
Suasana ballroom sebuah hotel bintang lima tampak sangat meriah dengan desain futuristik yang sengaja di pilih oleh Emran.
Dekorasi pernikahan modern yang terbilang cukup unik dengan tampilan yang berbeda karena memiliki ciri khas tampilan warna neon, seperti warna biru neon, merah muda neon, hijau neon. Yang memiliki ciri khas pencahayaan dibuat agak temaram. Pada pintu masuk terdapat rangkaian bunga atau daun yang berbentuk gapura dengan tiang di sisi kanan kiri pintu.** (www.orami.co.id)
Para tamu yang hadir dibuat berdecak kagum dengan tema yang dipilih karena berbeda dari pernikahan pada umumnya. Menurut mereka pernikahan ini terkesan epic dan eksentrik. Belum lagi musik slow yang memenuhi ruangan itu semakin menambah hangat suasana.
Tak jauh dari pandangan mereka terdapat dekorasi pelaminan yang sangat elegan dan mewah. Pemilihan warna dari palet cerah melahirkan gaya pop dan edgy di panggung pelaminan tersebut. Dekorasi yang tidak terlalu ramai dengan pemilihan kursi yang sederhana, menonjolkan aura modern dan fresh pada seisi panggung. ** (www. beutynesia.id)
Tampaknya Emran tak tanggung-tanggung menyiapkan pesta pernikahannya. Baginya ini adalah wujud rasa syukur dan bahagia karena telah berhasil mewujudkan impiannya untuk bersatu dengan sang pujaan hati.
Meninggalkan kemewahan tempat acara, di sebuah kamar hotel, Maura tampak anggun dengan gaun pengantin persilangan kebaya penuh pada bagian atas dengan bawahan ballgown berwarna baby blue membalut sempurna tubuhnya, riasan wajah yang tidak berlebih semakin membuat penampilannya terkesan menawan. Seutas senyum manis tak pernah pudar dari bibirnya, kemudian setitik air mata terjatuh ketika mengingat perjalanan yang ia lalui untuk bisa sampai pada titik ini.
Wanita itu terkesiap ketika sebuah tangan tangan kekar menyeka lembut permukaan pipinya.
"Ada apa? Apa yang membuatmu menangis di hari bahagia kita?" tanya Emran penuh kelembutan.
Maura segera meraih tisu, lalu menyeka hati-hati air mata yang mengenang di pelupuk mata.
''Tidak ada, aku terharu. Dulu, aku selalu berfikir jika aku tidak akan pernah bisa bersanding denganmu. Sekarang ... semua seperti mimpi bagiku. Berulang kali, aku bertanya pada hatiku, mimpikah ini? Jika mimpi tolong bangunkan aku. Aku tidak ingin terlalu larut di dalamnya. Tapi, jika ini nyata, tolong hadirkan sosoknya di hadapanku. Dan buktinya...." Dia menunjuk sosok pria yang berdiri tegak di hadapannya.
"Aku ada di depanmu, sentuh aku agar kau yakin jika ini nyata." Emran merentangkan kedua tangannya.
''Iya, aku percaya, Pria Dinginku," sahut Maura dengan mencubit gemas kedua pipi suaminya.
''Sakit, Maura. Kenapa sejak menikah kau senang sekali mencubitku," sungut Emran.
''Karena aku gemas."
Suasana romantis mereka terhenti ketika kedua orang tua angkat Maura datang menghampiri.
''Maura, putri bunda terlihat cantik malam ini," puji Yunita, raut kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya, bahkan sampai memutar tubuh putri angkatnya.
''Kau mirip seorang ratu." Mahesa ikut memuji.
''Karena dia memang ratu di hati dan hidupku, Ayah," sahut Emran dengan menatap lekat istrinya.
__ADS_1
Seketika, wajah wanita itu memerah semerah tomat. Maura menunduk dalam untuk menyembunyikannya.
''Putri kita malu, Yah," goda Yunita.
''Sudahlah, Bun. Jangan buat wajahnya semakin merah. Nanti, riasan wajahnya tidak kelihatan."
Semua tergelak mendengar perkataan Mahesa, sedangkan Maura hanya mengerucutkan bibirnya.
''Ra, akhirnya loe laku juga," teriak seorang pria berjas yang tiba-tiba memasuki kamar itu.
Tanpa memedulikan keberadaan Emran, dengan santainya Alvaro memeluk tubuh sahabatnya. Sontak, Emran langsung mengetatkan rahang melihat hal itu. Tangannya pun ikut terkepal kuat ketika merasakan panas di sekujur tubuhnya.
''Al, lepas. Jangan seperti ini," bisik Maura yang berada dalam dekapan sahabatnya.
''Kenapa loe gak mau peluk-peluk gue lagi? Sombong ... Mentang-mentang udah tajir," cibir pria itu.
''Bukan begitu, aduh ... Urusannya lebih gawat dari ini, Al." Maura tampak gusar saat mendapati mimik berbeda dari wajah suaminya.
''Kenapa sih, Ra?" tanya Alvaro yang masih belum memahaminya maksud sahabatnya.
''Oo, bunda kepanasan? Ac-nya nyala loh, Bun," jawab Alvaro dengan tampang polosnya.
''Yah, bunda pengen getok kepala orang sampai benjol. Tangan bunda gatal, Yah."
''Sudahlah, Bun. Gak usah diladenin. Nanti tensi darah bunda naik lagi." Mahesa mencoba menasehati sang istri.
''Sebaiknya kita keluar, jika kita di sini terus nanti yang ada acara tidak segera dimulai karena kita merecoki pengantinnya," ajak Mahesa setengah memaksa pada istri dan sahabat putrinya.
Mau tak mau, Alvaro mengikuti perintah pria baya itu meskipun dia masih ingin melepas rindu bersama sang sahabat.
Emran masih mempertahankan wajah tidak bersahabat selepas kepergian ketiga orang itu. Rasa kesal masih bersarang di dalam dada. Dia paling tidak tahan jika miliknya terlihat bersama apalagi sampai disentuh pria lain.
''Masih cemburu, hem." Maura menyentuh lembut rahang kokoh suaminya.
Emran masih diam enggan menjawab.
__ADS_1
''Dia hanya sahabatku. Kami sudah biasa berpelukan seperti itu, tidak lebih." Wanita itu berucap lembut berusaha memberi pengertian.
''Tetap saja, aku tidak suka," balasnya datar.
Melihat kecemburuan pria ini, Maura bukan risih atau apa. Justru dia merasa bahagia itu artinya dirinya benar-benar berarti dan berharga untuk Emran.
''Iya, tidak lagi. Aku pastikan, tadi yang terakhir."
''Janji," kata Emran dengan menatap lekat wajah manis wanitanya.
Maura tersenyum penuh kelembutan sebagai tanda 'iya.'
''Acara akan segera dimulai. Petugas juga sudah memberitahu 'kan tadi."
Emran mengangguk. Dia segera meminta istrinya untuk mengamit lengannya.
''Mari, Ratuku...."
''Baik, Rajaku...."
...----------------...
Nih, aku spil gambran pesta si Es Balok biar kalian kagak penasaran. Sumber tentu saja dari si Embah Google...
Foto: blog.bellacor.com
Foto: padupadan pop dan futuristik/ bridesstory.com/by: daydreaming work
Rekomendasi untuk kalian selagi menunggu up dariku
__ADS_1