
''Pak, tolong dipercepat," pinta Maura pada sopir taksi yang membawa mereka menuju kediaman orang tuanya.
Sedari tadi wanita itu terus bergerak gelisah dengan sesekali melirik arloji di tangannya.
''Tenanglah, Ra. Kita pasti sampai tepat waktu." Emran berusaha menenangkan wanita itu.
Ada seberkas rasa bersalah menelusup ke dalam hatinya. Seandainya, dia tidak melakukan hal konyol ini, pasti semuanya tak akan terjadi. Mungkin, ini teguran langsung dari Tuhan atas niat buruknya.
''Berhenti di sini saja, Pak," titah Maura ketika mereka sampai gang ujung kompleks perumahannya.
Setelah taksi berhenti sempurna, wanita itu segera berlari menuju tempat tinggalnya yang hanya berjarak beberapa ratus meter saja. Bukan tanpa alasan dia meminta berhenti di sana. Dia takut, terjebak macet dengan mobil para pelayat.
Maura merasa aneh dengan jalanan yang dilalui. Semakin dekat dengan rumah jalanan semakin lengang, tidak ada satu pun mobil yang terparkir di bahu jalan ataupun keramaian seperti tempat berduka pada umumnya. Keheranannya semakin menjadi ketika tidak mendapati bendera kuning terpasang pada pintu masuk sebagai lambang duka cita.
''Apa berita semalam juga termasuk hoax?"q batinnya bertanya-tanya.
Keanehan semakin terasa ketika suasana sekitar rumah tampak sepi, di pos penjagaan juga tidak ada satu orang pun yang berjaga, baik security maupun para anak buah ayahnya. Seketika, berbagai pertanyaan melintas dalam benaknya.
__ADS_1
''Apa yang terjadi?''
"Kenapa rumah ayah jadi seperti ini?"
''Berarti berita yang aku dengar kemarin sore...."
''Tidak!'' teriaknya dengan histeris.
Kakinya terduduk lemas ketika melihat kondisi rumah yang jauh dari kata rapi, banyak puing-puing hitam berserakan di mana-mana. Air mata mengalir deras tanpa bisa dicegah. Seketika, rasa sesal akan kebodohan kemarin menyeruak dalam hatinya.
''Kamu bodoh, Maura! Kenapa kau pergi dari acara kemarin?"
''Ayah, maafkan aku...," jeritnya terdengar begitu pilu.
Emran pun menunjukkan reaksi yang sama ketika sampai di tempat itu. Rumah yang sebelumnya tampak megah dan mewah. Kini, tak ubahnya seperti gedung terbengkalai yang di tinggalkan berpuluh-puluh tahun oleh pemiliknya. Terjadi kerusakan di beberapa bagian, hampir delapan puluh persen bagian rumah itu menghitam. Hanya lantai dua yang tak tersentuh si jago merah, itupun hanya sebagian. Sisanya habis tak bersisa.
Pandangan yang teramat menyakitkan baginya adalah ketika mendengar jeritan pilu sang pujaan di depan bangunan itu. Dengan langkah pelan, Emran melangkah mendekati Maura yang masih tergugu dalam tangisnya.
__ADS_1
''Ra...," panggilnya pelan.
''Em, ini ... ini...." Maura menunjuk bangunan yang ada di depannya.
Tanpa banyak bicara, pria itu segera mendekap tubuh mungil wanita pujaannya dengan sangat erat. Hatinya teriris mendengar isak tangis yang menyayat hati.
''Di mana ayahku, Em?" tanyanya dengan suara parau.
''Apa yang terjadi? Kemarin masih baik-baik saja, 'kan? Kenapa sekarang....'' Tenggorokan Maura tercekat tak mampu melanjutkan ucapannya. Dia semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang pria itu.
''Tenanglah, Ra. Kita cari sama-sama di mana keberadaan ayahmu. Banyak media online yang memberitakan kematian ayahmu. Itu akan sangat membantu kita."
''Aku hubungi Rayyan dulu, pasti sekarang dia bersama ayahmu," sambungnya lagi.
''Tapi, Em...."
''Kita hadapi sama-sama. Jangan takut! Aku akan selalu bersamamu,'' selanya cepat.
__ADS_1
Dia sangat paham akan ketakutan gadis itu, dan dia akan bertanggungjawab. Biar bagaimanapun, dia yang membawa Maura dalam masalah ini.
''Baiklah....''