Pencarian Maura

Pencarian Maura
Kambing Hitam


__ADS_3

Kedatangan Maura dan Emran mencuri perhatian banyak orang yang berada di sana. Maura menggenggam erat tangan Emran dengan menyembunyikan wajahnya di balik topi yang sengaja dia pakai.


Setelah melalui rintangan yang tidak mudah. Pada akhirnya, sepasang kekasih itu sampai tepat waktu di rumah duka. Yang tidak lain adalah kediaman orang tua Rayyan.


Sebelumnya, Emran sempat menghubungi Rayyan tetapi tak kunjung dijawab oleh pria itu. Sehingga, Emran melakukan usaha mandiri dengan mencari alamat rumah duka melalui portal berita online. Setelah alamat yang dituju ditemukan, keduanya segera mencari taksi. Perjuangan mereka tak cukup sampai disitu. Dalam perjalanan, keduanya masih harus menghadapi kemacetan selama satu jam lebih.


Namun, usaha tak mengkhianati hasil. Jerih payah mereka terbayarkan dengan sampai pada tempat tujuan tepat waktu. Tepat ketika peti jenazah Bram hendak dimasukkan ke dalam ambulance untuk menuju tempat pemakaman.


Rayyan mengepalkan tangannya kuat melihat kedatangan kedua orang itu. Emosinya memuncak ketika melihat wajah pria yang telah membuat kekacauan ini. Dengan langkah lebar, dia menghampiri keduanya, kemudian menarik kasar tangan Maura.


''Sekarang, kau puas!" Teriakan Rayyan menggelegar diantara kerumunan itu.


''Ini semua gara-gara kau, Emran! Puas kau sudah membunuh omku.''


Emran tak menanggapi apapun tuduhan itu. Dia hanya menunjukkan wajah datarnya karena memang dia bersalah.


''Dan kau, Maura!" teriak Rayyan pada wanita yang berada di sampingnya, "cinta boleh tapi bodoh jangan! Punya otak dipakai, Maura."

__ADS_1


Maura beringsut mundur saat mendengar suara lantang itu. Dia hanya bisa tertunduk dalam.


''Kau lihat! Lihat pakai matamu. Hasil perbuatanmu kemarin. Itu, Ra.... Itu hasilnya." Rayyan masih berteriak seperti orang kesetanan dengan menunjuk peti mati yang berada tepat di belakang mobil.


Maura tak menjawab sepatah katapun hanya air mata diiringi isak tangis yang keluar dari mulutnya.


''Apa kau sudah melihat kondisi rumahmu?" tanya Rayyan masih dengan nada yang sama.


Maura hanya mampu mengangguk dalam tangisnya.


Maura menggeleng keras.


''Dia...."


Maura mengikuti arah telunjuk sepupunya. Dia menatap tak percaya pada pria yang mematung yang berada tepat di hadapannya. Bukan hanya Maura yang terkejut, melainkan semua orang yang berada di sana. Mereka sama sekali tak percaya jika seorang Emran Khan putra sulung pengusaha ternama di kota itu, melakukan hal sekeji ini.


Maura menggeleng keras berusaha menyangkal kenyataan itu.

__ADS_1


''Tidak mungkin."


''Aku tidak menyangka, Maura Putri Riyana yang terkenal akan kecerdasan dan berbagai prestasinya. Bisa bodoh hanya karena cinta. Buka matamu lebar-lebar, Ra. Dia pelakunya, dia yang sudah membakar rumah orang tuamu hanya demi tujuannya, yaitu membawa kabur dirimu."


''Apa benar itu, Em?" Maura menatap tajam pria itu dengan mata memerah bersimbah air mata.


Emran hanya diam mematung. Dia ingin menjelaskan semuanya, tetapi suaranya hanya tercekat di tenggorokan.


''Jawab, Emran!" teriak wanita itu menuntut jawaban.


Seketika, dia teringat akan ucapan Emran ketika di bandara kemarin sore. Jika berita mengenai kebakaran yang sempat dia pertanyakan hanya berita bohong semata.


''Aku tidak menyangka kau sepicik itu."


''Bukan aku, Ra...."


''Cukup!'' Maura mengangkat satu tangan sebagai tanda tidak ingin mendengar apapun yang keluar dari mulutnya. "Mulai sekarang, jangan pernah temui aku lagi. Lupakan aku! Anggap pertemuan dan hubungan kita selama ini hanya sebuah kesalahan."

__ADS_1


__ADS_2