Pencarian Maura

Pencarian Maura
Merasa Aneh dengan Sikapnya


__ADS_3

Bram menatap nanar batu nisan yang ada di hadapannya. Tangannya terulur mengusap pelan tulisan berwarna emas itu. Berkali-kali, helaan nafas berat keluar dari bibirnya.


Dia masih tidak percaya, jika dia akan dipertemukan dengan cara seperti ini, cara yang teramat menyakitkan untuknya. Puluhan tahun dia menahan rindu, puluhan tahun dia menahan gejolak hasrat dalam dirinya, hingga kini lupa akan hal itu. Dia juga menolak setiap wanita yang disodorkan kepadanya sebagai pengganti sang istri. Dengan harapan suatu saat, dia bisa dipertemukan kembali dengan wanita pujaannya.


Namun, dia patut bersyukur. Dia bisa melihat duplikat sikap sang istri dari putri semata wayangnya. Senyuman Maura selalu mengingatkannya pada senyum manis Riyana.


''Ri, aku masih tidak percaya dengan pertemuan kita yang seperti ini."


''Terima kasih telah mendidik putri kita menjadi gadis baik dan penurut. Wataknya sangat mirip denganmu, terutama senyumnya." Pandangan pria itu mulai buram akibat air mata yang tak mampu dia bendung.


''Seandainya, diijinkan. Aku ingin secepatnya bertemu denganmu. Setelah mengetahui kenyataan jika kau telah tiada, rasanya separuh jiwaku ikut mati rasa, Ri. Aku seperti kehilangan arah hidup, harapanku seakan lenyap begitu saja."


''Aku tersiksa, Ri. Aku ingin bersamamu...." Bram tergugu dalam tangisnya.


Pria itu mendekat, lalu mencium lembut batu nisan itu.


''Aku pamit ... Mereka sudah terlalu lama menungguku. Doakan yang terbaik untuk putri kita. Dalam waktu dekat, jika ada waktu, aku akan kembali mengunjungimu."

__ADS_1


...----------------...


''Mbak, Om Bram kemana, sih?" tanya Mira yang mulai gelisah.


Matahari semakin merangkak naik, semakin gagah menunjukkan sinarnya. Hampir satu jam mereka menunggu tapi belum ada tanda-tanda jika pria baya itu menunjukkan batang hidungnya.


Hari ini, mereka semua akan kembali ke kota. Mereka harus mempersiapkan segala macam keperluan acara pernikahan yang akan dilaksanakan esok lusa.


''Aku gak tau, ayah gak pamitan sama aku tadi."


''Apa ayah ada pamit sama kamu, Ray?" Maura balik bertanya pada sepupunya.


''Sumpah, Dokter Rayyan manusia paling menyebalkan yang pernah aku temui di muka bumi ini, padahal sedari tadi aku udah berkali-kali nanya keberadaan Om Bram. Dia tahu, tapi diem aja," cerocos gadis itu panjang lebar menumpahkan semua rasa kesalnya.


''Salah siapa gak nanya," balas Rayyan kelewat santai.


''Uh, seandainya bisa kuremat, kuhancurkan itu muka sampai tak berbentuk," geram Mira gemas dengan tangan meremat udara.

__ADS_1


''Sudah-sudah, kalian ini ... Ribut gak tau tempat, gak malu apa.''


Maura segera melerai dua orang itu sebelum semakin menjadi, sedangkan pasangan paruh baya yang sedari tadi menyaksikan hanya bisa menggeleng pelan dengan senyum tertahan.


''Biarlah, Ra. Jadi hiburan tersendiri untuk ayah sama bunda," celetuk Yunita.


"Iya, 'kan, Yah?" Wanita baya itu meminta persetujuan suaminya, yang dibalas sebuah anggukan oleh Mahesa.


''Mira, ingat! Ojo gething-gething mengko bakal nyanding (Jangan terlalu benci nanti, akan bersanding.)" Yunita masih melanjutkan perkataannya bermaksud menggoda gadis itu.


Mira hanya mengerutkan kening mendengar istilah asing itu. Dia hanya menanggapi dengan senyum kikuk karena tidak mengetahui artinya.


''Sudahlah, Bun. Tidak usah menggoda mereka terus," kata Mahesa.


''Biarkan sajalah, Yah. Jadi teringat masa muda kita dulu."


Semua yang ada di sana menanggapi dengan tawa renyah mereka. Namun, hanya satu orang yang tidak terusik dengan keributan itu.

__ADS_1


Ya, dia adalah Andrian. Pria itu sejak tadi hanya diam seperti tengah memikirkan sesuatu. Dan sikapnya itu, disadari sepenuhnya oleh Maura. Meskipun merasa aneh, wanita itu tak berniat mempertanyakan penyebab diamnya pria itu. Dia justru menganggap biasa, karena sejak kemarin Andrian memang seperti itu.


__ADS_2