
Maura meremat jari-jemarinya ketika mobil yang dia tumpangi berhenti di sebuah rumah megah. Keringat sebesar biji jagung membanjiri pelipisnya menandakan jika wanita itu tengah dilanda kegugupan hebat. Di sana sudah banyak awak media yang memenuhi kedua sisi karpet merah yang terbentang dari tempatnya berhenti hingga ke dalam rumah.
''Kenapa ada media segala?" batin Maura.
"Aku tau, apa yang kau rasakan. Jangan khawatir! Aku akan selalu bersamamu." Emran menggenggam lembut tautan jari wanita itu.
Maura hanya menanggapi dengan senyum lembutnya.
"Tenangkan dulu dirimu. Baru kita masuk."
Gadis itu menghirup nafas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya secara perlahan.
"Aku siap," ucapnya kemudian.
Emran memberi isyarat pada sopir pribadinya untuk membukakan pintu. Dia keluar terlebih dahulu, kemudian mengulurkan tangan yang segera disambut oleh gadis itu.
Para pencari berita mengarahkan bidikan kameranya kepada putra sulung pengusaha terkaya kota itu, yang datang dengan menggandeng mesra seorang wanita muda yang sangat anggun nan menawan.
Keduanya berjalan dengan tenang diatas karpet merah itu. Jepretan kamera dari berbagai sudut terdengar di sepanjang jalan yang mereka lalui.
Pada saat keduanya sampai di teras rumah, mereka berhenti sejenak, membalikkan tubuh kearah wartawan hanya untuk sekedar menyapa, kemudian melanjutkan lagi langkahnya menuju tempat acara.
Sesampainya di ruang utama, Maura dibuat terpukau dengan interior mewah di dalamnya. Tangannya masih setia tersampir di lengan kekar Emran. Rata-rata para tamu yang hadir mengenakan busana dan aksesoris mewah, sangat jelas menunjukkan jika mereka semua adalah kaum borjuis.
Kedatangan Emran dan Maura berhasil mengalihkan perhatian semua orang yang ada disana. Semua mata tertuju pada putra sulung pemililk acara, tapi yang menjadi sorotan utama adalah wanita yang bersamanya. Pasalnya, sangat jarang sekali Emran membawa pasangan ke acara penting seperti ini, bahkan hampir tidak pernah. Tetapi kini, dengan santainya pria itu menggandeng seorang wanita seolah mengenalkan 'inilah wanitaku'.
Banyak pasang mata yang menatap wanita itu dengan tatapan berbeda-beda. Ada yang menatap penuh kekaguman akan kecantikan Maura, ada yang menatap penuh telisik seolah mengatakan siapa wanita ini, dia berasal dari keluarga mana. Ada pula yang menatap sinis kearahnya. Dan semua itu berhasil membuat wanita itu merasa tidak nyaman.
"Emran, kenapa mereka memandangku seperti itu?" tanya Maura dengan suara lirih nyaris tidak terdengar.
Dia semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh pria yang bersamanya. Wajar bila Maura merasa seperti itu. Ini adalah pengalaman pertamanya mengahadiri acara semewah ini.
"Karena kau menjadi pasanganku malam ini. Kau tenang saja, tidak akan ada yang berani menyakitimu selama kau bersamaku. Jadi, jangan jauh-jauh dariku," balas Emran tak kalah berbisik.
Maura mengangguk paham.
''Ayo, ku kenalkan dengan orang tuaku. Itu mereka....''
Maura mengikuti arah telunjuk Emran, dapat dilihat pasangan paruh baya tengah menyapa ramah para tamu mereka. Maura menahan lengan kekar Emran ketika pria itu hendak melanjutkan langkahnya. Dia menggeleng pelan saat Emran menatapnya.
''Ada aku, ayo...." Pria itu menarik paksa tangan Maura tanpa memedulikan penolakan gadis itu.
__ADS_1
''Mam, Pap, aku ingin mengenalkan seseorang."
''Siapa, Kak?" Divia menyahut dengan senyum cerahnya.
''Aku harap mama dan papa mau menerimanya sebagai pilihan terakhirku. Aku ingin menjalin hubungan serius dengannya."
Maura terperangah mendengar ucapan Emran.
''Baiklah, papa selalu mendukung pilihanmu. Asal itu bisa membuatmu bahagia." Raichand menyela cepat ucapan istrinya.
''Tapi, Pap...." Ucapan Divia terhenti saat Raichand mengangkat satu tangannya.
''Dimana dia, Emran?" tanya sang ayah.
"Keluarlah!"
Maura yang sejak tadi bersembunyi dibalik punggung kekar Emran, keluar dengan sedikit takut. Dia menundukkan kepala tidak berani melihat dua orang yang ada di hadapannya.
''Kenapa kau membawa dia kemari, Emran?" tanya Divia dengan nada dingin.
Tatapannya sangat tajam seolah ingin menguliti wanita yang bersama putranya.
"Dia pilihanku, Mam."
''Tidak! Aku tidak akan menerima wanita murahan ini," ucap Divia dengan suara meninggi.
Beruntung, suara musik yang yang ada di ruangan itu bisa merendam suara kerasnya.
''Aku tidak butuh persetujuan darimu, Mam. Aku hanya ingin mengenalkan pilihanku pada kalian."
"Ayo, Maura. Kita pergi dari tempat ini. Memuakkan!" Emran menarik paksa tangan Maura menjauhi kedua orang tuanya.
''Emran, kau mau kemana?"
"Emran!"
''Kau tidak bisa pergi dari acara ini, Emran!"
Emran tidak menghentikan langkahnya meski sang ibu terus berteriak memanggilnya, bahkan dia mengabaikan sorotan para tamu undangan yang mengarah kearahnya. Dia membulatkan tekad, berencana mengikuti kepergian Maura ke kampung halaman gadis itu.
''Em, berhenti! Ibumu memanggil. Tidak baik kau mengabaikannya," pinta Maura disela langkahnya yang terseok karena mengimbangi langkah lebar pria itu.
__ADS_1
"Diamlah, Ra. Kita akan pergi bersama malam ini. Aku akan ikut kemanapun kau pergi."
''Tapi, Em...."
''Diamlah!"
Angelo yang sedari tadi mengawasi gerak-gerik Maura segera memberitahu anak buahnya untuk menjalankan aksinya
''Target utama keluar, segera bergerak! Aku tidak menerima kegagalan."
Setelah mengatakan itu, Angelo melenggang pergi meninggalkan acara itu begitu saja.
"Papa, kenapa diam saja? Lakukan sesuatu untuk mencegah Emran." Teriakan Divia menggema di ruangan megah rumahnya.
Namun sayang, bukannya menanggapi sang suami justru meninggalkan wanita baya itu begitu saja.
Para tamu undangan mulia berbisik satu sama lain, hingga pada akhirnya acara terpaksa diakhiri sebab ulah putra sulung pemilik acara.
...----------------...
"Baca ini!"
Bram melemparkan sebuah amplop berlogo rumah sakit lain tepat di hadapan sang keponakan yang tengah bersiap di depan cermin.
Rayyan mulai membuka isi amplop itu, lalu membaca dengan seksama. Raut wajahnya terlihat sangatlah serius.
''Mungkin, kau bisa menipu mereka. Tapi dengan Om. Apa ini balasanmu pada om, Ray? Atas apa yang om lakukan selama ini," ucap Bram dengan wajah datarnya.
Baru kali ini, dia dikecewakan dengan sangat oleh keponakan yang ia anggap sebagai anak sendiri.
Rayyan menghela nafas berat setelah membaca keseluruhan isi amplop yang diberikan omnya. Isinya menunjukkan dengan sangat jelas jika Maura memanglah putri kandung Bramasta Haidar. Hanya saja, ada yang mengganjal dipikirannya. Dia teringat pesan suara yang dikirim orang tak dikenal kemarin. Jelas-jelas, disana mengatakan jika Emran memberikan sampel baru, namun hasilnya tetap negatif. Itu artinya ada orang selain dirinya yang sudah menukar sampel itu.
"Tapi siapa?" tanyanya dalam hati.
''Kau sudah merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling berharga dalam hidup yaitu orang tuamu. Seperti itulah yang om rasakan, Ray. Keluarga kecil om sangat berharga bagi om. Om rela menukar seluruh harta om demi mereka. Kenapa kau setega itu kepada om?"
"Kau pun melihat sendiri, bagaimana usaha om selama ini untuk menemukan mereka. Tapi sekarang, dengan mudahnya kau menjauhkan kembali kebahagiaan om. Hanya untuk memenuhi obsesi gilamu. Om sangat kecewa padamu." Bram masih mengeluarkan semua unek-uneknya.
''Maafkan aku, Om." Hanya itu yang mampu diucapkan Rayyan.
Terjadi keheningan beberapa saat, hingga deringan keras dari ponsel Rayyan memecah kesunyian diantara mereka.
__ADS_1
Rayyan segera mengangkatnya, terjadi perdebatan beberapa saat antara Rayyan dengan si penelpon. Hingga Rayyan membelalakkan mata ketika mendengar sebuah kabar dari seseorang di seberang sana.