Pencarian Maura

Pencarian Maura
Penolakan Maura....


__ADS_3

''Saya di sini ingin menyampaikan wasiat terakhir yang sempat ditulis oleh Tuan Bramasta. Namun, sebelum itu. Saya ingin bertanya di mana putri kandung beliau. Kenapa saya tidak melihatnya di sini?"


Tepat setelah acara pemakaman selesai, pengacara pribadi Bramasta Haydar mendatangi kediaman Rayyan untuk menyampaikan amanat dari almarhum.


''Dia sudah pergi," jawab Rayyan dengan wajah datar.


Pria itu menghela nafas berat. "Sayang sekali, surat wasiat ini tidak bisa dibacakan tanpa kehadiran Nona Maura Putri."


''Apa bedanya? Ada dia ataupun tidak, tidak akan mengubah apapun. Bacakan saja sekarang." Kalimat sarkas pun keluar dari mulut pria itu


Kekesalannya belum usai, kini harus ditambah lagi dengan orang yang sama.


''Maaf, Tuan Rayyan. Ini tentang amanah yang saya emban. Jika Nona Maura tidak ada maka pembacaan surat wasiat ini saya tunda. Permisi...," pamitnya.


''Arrrgghh, kenapa kau begitu begitu berpengaruh Maura? Aku benar-benar membencimu," teriak Rayyan di ruang kerjanya. Sorot matanya menajam ke depan penuh amarah.


''Sandi, kemari!" Rayyan berteriak memanggil salah satu anak buah omnya.


Pria yang dipanggil pun segera menghadap. ''Saya, Tuan."


''Cari dan seret Maura kemari. Aku tidak mau tau, malam ini juga wanita itu harus ada di sini," titahnya tanpa bisa dibantah.

__ADS_1


''Baik, Tuan.''


...----------------...


''Apa maumu? Aku sudah menuruti semua keinginanmu. Kenapa kau masih menyeretku kemari?" Maura berteriak penuh emosi ketika berada di hadapan Rayyan dengan mata menyorot tajam.


''Karena aku membutuhkanmu," jawabnya santai.


Maura berdecih dalam hati. Entah setan apa yang merasuki pria ini hingga dia berubah seperti bukan Rayyan yang dia kenal.


''Katakan kau butuh apa?" tanya Maura dengan nada dingin, tak ada keramahan sama sekali yang dia tunjukkan seperti biasa.


''Duduklah! Sebentar lagi orang yang kita tunggu akan datang."


Tak lama menunggu, seseorang yang dimaksud memasuki ruangan itu dengan membawa beberapa berkas di tangannya.


''Bagaimana, Tuan? Apa putri Tuan Bramasta sudah hadir?'' tanya pria itu.


''Itu dia.'' Rayyan menunjuk wanita yang duduk di seberang dengan dagu.


''Baiklah. Langsung kita mulai."

__ADS_1


Pengacara pribadi Bram mulai membacakan satu per satu poin yang tertera dalam surat wasiat itu. Maura dan Rayyan mendengarkan dengan saksama.


''Untuk putriku Maura Putri Riyana, seluruh aset bergerak dan tidak bergerak akan ayah hibahkan semuanya kepadamu yang meliputi perusahaan beserta cabangnya, yayasan, rumah dan harta lainnya. Dengan syarat kau harus menikah terlebih dahulu maka jika tidak, seluruh kaset tersebut akan ayah hibahkan ke yayasan sosial."


''Hibahkan saja. Saya tidak butuh semua itu. Permisi...," sahut Maura cepat seraya beranjak dari tempatnya.


''Itu sama saja kau tidak menghargai jerih payah Om Bram selama ini, Ra." Suara lantang Rayyan berhasil menghentikan langkahnya.


Memang pada awalnya, dia berniat mengambil alih harta warisan itu. Namun, seketika bayangan ketika Bram bekerja dengan gigih demi keluarganya, terlintas dalam ingatannya.


'aku ingin jerih payahku ini bisa dinikmati oleh keluarga kecilku terutama anakku.' Kalimat itu kembali terngiang dalam benaknya. Setiap kali dia bertanya untuk apa omnya bekerja sekeras ini padahal kala itu dia masih hidup sendiri


''Bukankah ini juga atas permintaanmu?" Maura membalas dengan nada dinginnya tanpa membalikkan badan.


''Ambil saja jika kau mau. Aku akan menjalani hidupku seperti sedia kala sebelum aku bertemu kalian. Aku hanya ingin hidup tenang," sambungnya lagi.


Setelah mengatakan itu, dia melenggang begitu saja tanpa memedulikan teriakan Rayyan yang terus memanggilnya.


''Ayo, Mir. Kita pergi dari sini. Urusan kita sudah selesai," ajaknya pada Mira yang tengah menikmati waktu santainya di ruang tamu.


''Mbak, tunggu!"

__ADS_1


Dia segera menyusul kepergian sang sahabat ketika melihat Maura menghilang di balik pintu.


__ADS_2