang masih menyelimuti.


Wanita itu mengembuskan nafas pelan. Lagi dan lagi, dia menoleh ke belakang. Tampak Mira mengepalkan tangannya kuat tanda menyemangati, sedangkan Rayyan menggerakkan tangan seperti mengusir ayam, seolah mengatakan 'cepatlah! Jangan ragu.'


Maura pun mengangguk mantap, tanpa ada keraguan lagi. Dia menyentuh pundak kekar itu.


Sebuah sentuhan lembut menghentikan Emran dari tangisnya. Dia belum menyadari jika itu Maura. Dia mengira yang melakukan hal itu adalah sang adik.

__ADS_1


''Kau pergilah, Emru! Aku masih ingin di sini," ucap Emran dengan nada datar bergetar. Sangat kentara jika dia habis menangis.


Maura tak berniat menarik uluran tangannya, justru dia mengusap lembut pundak pria itu. Matanya pun ikut berkaca-kaca melihat kesedihan Emran.


''Pergilah, Ru! Aku masih ingin di sini."


''Ini aku...."


Seketika, Emran mengalihkan pandangan saat mendengar suara lembut yang sangat dikenalnya. Dia mematung melihat kehadiran wanita yang selama ini dia rindukan.


''Ini aku ... Aku datang. Maafkan aku." Air mata Maura tak dapat dibendung lagi. Kristal bening mengalir deras membasahi pipi putihnya.


Emran tak memberi respon apapun. Dirinya masih terlalu terkejut melihat kehadiran wanita itu. Ingin mengucapkan sebuah kata, tetapi lidahnya terasa kelu.


''Marahlah, Em! Caci aku, hina aku ... Tapi jangan diamkan aku seperti ini. Aku sadar aku salah karena ikut menuduhmu tanpa bukti."


Pria itu masih bergeming di tempatnya. Karena merasa diabaikan, Maura memilih meninggalkan tempat itu. Namun, sebelum melangkah lebih jauh, tangannya ditarik kuat, hingga tubuhnya membentur dada bidang.


Tangis Emran pecah di pelukan wanita pujaannya. Refleks, tangan wanita itu mengusap lembut untuk menenangkan.


''Sudah, aku paham yang kau rasakan. Tapi sedih berkepanjangan juga tidak baik. Ikhlaskan mamamu. Jangan persulit langkahnya dengan air matamu.''


Maura menatap lembut pria itu, tangannya pun terulur menghapus sisa air mata di pipinya.


Emran pun mengangguk, kemudian seutas senyum paksa terlukis di bibirnya.


''Ada kamu, aku baik-baik saja."

__ADS_1


''Maafkan mamaku atas semua yang dia perbuat kepadamu....''


''Aku sudah memaafkannya jauh-jauh hari."


...----------------...


Nyambung gak, sih? Nyambung ya ... Sambungin ajalah. Otak lagi gak sinkron, mata juga udah berat banget🙏


Yuk mampir ke karya temanku di aplikasi ini juga....


Napen : Ayu Andila


Judul : Salah Masuk Kamar Pengantin.


Blurb.


Pengkhianatan, Kematian orang yang dia sayangi, sampai kehancuran perusahaan keluarganya membuat sosok gadis cantik bernama Amora berubah beringas.


Dendam atas kepahitan hidupnya terus mengalir dalam darahnya, hingga Amora menghabiskan hidupnya hanya dalam pertempuran dan kekuasaan.


Namun, disuatu malam. Secara tidak sengaja kakinya masuk ke dalam kamar yang membuatnya sangat terkejut, karna kamar itu adalah kamar untuk sepasang pengantin.


"Sh*it! kenapa aku masuk ke dalam sini?"


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?


Bagaimanakah reaksi Amora saat sepasang pengantin pemilik kamar itu masuk, dan membuat adegan yang berhasil menguras emosinya?

__ADS_1


Yuk, ikuti kisah Amora yang penuh dengan kejutan!



__ADS_2