Pencarian Maura

Pencarian Maura
Pria Sewaan Maura


__ADS_3

''Maura, kau tidak apa-apa, Nak?''


Keesokannya, Bram mendatangi ruang kerja putrinya. Dia sangat khawatir setelah mendengar cerita dari keponakannya mengenai kedekatan putrinya dengan pria bernama Emran Khan, meskipun keduanya tak meresmikan hubungan mereka.


''Ayah kok di sini?" tanya Maura yang terkejut melihat kehadiran ayahnya.


''Ayah sangat mengkhawatirkanmu. Rayyan sudah menceritakan semuanya."


Maura menghentikan pekerjaannya, kemudian beralih menatap sang ayah.


"Aku tidak apa-apa, Yah. Mungkin, kami memang belum berjodoh," ucapnya diiringi senyum manisnya.


"Baguslah, jika pikirammu terbuka. Pria di dunia ini bukan hanya dia seorang. Suatu saat, kau akan mendapat ganti yang lebih baik dari pria itu juga keluarganya," balas Bram dengan sorot mata tajam ke depan.


Emosinya memuncak saat mengingat cerita keponakannya mengenai perlakuan Divia pada putrinya yang diketahui Rayyan.


''Maksud, Ayah?" tanya Maura yang tak memahami ucapan pria baya itu.


''Tidak apa-apa. Itu hanya harapan ayah." Bram segera mengubah ekspresi seperti semula.


''Nanti malam berangkat bersama ayah," kata Bram untuk mengalihkan topik pembicaraan.


"Enggak, deh, Yah. Aku mau mengajak Andrian."


Bram mengerutkan kening, sepertinya ada sesuatu yang dia lewatkan.


"Apa kau dekat dengannya?" tanya pria itu dengan menaik turunkan kedua alisnya.


''Apa, sih, Yah? Kita cuma temen. Ayah gak usah mikir macam-macam," rajuk Maura dengan mengerucutkan bibirnya.


Bram tergelak melihat respon putrinya.


''Ya sudah, terserah kalian saja. Asal ada yang mendampingimu. Dan...."


''Dua ajudan yang ditugaskan." Maura memotong cepat ucapan ayahnya.


Lagi-lagi, Bram tergelak, bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Ternyata putrinya sudah hafal dengan segala titahnya.


''Ya sudah, lanjutkan saja pekerjaanmu. Ayah akan kembali kantor."


Maura segera berdiri, lalu mengantar sang ayah sampai ke depan pintu.


"Ayah hati-hati di jalan. Gak usah ngebut."


''Memangnya, ayahmu ini seorang pembalap," kelakar pria baya itu.

__ADS_1


''Aku serius, Ayah. Malah diketawain." Wanita itu merajuk lagi.


''Iya-iya. Ayah gak pernah ngebut karena yang mengemudi bukan Ayah tapi sopir."


''Oh, ya, nanti ayah akan mengenalkanmu pada rekan-rekan ayah yang lain," sambung Bram.


''Tidak ada penolakan." Bram segera menginterupsi ketika melihat putrinya hendak membuka suara.


''Baiklah...."


...----------------...


''Andrian, tunggu!" panggil Maura setengah berteriak ketika melihat siluet pria yang dikenalnya.


Andrian yang merasa terpanggil pun menghentikan langkah, kemudian berbalik melihat si pemanggil. Senyumnya terkembang sempurna saat wanita yang mengganggu pikirannya selama beberapa hari belakangan menuju ke arahnya.


''Hai, Maura. Ada apa?''


''Aku ada perlu sama kamu."


"Oke, mari ngobrol di ruanganku."


Maura mengikuti langkah pria jangkung itu memasuki ruangannya.


''Aku mau mengajakmu ke pesta nanti malam. Kamu mau, 'kan?"


Pria itu tampak mengerutkan kening karena belum mengetahui hal itu.


''Pesta apa?"


''Pertunangan pria yang kita temui waktu itu."


"Emang boleh? 'Kan aku tidak diundang." Andrian tampak ragu.


''Itu bisa diatur."


''Kamu mau apa tidak?'' tanya Maura dengan tatap penuh harap.


''Kenapa kau mengajakku?" tanya Andrian dengan menyilangkan tangan dengan tubuh bersandar pada sandaran sofa.


Sorot matanya menatap lekat wanita di depannya.


''Aku hanya ingin menunjukkan pada wanita sombong itu jika aku masih baik-baik saja, bahkan lebih baik, meskipun dia sudah memisahkan aku dengan putranya."


''Jadi, kau memperalat diriku, Maura," tebaknya tepat sasaran.

__ADS_1


Maura meremas jari-jarinya gelisah, pria ini sudah mengerti tujuannya.


"Maaf," ucapnya lirih dengan kepala tertunduk.


''Oke, aku mau tapi ada harga yang harus kau bayar karena menjadikan aku pria sewaanmu."


Maura mendongak mendengarnya ucapan pria di depannya.


"Berapapun yang kau minta, aku akan memberikan sekarang juga.''


Sungguh, Andrian ingin tertawa melihat raut bersalah wanita itu. Dia hanya ingin menggodanya, tapi wanita itu malah menganggapnya serius.


''Bukan uang yang kuminta tapi ... hatimu," bisiknya tepat di telinga Maura.


''Maksdumu, aku harus...."


Andrian merespons dengan anggukan mantap. Dia semakin bersemangat mengerjai wanita itu.


"Baiklah, aku terima," ucapnya dengan pasrah.


''Apa coba?" tanya Andrian.


''Jadi kekasihmu, 'kan?" Maura meragu dengan jawabannya sendiri.


Pada saat itu pula, tawa Andrian meledak. Dia tidak menyangka Maura benar-benar menganggap serius godaannya.


''Kenapa tertawa? Apa aku melawak?"


''Maura-Maura, kau itu polos sekali. Aku tidak serius kali. Aku hanya bercanda," kata Andrian masih dengan sisa tawanya.


Maura terbelalak, dia baru menyadari jika telah dikerjai oleh pria ini.


''Kamu usil banget sih," ucapnya sembari melayangkan pukulan bertubi pada lengan kekar itu.


Andrian yang tak siap pun hanya bisa pasrah menerima tepukan keras tangan lembut Maura, meski harus menahan rasa panas pada lengannya.


''Ampun, Ra, ampun. Sakit tanganku." Andrian mengaduh kesakitan.


Maura menghentikan tindakannya dengan nafas terengah-engah. Dai masih merasa kesal dengan pria itu.


"Nyebelin!"


''Iya-iya, nanti aku mau nemenin kamu, gratis. Udah gak usah ngambek."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2