
"Apa yang kalian lakukan?" Rayyan berteriak ketika melihat seorang dokter menutup seluruh tubuh omnya dengan kain putih.
Dia segera berlari, kemudian mendorong keras dokter tersebut.
''Apa maksudmu melakukan ini? Aku bisa menuntutmu." Suara Rayyan menggelegar di dalam ruangan, bahkan dengan berani dia menunjuk dokter itu.
''Maaf ... Maaf, Tuan. Tapi pasien tidak tertolong,'' jawab pria baya berjas putih itu dengan suara bergetar.
''Periksa lagi, Cepat!" titah Rayyan masih dengan nada yang sama.
Si dokter terpaksa melaksanakan perintah dengan tangan bergetar. Dia segera meminta suster untuk memasang kembali semua alat yang sempat dilepas tadi termasuk alat kejut jantung.
Dengan keringat bercucur deras, dia berusaha mengembalikan denyut nadi pasien, hingga tiga kali mencoba tidak ada tanda-tanda denyut jantung Bram kembali. Garis pada layar monitor tetap menunjukkan garis lurus.
''Maafkan saya, Tuan. Saya sudah berusaha keras."
Tidak ada tanggapan apapun dari Rayyan. Dia masih mematung memandangi layar monitor, bahkan ketika suster melepas semua alat itu. Dia masih tidak sadar. Keadaan ini sangat mengejutkan baginya.
Baru beberapa jam lalu, dia melihat rona kebahagiaan di wajah omnya karena bisa mewujudkan kewajiban menjadi wali nikah untuk sang putri. Namun, kenapa sekarang seakan keadaan berbalik tiga ratus enam puluh derajat.
''Om, jangan tinggalkan aku...."
...----------------...
__ADS_1
''Kabar duka ... Raja Bisnis negara ini—Bramasta Haidar, telah menghembuskan nafas terakhir sore tadi pukul 17.00 di Rumah Sakit Citra Medika. Jenazah akan dibawa ke rumah duka yang ada di kawasan komplek perumahan elit Jakarta Pusat....''
Maura menegang di tempat ketika tanpa sengaja melihat siaran berita di sebuah warung kecil ketika hendak membeli minum. Pandangan matanya masih terpaku pada layar mini yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
''Tidak mungkin ... Tidak mungkin," gumamnya dengan mata berkaca-kaca.
Dia segera mengedarkan pandangan ke area sekitar untuk mencari sosok pria yang sedari tadi bersamanya.
''Emran, Emran," panggilnya sambil berjalan tak tentu arah.
''Emran, kau di mana?"
Nada suara yang semula lemah lama-kelamaan berubah menjadi sebuah teriakan karena tak kunjung menemukan sosok yang dicari. Sehingga menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya.
''Kita harus kembali."
Maura masih terus berteriak seperti orang gila. Dia juga mengabaikan tatapan aneh semua orang yang sejak tadi memperhatikannya.
''Ada apa, Ra?"
Wanita itu segera mengalihkan perhatian ketika mendengar suara yang sangat familiar.
''Kita harus kembali," kata Maura dengan mata bergerak gelisah.
__ADS_1
''Ayahku...."
Dari tak bisa lagi melanjutkan lagi ucapannya, hanya ada air mata yang membanjir pipinya.
''Ada apa, Maura? Kenapa tubuhmu bergetar seperti ini? Bicara yang jelas. Aku tidak akan memahami maksudmu jika kau seperti ini terus.''
''Lihat itu....''
Emran mengikuti arah telunjuk wanita itu. Dia pun ikut menegang ketika melihat dan mendengar berita yang ada di televisi. Di sana menayangkan dengan jelas beberapa orang tengah mendorong sebuah brankar yang diikuti Rayyan dari arah belakang. Tulisan besar pada berita itu tampak terlihat jelas.
''Raja Bisnis negeri ini tutup usia."
Bukan hanya satu stasiun televisi, melainkan hampir semua stasiun menayangkan topik yang sama.
''Ayo, kita kembali sekarang, Emran. Aku ingin bertemu ayahku untuk terakhir kalinya.''
''Kita tidak bisa kembali hari ini, Ra. Karena jadwal penerbangan ke kota besar, adanya besok pagi."
Tubuh Maura melemas seketika. Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulutnya, hanya air mata yang semakin deras membasahi pipi.
''Kamu tenang ya ... Aku usahakan, aku akan mengambil penerbangan paling pagi,'' ujar Emran berusaha menenangkan wanita itu, ''sekarang suudah larut. Sebaiknya, kita cari penginapan untuk istirahat. Biar tubuhmu lebih segar untuk bertemu ayahmu besok."
Maura hanya pasrah ketika tubuhnya dibawa Emran menuju mobil sewaannya.
__ADS_1