
Seorang wanita berpakaian seksi berjalan berlenggak-lenggok memasuki lobby rumah sakit dengan gaya angkuhnya. Pakaian super ketat mampu menghipnotis setiap pasang mata yang dia jumpa, terutama mata lapar kaum adam.
Sesampainya di ruangan yang dituju, dia menyerobot masuk begitu saja tanpa mengindahkan larangan suster yang berjaga.
''Maaf, Nona. Jika Anda ingin periksa harap mengantre terlebih dulu seperti yang lainnya. Tidak bisa asal serobot begitu saja."
Sontak, Shita langsung menatap tajam wanita berseragam putih itu.
''Apa kau tidak mengenaliku? Berani-beraninya, kau melarangku," ucapnya menahan geram dengan menurunkan sedikit kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya.
''Siapapun Anda, saya tidak peduli. Anda tetap harus mengantre sesuai urutan." Suster itu masih bersikeras.
''Apa perbuatanmu ingin ku laporkan ke Mama Divia, karena telah menghalangi calon menantunya bertemu dengan calon suaminya," ucap Shita dengan nada pelan penuh penekanan.
Mendengar hal itu, si suster tak bisa menutupi rasa terkejutnya. Dia segera menyingkir membiarkan wanita itu masuk ke ruang atasannya. Bagaimana pun juga dia tidak ingin terkena masalah serius ke depannya.
''Dari tadi kek."
Shita melenggang masuk dengan menyenggol kasar bahu wanita berseragam putih tersebut.
"Sabar hanya bawahan," gumamnya sambil mengusap dada.
...----------------...
"Hai, Calon Suami," sapa Shita dengan suara mendayu-dayu.
''Siapa yang menyuruhmu masuk kemari?" tanya Emran dengan tatapan menghunus.
''Tidak ada. Apa aku tidak boleh menemui calon suamiku sendiri?"
Shita menjatuhkan bobot tubuhnya di hadapan Emran dengan memperlihatkan pah* mulusnya di balik mini dres yang dia kenakan, bahkan wanita itu juga mengabaikan keberadaan pasien yang tengah mengadakan sesi konsul pada Emran.
''Jaga sikapmu, Shita! Aku sedang bekerja dan ada pasienku di sini," geram Emran dengan nada berbisik.
''Memangnya kenapa?" tanya Shita dengan manja.
''Apa kalian terganggu dengan keberadaanku? Aku ini calon istri Dokter Emran, lho." Shita beralih bertanya pada dua orang yang duduk di seberang Emran.
''Ti-tidak. S-silahkan dilanjut. Ka-kalau begitu, kami permisi dulu. Maaf, jika mengganggu," jawab seorang pria dengan gugup karena melihat body aduhai yang terpampang di hadapannya.
''Terima kasih atas pengertiannya," balas Shita dengan senyum manisnya.
Tampak istri dari pria itu segera menarik paksa tangan suaminya keluar ruangan dengan menahan kesal.
''Sekarang kau puas! Karena telah mengusir pasienku tanpa tau bagaimana keadaannya," sentak Emran.
"Aku hanya ingin dekat denganmu, Em. Apa itu salah? Kita bertunangan dari seminggu yang lalu. Baik kau maupun aku, belum saling mengenal satu sama lain," rengeknya dengan bergelayut manja pada lengan pria itu.
''Lepas! Aku paling benci diganggu saat bekerja seperti ini," hardik pria dingin itu dengan menarik paksa lengannya.
__ADS_1
''Oke, aku minta maaf. Aku sudah menganggu pekerjaanmu. Aku hanya ingin dekat denganmu karena sebentar lagi kita akan menikah."
''Lagipula, aku kemari atas permintaan Tante Divia untuk mengajakmu jalan-jalan," sambung wanita itu dengan mengkambing hitamkan calon ibu mertua untuk mencapai tujuannya.
Emran memicing tajam, rasanya sulit dipercaya mendengar ucapan wanita itu.
''Kenapa kau menatapku seperti itu. Kalau kau tidak percaya, kau bisa menghubungi mamamu. Apa perlu aku yang menghubunginya di hadapanmu, saat ini juga?"
''Tidak perlu!" sahut Emran cepat.
Sangat masuk akal jika ibunya seperti itu. Karena memang belakangan ini ibunya begitu berambisi untuk mendekatkan putra-putranya dengan tunangan masing-masing.
''Bagaimana, Emran? Apa kau mau keluar denganku?"
''Baiklah, tapi tidak lebih dari jam makan siang."
''Oke," sambutnya riang
...----------------...
Bunga segar untuk wajahmu yang berseri-seri setiap pagi.
Rasa manis coklat ini tak sebanding dengan senyummu yang selalu membekas di ingatanku
Maura mengernyitkan saat membaca dua buah note yang terselip diantara bunga dan coklat yang ada di meja kerjanya.
Sewaktu memasuki ruangan, Maura sudah mendapati dua buah benda itu tetap rapi di atas meja.
Hanya membayangkan saja senyumnya terkembang sempurna. Dia memeluk sebuket bunga mawar segar itu, lalu mencium harumnya.
''Pria dinginku, so sweet banget sih," gumamnya masih dengan mendekap buket bunga itu.
Maura segera merogoh ponsel yang berada di dalam tasnya. Dia mengernyit ketika melihat ada beberapa pesan yang dikirimkan semalam oleh Emran, yang belum sempat dia baca.
[Lain kali bertemu lagi]
[Good night, My Sweety. Bawa aku dalam mimpimu]
[Aku mengirimkan sesuatu, kau pasti suka]
Senyum wanita semakin terkembang sempurna. Dugaannya tidaklah salah, pria dinginnya yang mengirim semua ini untuknya.
Tanpa ia sadari, ada seorang pria yang mengintipnya dari luar ruangan. Hatinya menghangat ketika Maura bahagia menerima pemberian darinya. Melihat reaksi wanita pujaannya, dia tidak tahan untuk tidak menyapa. Akhirnya, dia memutuskan untuk memasuki ruangan itu.
''Kau menyukainya, Ra."
Senyum manis Maura perlahan memudar saat melihat seorang pria memasuki ruangannya.
Maura tersenyum kikuk menanggapi pertanyaan pria itu.
__ADS_1
''Awalnya aku takut jika kau tidak menyukai atau alergi. Ternyata tidak, terima kasih telah menghargai pemberianku."
DEG!
"Pem-pem-beri-an-mu?"
Pria itu mengangguk mantap.
''Ja-jadi ke-ke-duanya i-ini darimu?" tanya Maura dengan menunjukan dua buah benda yang ada di tangannya.
''Iya, Maura."
''Oh, ya ... Aku punya satu kejutan lagi."
''Tara!" Andrian menunjukkan dua buah tiket film yang sedari tadi dia sembunyikan di balik punggung.
''Aku mau mengajakmu nonton. Kamu mau, 'kan?" Andrian menatap Maura dengan binar penuh harap.
Maura hanya tersenyum kecut. Dia kira ini semua dari Emran ternyata....
''Lalu, di mana kiriman Emran? Apa yang dia kirim?" batinnya bertanya-tanya.
''Kamu yang meletakkan ini di sini?"
''Iya."
''Apa kamu melihat sesuatu atau benda lain, gitu. Di atas meja?" tanya Maura lagi.
''Ada berkas-berkas yang tertumpuk rapi," jawab Andrian dengan tampang polosnya.
''Apa kau mencari sesuatu, Ra?" Andrian balik bertanya.
''Eh, ti-tidak. Emm ... I-iya. Aku sempat belanja online dan aku menuliskan alamat rumah sakit ini. Ku kira sudah datang paketnya." Maura beralasan.
''Aku tidak melihat apa-apa selain berkas-berkasmu, Ra. Suwer!"
'' Ya sudah, mungkin nanti datangnya," ujar Maura dengan lesu.
''Pasti dia mencari kiriman itu. Untung aku sudah membereskannya. Maaf jika caraku sedikit licik untuk mendapatkanmu, Maura," lirih Andrian dalam hati.
Dia teringat peristiwa beberapa waktu yang lalu ketika dia melintas di koridor rumah sakit. Seorang security menghampiri dengan membawa sebuah boneka besar yang ditujukan kepada Maura. Dia sempat melihat nama pengirimnya, ternyata dari rivalnya.
Dia segera membuang nama pengirim itu, lalu memberikan boneka tersebut pada seorang gadis kecil yang ada di dekatnya.
''Bagaimana mau 'kan nonton sama aku?'' Andrian mengulangi ajakannya.
''Aku sudah meminta izin pada Tuan Bram. Beliau sudah mengizinkanmu."
Maura menghela nafas pasrah. "Baiklah...."
__ADS_1