
Ting-tong Ting-tong....
Ting-tong Ting-tong....
Ting-tong Ting-tong....
"Aish, siapa sih? Mencet bel gak aturan begitu," gerutu Mira yang baru selesai dengan ritual mandinya.
Baru saja mulutnya tertutup, suara bel di unitnya kembali terdengar, bahkan lebih intens dari sebelumnya.
"Sebentar," teriak gadis itu dengan wajah bersungut-sungut.
Mira mendesah kesal ketika membuka pintu tak ada siapapun disana. Mulutnya komat-kamit merapal sumpah serapah pada orang yang iseng mengganggu ketenangannya.
Pada saat hendak menutup pintu, netranya menangkap sebuah papper bag yang berada tepat di bawah kakinya. Dia melongokkan kepala untuk memastikan siapa yang yang menaruh benda itu. Namun nihil, tidak ada siapapun disana. Mira hanya mengedikkan bahu, kemudian membawa tas kertas itu ke dalam untuk melihat isinya.
"Bagus banget." Mira menatap penuh minat pada gaun malam yang ada dalam kuasanya.
Dia menempelkan baju itu ke tubuhnya, lalu berkaca pada lemari piring yang ada di dekat dapur.
''Kok gak pas, pasti orang ini salah kirim," sungutnya dengan raut kecewa.
''Kenapa mukamu asem begitu, Mir?'' Maura datang dengan tubuh terlihat lebih segar.
"Dapat kiriman gaun, tapi kekecilan." Mira menunjukkan baju yang ada di tangannya.
''Kok bisa, kamu gak lihat spesifikasi gambarnya dulu apa gimana, sih? Sebelum membeli."
''Aku gak beli, Mbak. Orang misterius ninggalin ini di depan pintu. Entah buat siapa?" Mira berucap dengan wajah kecewa, padahal dia sudah jatuh cinta dengan gaun indah itu.
Maura meninggalkan temannya begitu saja ketika mendengar ponselnya berdering.
''Hallo...."
''Aku meninggalkan sesuatu di depan pintu. Maaf gak bisa mampir, ada kepentingan mendadak."
__ADS_1
Setelah itu, telepon tertutup sepihak begitu saja.
Maura hanya bisa menatap penuh tanya pada ponsel yang sudah menggelap, lalu mengalihkan pandangan pada Mira yang masih asik membolak-balikkan baju di tangannya.
''Mir," panggil Maura pelan.
''Iya, Mbak...."
''Itu sebenarnya ... Untukku," kata Maura dengan hati-hati.
''Apa?!''
"Dari siapa? Ini gaun mahal lho, Mbak."
''Dari Emran."
''HAH!"
Mira menatap penuh curiga wanita di depannya.
''Mbak ada hubungan apa sama Dokter Emran sampai dia ngirim barang mahal segala. Mbak mau main petak umpet sama aku. Mbak gak percaya sama aku, sampai punya hubungan spesial gak cerita sedikitpun ke aku. Mbak kok tega, sih," cecar Mira panjang lebar.
''Gak ada yang spesial, Mira. Kita cuma berteman."
''Bohong!" sahut Mira cepat.
"Beneran suwer," kata Maura dengan menunjukkan dua jarinya.
''Kalau cuma teman, kenapa mesti ngasih baju mahal segala, Mbak Maura," balas Mira dengan gemas.
''Namanya juga FWB," kata Maura dengan santainya.
''APAH?!!"
...----------------...
__ADS_1
Angelo menghisap dalam-dalam cerutu di tangannya, lalu mengepulkan asapnya bebas ke udara. Aroma nikotin menguar di ruangan yang dia tempati. Belum lagi, sebotol minuman beralkohol tinggi menemani kesendiriannya malam itu. Pikirannya carut-marut tidak karuan setelah mendapat kabar, penembak bayaran yang dia sewa berhasil tertangkap oleh anak buah Bramasta Haidar. Jika sampai orang itu membuka mulut. Bisa di pastikan, Bram tidak akan mengampuni dirinya, bahkan bisa jadi bisnisnya akan hancur oleh sentuhan tangan dingin pria itu.
''Bos, saya ada kabar penting." Seorang pria bertubuh gempal berkepala plontos menghampiri pria itu.
''Ada apa, aku harap beritamu itu tidak membuat kepalaku semakin sakit," ucap pria yang kerap disapa Elo itu dengan dingin.
''Tidak, Bos. Ini berita baik untuk bos." Pria gempal itu berucap penuh keyakinan.
"Katakan!"
''Aku sudah mengetahui anak yang dicari-cari tua bangka itu, Bos. Dia bernama Maura—Dokter bedah di Rumah Sakit Harapan Bersama. Dan ternyata, dia wanita yang sama yang menolong Bram waktu itu."
Angelo menyeringai mendengar penuturan anak buahnya. Kini, dia tahu langkah yang akan dia ambil selanjutnya.
''Tapi, Bos...."
Pria bertubuh gempal itu, menghentikan ucapannya ketika mendapat tatapan tajam dari bosnya.
''Jika itu bisa merusak mood-ku. Sebaiknya, jangan kau katakan! Dari pada ku patahkan lehermu."
''Tapi ini penting, Bos," sanggahnya.
''Katakan!"
Pria gempal itu menjelaskan situasi yang terjadi mengenai hasil pengamatannya selama beberapa hari terakhir.
''Hmmm, sangat menarik. Sang keponakan terobsesi dengan sepupunya sendiri hingga berencana menyabotase hasilnya," gumam pria itu.
''Bantu keponakan tua bangka itu untuk mencapai tujuannya. Pastikan, dia berhasil. Dan halangi usaha pria yang ingin membantu gadis yang bernama Maura. Begitu ada kesempatan, kita lanjutkan misi kita," titah Angelo.
''Siap, Bos."
Angelo memberi isyarat agar anak buahnya pergi dari ruangannya.
''Sepertinya, alam tengah memihak padaku untuk membalaskan dendam ayahku padamu, Bram. Nantikan kehancuranmu, hahaha." Tawa pria itu menggema ke seluruh ruangan, lalu menenggak kembali minuman laknat yang menjadi teman kesunyiannnya.
__ADS_1