
''Pap, mama tidak langsung pulang. Mama ingin menjenguk teman mama yang diopname di Rumah Sakit Citra Medika," ucap Divia melalui sambungan telepon.
''Oke, Mam. Hati-hati."
Panggilan berakhir, bertepatan pula mobil yang dia tumpangi berhenti di depan lobby rumah sakit. Seorang sopir segera turun, kemudian membukakan pintu untuk sang majikan.
Divia berjalan santai dengan memainkan ponsel di tangannya. Akan tetapi ketika berada di sebuah lorong, netranya seperti menangkap sosok yang sangat dia kenal. Dia memutuskan mendekati orang itu untuk memastikan.
"Ooo, jadi kau pindah kemari rupanya." Suara Divia berhasil mengalihkan perhatian Maura yang tengah memberi pengarahan pada seorang perawat.
Melihat kedatangan wanita itu, Maura segera meminta suster untuk meninggalkan mereka berdua. Dia tidak ingin pertikaiannya dengan Divia ditonton banyak orang disini.
''Sus, kita lanjutkan lagi. Saya ada tamu penting."
''Baik, Dok. Permisi...."
Kini, tinggallah dua orang wanita beda usia yang ada di lorong itu. Salah seorang dari mereka tampak menatap penuh kebencian, sedangkan seorang lagi berusaha menampilkan senyum lembutnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Maura penuh kesopanan.
''Hmm, lumayan juga, kau bisa diterima bekerja di rumah sakit semewah ini. Kau diterima di sini karena otakmu atau tubuhmu." Divia menatap sinis wanita muda di depannya.
Maura masih berusaha menampilkan senyum terbaiknya, meski hatinya terasa sakit mendengar perkataan pedas wanita itu.
''Bukankah ini lebih baik, Nyonya? Saya benar-benar menjauhi putra Anda. Dan Anda bisa dengan leluasa mendekatkan putra Anda dengan wanita manapun sesuai kriteria Anda," ucap Maura masih dengan kesopanannya.
Emosi Divia langsung memuncak mendengarnya penuturan Maura. Menurutnya, wanita ini sudah mulai berani padanya.
''Beraninya kau berkata seperti itu kepadaku!" Divia menunjuk tepat di wajah Maura.
''Kau belum tau siapa aku? Aku bahkan bisa membuatmu dipecat dari tempat ini, saat ini juga," geramnya.
Maura menggleng pelan pada kedua ajudannya ketika netranya menangkap keduanya berniat menghampiri mereka.
''Jika Anda melakukan itu. Banyak kemungkinan saya mempunyai peluang untuk kembali ke tempat kerja saya yang dulu. Dan itu Artinya...."
"Diam kau, Wanita Murahan!" Suara Divia menggema di lorong itu.
Beruntung tidak ada orang yang melewati tempat itu.
''Pelankan suara Anda, Nyonya! Jangan sampai didengar oleh security yang berjaga. Bisa jadi, Anda akan diseret keluar karena menggangu ketenangan rumah sakit," ujar Maura tanpa memudarkan senyumnya.
Divia benar-benar emosi. Dia memilih meninggalkan tempat itu tanpa sepatah kata pun dengan membawa bongkahan kesal dalam hatinya.
Maura menghembuskan nafas lega melihat kepergian ibu dari pria pujaannya. Jantungnya masih berdegup kencang setiap kali berhadapan dengan wanita itu. Namun, kali ini dia tidak ingin terlihat lemah. Dia akan melawan dengan seluruh kemampuannya.
''Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya salah seorang ajudan.
''Aku tidak apa-apa, kalian jangan khawatir hanya masalah kecil."
''Apa perlu kami membalas wanita itu, Nona?" tanya ajudan satunya lagi.
Maura terkesiap mendengar pertanyaan itu. "Tidak perlu. Jangan lakukan apapun padanya! Dia tidak menyakiti fisikku hanya ucapannya saja yang menyakitkan. Aku sudah biasa," sahutnya cepat.
__ADS_1
''Lebih baik, sekarang kalian kembali ke tempat kalian sebelum ada yang melihat," titah Maura pada kedua ajudannya.
''Baik, Nona."
"Ada apa, Ra? Siapa wanita yang bersamamu tadi?" tanya Andrian yang tiba-tiba berada di belakang gadis itu.
''Eh, kamu melihatnya?" tanya Maura balik dengan rasa terkejutnya.
Andrian mengangguk.
''Kamu juga mendengar semuanya?" Maura bertanya lagi.
Respon yang sama yang ditunjukkan Andrian.
Maura menghela nafas. "Dia ibu dari pria yang kita temui di pantai waktu itu.''
...----------------...
''Aku harus mempercepat acara pertunangan Emran dan Emru. Sebelum mereka berubah pikiran. Sepertinya, mereka sudah cocok dengan pilihan mereka," gumam Divia.
Kini, wanita baya itu sudah berada di perjalanan pulang. Tangannya segera meraih ponsel yang berada di dalam tas, kemudian menghubungi seseorang.
''Hallo, hari ini kamu ikut aku menemui Emran ke rumah sakit. Langsung ke sana saja, aku sedang perjalanan ke sana," ucap Divia ketika panggilannya terhubung.
''Ya, aku tunggu, secepatnya!"
Panggilan pun berakhir.
"Pak, putar haluan ke rumah sakit. Saya ingin menemui Emran." Divia ganti memerintah sopirnya.
Tiga puluh menit kemudian, Wanita baya itu sudah ada berada di tempat tujuan. Di depan lobby tampak seorang wanita muda sudah menunggu kedatangannya.
''Sudah lama menunggu." Divia menyambut ramah wanita itu, tak lupa saling mencium pipi kanan dan kiri bergantian.
''Belum, Tan. Baru sepuluh menitan," ucap Wanita itu dengan nada lembut.
''Sudah siap bertemu calon suamimu?"
''Sudah, dong...."
''Yuk, masuk." Divia menggandeng wanita itu memasuki rumah sakit menuju ruang kerja putranya.
...----------------...
''Emran, mama membawa seseorang." Divia menyerobot masuk begitu saja memasuki ruang kerja putra sulungnya.
"Apa mama tidak bisa mengetuk pintu? Sebelum masuk ke ruangan orang," kata Emran dengan wajah dinginnya.
Dia menatap malas dua wanita yang ada di depannya.
''Mama bukan bawahanmu. Jadi, untuk apa mama harus mengetuk pintu?" tanya Divia dengan nada angkuhnya.
"Mau apa mama kemari?"
__ADS_1
''Mama kemari bersama calon istrimu, sekaligus memberitahukan bahwa acara pertunangan kalian akan diadakan dua hari lagi," kata Divia dengan santainya.
"Apa?!''
Bukan hanya Emran yang merasa terkejut, melainkan gadis yang bersama Divia. Pasalnya, wanita itu tak memberitahu apapun sebelumnya mengenai hal ini.
''Kenapa? Bukankah ini berita bahagia?" Mutia bertanya pada keduanya.
"Kejutan, yeay...," teriak Divia dengan bertepuk tangan kecil.
Namun, dua orang di hadapannya hanya menatap aneh wanita itu, terlebih Emran. Baginya, ini bukanlah hal yang menarik sama sekali apalagi mengejutkan. Tatapannya semakin dingin kepada ibunya.
''Secepat itu. Apa tante serius? Tante gak berniat nge-prank, 'kan?" tanya gadis itu.
"Hei, Nona Manis. Apa wajah tante ini terlihat bercanda?" Divia balik bertanya pada gadis itu.
"Jadi...." Dia berucap dengan mata berbinar, seulas senyum merekah terbit dari bibir berwarna terang itu.
Divia menganngguk mantap mengiyakan.
"Aaakh, terima kasih, Tante," teriak gadis itu langsung menghambur memeluk Divia, "akhirnya, aku akan menjadi menantu tante."
''Aku seneng banget. Pasti mama sama papa bahagia mendengar kabar ini," ucapnya setelah melerai pelukannya.
''Segera kabari orang tuamu! Suruh mereka terbang ke sini secepatnya," kata Divia dengan menyentuh dagu gadis itu.
''Pasti, Tante," serunya riang.
"Apa rencana mama?" Pertanyaan Emran mengalihkan rasa bahagia dua wanita itu.
''Emm, Shita. Sebaiknya, kau hubungi orang tuamu sekarang saja. Tante ada perlu berdua dengan Emran."
Melihat gelagat aneh dari putranya, Divia segera mengusir halus gadis yang bersamanya.
''Oke, Tan."
''Apa rencana mama?" Emran mengulang pertanyaannya setelah kepergian gadis itu.
''Tidak ada. Mama hanya ingin menyegerakan niat baik."
''Mama tidak pandai berbohong denganku. Mungkin jika itu Emru, dia akan mudah percaya. Tapi tidak denganku," geram Emran.
Divia tersenyum lembut di hadapan putranya, sebuah senyum yang menyimpan maksud terselubung.
"Apa kau berusaha menolak, Sayang?''
Emran hanya diam menanggapi, enggan meladeni ibunya.
''Ingat, Kak. Ancaman mama waktu itu masih berlaku." Divia menyerang titik kelemahan putranya.
Emran mengepalkan tangannya kuat. Dia benci situasi ini. Jika dia tidak segera bertindak maka ibunya akan semakin semena-mena kepadanya.
''Pikirkan baik-baik, Kak. Karena mama tidak menerima penolakan," ucap wanita itu sebelum menghilang di balik pintu.
__ADS_1
"Ya, aku harus melakukan sesuatu. Aku harus bertemu Maura."