Pencarian Maura

Pencarian Maura
Insiden


__ADS_3

"Emran, siapa dia?" Maura terkejut ketika melihat seorang pria tergeletak tak sadarkan diri di dalam kamarnya.


''Kau berhasil mengelabui mereka?" Bukannya langsung menjawab, justru pria itu balik bertanya.


Maura mengangguk sekilas sambil menatap intens pria yang ada di depannya.


''Siapa dia?" tanyanya sekali lagi.


''Salah satu cecunguk ayahmu. Sudahlah, jangan hiraukan dia. Segera persiapkan semua data-data penting milikmu, waktu kita tidak banyak," kata Emran terburu-buru.


''Iya, sebentar."


Maura segera mempersiapkan semua yang diminta oleh Emran, lalu menyimpannya di dalam sebuah tas kecil.


''Ini semua data diriku baik paspor, visa, dan kartu-kartu milikku ada di sini. Kau tenang saja, aku meninggalkan semua pemberian ayah demi keamanan am kelancaran rencana kita," kata Maura dengan memberikan tas tersebut.


''Bagus! Cepat ganti bajumu. Kita keluar sama-sama."


Maura mengangguk. Dia bergegas mengambil baju setelan baju yang ada di almari, kemudian bergegas ke kamar mandi.


Tak membutuhkan waktu lama, dia telah selesai dengan urusannya. Wanita itu telah siap dengan setelan hoodie dan maskernya. Dia juga menyempatkan membawa beberapa lembar baju ke dalam tas ranselnya.


''Cepatlah, Maura! Sebelum para cecunguk itu kembali ke tempatnya," seru Emran penuh kegusaran.


''Iya, aku sudah selesai. Ayo...."


Ada rasa yang sulit dijelaskan dalam hati Maura ketika hendak meninggalkan kamar pribadinya. Dia tidak menyangka akan melakukan hal senekad ini.


''Maafkan aku, Ayah," lirihnya dengan mata berkaca-kaca.


''Cepat, Maura," seru Emran lagi.


Dia telah keluar lebih dulu dengan menggendong tas ransel dan tas kecil milik wanita pujaannya. Dia sudah bersiap hendak turun melalui tali yang dia pakai tadi.


''Iya...."


Maura segera memeluk erat tubuh pria itu, menyembunyikan wajahnya dalam-dalam agar tidak ada yang melihatnya.


Keduanya belum menyadari jika di dalam sana ada kekacauan yang membuat semua orang kalang kabut.


...----------------...


''Maura, di mana kamu?"


Sesampainya di lantai atas, Bram berteriak seperti orang kesetanan, berlari ke sana kemari tak tentu arah mencari keberadaan putrinya. Pikiran kalut membuatnya tak bisa berfikir jernih, yang ada dalam pikirannya hanyalah, 'Maura harus selamat.'

__ADS_1


Dari arah belakang tampak Rayan dan Anton menyusul dengan raut penuh kekhawatiran. Pria itu memikirkan keselamatan om dan sepupunya.


''Sebaiknya, om segera keluar. Biar aku yang membawa Maura keluar dari tempat ini," bujuk Rayyan dengan nafas tersengal-sengal.


''Tidak! Aku harus mencari putriku sampai ketemu," teriak Bram menolak keras perintah keponakannya.


''Tapi, Om...."


''Diam, Rayyan! Maura adalah harta om yang paling berharga dari seluruh harta yang om miliki, bahkan aku rela menukar semua hartaku hanya untuk menyelamatkannya," hardik Bram dengan mata memerah pertanda amarah dan kekalutan telah menguasainya.


''Ray paham, Om. Tapi apa Maura tidak sedih jika sampai melihat om terluka atau terjadi sesuatu," bujuk pria itu dengan frustasi.


Rayyan merutuki sifat keras kepala omnya di situasi genting seperti ini.


Bram berlalu begitu saja mengabaikan nasehat keponakannya. Dia teringat sesuatu jika posisi terakhir putrinya berada di toilet. Pria itu segera menuju tempat yang berada di lantai yang sama.


Sesampainya di sana, Bram sangat terkejut ketika melihat pintu terbuka. Tanpa aba-aba, dia segera masuk dan mendapati seorang gadis yang dia perintah tadi tengah mencari sesuatu.


''Di mana putriku?" tanya Bram dengan sorot mata tajam.


''Saya tidak tahu, Tuan. Sungguh!"


''Aku memintamu untuk menjaganya, kenapa kau lengah?'' Suara Bram menggema di ruangan itu, hingga membuat Fani tersentak kaget.


Sungguh, dia sangat takut melihat kemarahan seorang Bramasta Haydar.


''Sialan! Tidak berguna," umpatnya pada gadis itu.


''Ma-maaf, Tuan."


Bram mengabaikan permintaan maafnya, dia bergegas menuju kamar putrinya yang terletak agak jauh dari tempat itu.


''Pergilah! Selamatkan dirimu. Di bawah terjadi kebakaran. Pergilah! Sebelum api membesar," titah Anton dengan nada lembut pada gadis malang itu.


''Maafkan sikap tuanku. Beliau selalu lupa diri jika sedang emosi. Jangan dimasukkan hati. Nanti, ku transfer lebih untuk gajimu."


''Iya, Tuan. Saya sudah biasa."


''Terima kasih, Tuan. Saya permisi," ungkap Fani sebelum berlari menyelamatkan diri.


Bram menendang kasar pintu kamar putrinya yang terkunci. Dia sangat terkejut melihat seorang pria tak sadarkan di tempat itu.


''Hei, bangun! Apa yang kau lakukan di sini?"


Bram menepuk kasar pipinya. Merasa kesal karena tidak kunjung mendapat respon, dia mengguyur segelas air ke muka pria itu.

__ADS_1


Pria itu mulai mengerjap. Netranya mulai memindai tempatnya berada.


"Di mana ini?" tanyanya sambil memegang tengkuknya yang terasa sakit.


''Di kamar putriku. Apa yang kau lakukan di sini?"


Suara berat seorang pria membuat kesadarannya pulih sempurna.


''Tuan."


''Apa yang kau lakukan di sini?" Bram berteriak mengulang pertanyaannya.


''Sa-saya tidak tau, Tuan. Terakhir kali saya ingat. Saya melintasi kamar ini diperintah Tuan Rayyan untuk mengambil sesuatu di ruang kerjanya. Setelah itu saya tidak ingat apa-apa," jawabnya menunduk ketakutan.


''Sialan! Ada penyusup di sini," geram Bram.


''Anton!"


''Anton!" Pria paruh baya itu berteriak memanggil asistennya.


''Saya, Tuan."


''Cepat cari keberadaan putriku. Ada penyusup yang membawa kabur putriku."


"Segera laksanakan, Tuan. Namun, sebelumnya kita harus keluar dari sini, Tuan. Banyak asap yang tidak baik untuk kesehatan Anda."


''Mari, Tuan."


Anton segera merangkul tuannya, sedangkan Bram hanya menurut saja.


Sesampainya mereka di area tangga, api sudah semakin besar melahap pernak pernik pesta yang notabenenya terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar. Jarak pandang mereka semakin sulit, hingga mereka harus ekstra hati-hati agar tidak terkena kobaran api.


"Hati-hati, Om," ujar Rayyan yang bertugas sebagai penunjuk jalan.


Anton semakin erat memapah tuannya. Mereka sangat berhati-hati menuruni satu per satu anak tangga. Setelah berhasil, kobaran api sudah membesar di ruangan utama. Sesekali, mereka harus menghindari barang-barang yang tergantung yang tengah dilalap api. Ketika hampir sampai pada pintu keluar, tanpa sengaja netra Bram menangkap sebuah tiang kayu yang tadi digunakan sebagai pintu penyambutan para tamu yang tengah terbakar hendak menimpa keponakannya, sedangkan Rayyan yang masih fokus mencari jalan keluar tidak menyadari hal itu.


''Rayyan, awas!"


Bram melepas paksa dekapan erat asistennya, kemudian mendorong tubuh keponakannya hingga tersungkur ke depan. Nahas, belum sempat dia menghindar tiang kayu itu lebih dulu tumbang menimpa dirinya.


''Arrrgh!"


Bukan hanya Rayyan yang terkejut, semua orang yang ada tempat itu juga berteriak histeris menyaksikan insiden itu.


''Om Bram!"

__ADS_1


__ADS_2