Pencarian Maura

Pencarian Maura
Menanti Kabar


__ADS_3

Seorang pemuda menatap nanar tubuh pria paruh baya yang terbaring lemah di hadapannya. Dia takkan pernah memaafkan dirinya jika sampai terjadi sesuatu dengan pria itu.


''Bangun, Om. Hanya om yang aku punya saat ini," ucapnya lirih.


''Om harus bertahan. Bukankah om ingin bertemu dengan anak istri om?''


''Sadarlah, Om! Demi mereka."


Pemuda itu terus mengajak berbicara pria yang dipanggil 'Om', meski tak pernah mendapat jawaban. Karena dia yakin, Bram pasti mendengar suaranya.


''Aku sudah mendapat laporan dari Anton. Dia berhasil menemukan pelakunya. Apa Om tidak ingin menghukum orang itu?"


''Kita akan menghukumnya sama-sama."


''Dan satu lagi, Anton melapor padaku. Seorang wanita muda datang ke kantor mencari Om. Dia mengaku putri om. Apa Om tidak ingin menemuinya?"


Pemuda itu merasa putus asa, karena sedari tadi tak ada respon apapun dari Bram. Tiga hari sudah pasca operasi, tapi pria itu masih setia memejamkan mata. Dokter berpesan agar terus mengajak Bram bicara dan memberi semangat untuk memancing kesadarannya.


Tanpa di sadari, monitor yang terhubung dengan tubuh Bram mengalami peningkatan denyut nadi. Jari telunjuknya tampak menunjukkan pergerakan kecil. Dan hal itu di tangkap oleh penglihatan pemuda yang ada bersamanya.


''Akhirnya...." Dia segera memencet tombol yang ada di sisi ranjang.


Bersamaan dengan itu, ponsel pemuda itu berdering. Dia segera keluar untuk mengangkat telpon, tak lupa berpesan pada Sonia untuk menjaga omnya.


''Tuan, Anda sadar," ucap Sonia di iringi senyum cerah ketika melihat jari-jari tangan atasannya bergerak-gerak.


Baru saja, Sonia hendak memencet tombol darurat. Maura datang bersama seorang suster untuk memeriksa kondisi pria baya itu.


''Bagaimana kondisinya, Dok?"


''Kondisi Tuan Bram menunjukkan kemajuan yang signifikan."


Sonia menghembuskan nafas lega, ucapan syukur tak henti-hentinya terucap dari bibir wanita berusia tiga puluh tahun itu. Dia menganggap Bram bukan hanya sekedar atasan, melainkan seperti sosok ayah baginya.


''Tolong, jaga emosi beliau. Jangan bicarakan hal-hal berat terlebih dahulu dengannya."


''Jika keadaannya beberapa jam lagi semakin membaik. Tuan Bram bisa di pindah ke ruang rawat." Maura berpesan sebelum meninggal tempat itu.

__ADS_1


"Maura."


Langkah Maura terhenti di ambang pintu ketika mendengar suara lemah memanggilnya. Dia merasa de javu pada peristiwa beberapa bulan lalu. Suara lemah ibunya terngiang jelas di telinganya.


''Maura...." Lagi dan lagi, Bram menyebut nama itu.


''S-siapa yang dia sebut?" tanya Maura dengan terbata.


''Itu nama putrinya, Dok."


Maura mematung di tempat, kenapa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Tapi, dia segera menepis kasar segala prasangka itu.


''Tidak mungkin dia orangnya. Ayah berada di luar kota. Lagipula, orang itu belum menghubungiku sama sekali.''


''Kenapa ya, Dok?"


Suara Sonia menarik kesadaran wanita itu dari lamunannya.


''Ti-tidak, hanya sedikit terkejut karena namanya sama."


...----------------...


Berulang kali, Maura mengecek ponsel. Berharap ada kabar dari pria yang di temuinya beberapa waktu lalu. Tapi nihil, tidak ada pesan ataupun telpon kecuali notifikasi dari platform jual-beli online yang menawarkan berbagai macam diskon di aplikasinya.


''Padahal sudah hampir seminggu, kenapa belum ada kabar sama sekali."


Dia menyandarkan tubuhnya di sebuah bangku taman rumah sakit. Memejamkan mata sejenak untuk mengurai segala beban pikiran yang membuat kepalanya pening.


''Ehem!"


Wanita itu membuka mata saat mendengar deheman keras dari arah samping. Betapa terkejutnya ia, seorang pria berdiri tegak memperhatikan intens kearahnya.


''Em-Emran."


Maura sudah mengambil ancang-ancang hendak pergi dari sana tapi tangan besar Emran segera mencekal lengannya.


''Dokter, lepas saya ada....''

__ADS_1


''Ada pasien darurat, ada janji dengan Rayyan atau sedang di tunggu Mira." Pria bermanik hitam itu menyela ucapannya dengan cepat.


"Katakan! Alasan apalagi yang akan berikan untuk menghindari ku, Maura."


Maura hanya menggigit bibir bawahnya, Emran sudah hafal dengan semua alasannya.


''Katakan! Kenapa sampai detik ini kau masih menghindar dariku?" tanya Emran dengan sorot mata semakin dingin.


''Ti-tidak ada alasan. A-aku hanya i-ingin bersikap layaknya pim-pimpinan dan bawahan, Dokter," jawab Maura dengan kepala tertunduk.


''Dari sikapmu sangat jelas kau tengah membohongiku, Maura. Aku tidak terima kau hindari seperti ini. Apa kau sudah ada pria lain?"


Maura memberanikan diri menatap mata tajam itu.


''Harus berapa kali ku katakan, jika aku tidak tertarik menjalin hubungan dengan siapapun untuk saat ini. Karena urusanku lebih penting dari sekedar percintaan. Paham!" Gadis itu berkata dengan penuh penekanan.


''Kau sendiri tau, 'kan tujuanku yang lain ada di kota ini. Aku ingin fokus dengan tujuanku. Dan itu alasanku menghindari mu, PUAS!"


Maura menarik kasar lengannya, lalu melenggang pergi begitu saja tanpa memedulikan Emran yang berada di belakangnya.


''Bagaimana rasanya di tolak, Dokter Emran? Sakit bukan? Pastinya sakit sekali. Dada ini bagaikan di sayat pisau tak kasat mata."


Rayyan muncul dari arah belakang dengan senyum meremehkan, bahkan dia mendramatisir kalimat terakhirnya agar Emran semakin panas..


''Dia memang mempunyai tujuan lain. Tapi entah kenapa hubungan ku dengan Maura malah semakin dekat?" Rayyan menautkan kedua telunjuknya, "sedangkan denganmu, semakin renggang." Pria itu memberi jarak pada kedua telunjuknya setelah mengatakan itu.


''Menurutku sih, ada sesuatu di balik sesuatu. Sehingga, Maura sebegitu kerasnya menjauhimu. Kalau aku menjadi dirimu, Dokter Emran. Aku akan menyelidiki penyebabnya bukan fokus mencecar Maura untuk mengaku. Percuma, wanita itu tidak akan mengaku."


Emran menatap tajam rivalnya yang sok angkuh ini. Tangannya terkepal kuat, ingin rasanya dia memberi bogem mentah ke wajah menyebalkan itu. Namun, di tahan karena tak ingin merusak reputasinya sebagai pimpinan tertinggi di rumah sakit ini.


''Bisa jadi, ada yang menekan bahkan mengancamnya untuk menjauhimu," bisik Rayyan sebelum pergi meninggalkan pria dingin itu.


''Awas kau, Rayyan!" geram Emran.


''Apa aku harus menuruti saran pria itu? Banyak kejadian yang tak ku ketahui selama sebulan kepergian ku." Emran bermonolog ketika teringat ucapan Rayyan tadi.


''Pasti ada yang tidak beres. Aku harus menyelidikinya," gumamnya mantap.

__ADS_1


__ADS_2