Pencarian Maura

Pencarian Maura
Serangan Kedua....


__ADS_3

Beberapa hari berselang....


Hal yang paling ditakutkan pun tiba. Perusahaan Raichand melakukan pemecatan besar-besaran, bahkan banyak gaji para karyawan yang belum terbayarkan. Belum lagi hutang perusahaan yang bernilai fantastis.


Sepandai-pandainya seseorang menyimpan bangkai pasti akan tercium juga, mungkin itu ibarat yang cocok untuk usaha Emru yang berusaha menyembunyikan masalah yang ada dari sang ayah. Raichand marah besar setelah mengetahui hal itu, kemarahan yang belum pernah ditampakkan di hadapan anggota keluarga.


Pria yang biasanya terlihat bijak dan tenang, kini tak ubahnya seperti monster yang mengerikan ketika mengetahui jerih payahnya selama bertahun-tahun habis tak bersisa.


''Bagaimana ini bisa terjadi, Emru? Apa saja yang kau lakukan? Lalu apa gunanya papa menyekolahkanmu tinggi-tinggi hingga ke luar negeri jika mempertahankan kejayaan perusahaan saja tidak becus." Suara Raichand menggema di ruang kerjanya.


Kedua putranya hanya bisa bungkam melihat hal itu, tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun jika tidak ingin terkena getahnya.


''Bagaimana dengan rumah sakit, Emran?" Pria paruh baya itu beralih bertanya pada putra sulungnya.


Emran menghembuskan nafas kuat sebelum menjawab pertanyaan sang ayah. Dia sangat paham jika ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya tetapi cepat atau lambat Raichand pasti akan mengetahui.


''Kak....'' Emru memberi isyarat dengan gelengan pelan agar sang kakak tidak mengatakan yang sebenarnya.


Emran pun membalas dengan gelengan yang membuat Emru menghembuskan nafas kasar.


''Papa pasti paham dengan dampaknya pada rumah sakit karena bisnis kita saling berkaitan, meskipun tidak parah,'' jawab Emran penuh ketenangan.


''Tetapi kita juga harus rela kehilangan salah satu rumah sakit jika tidak ingin kehilangan perusahaan," sambungnya lagi.


Raichand mengepalkan tangan kuat demi menahan gejolak amarah yang kembali melanda.


''Jika saja mama kalian tidak berulah, semua bisnis papa akan baik-baik saja," ucap pria paruh baya itu penuh kegeraman.


Tatapan matanya menghunus tajam ke depan layaknya pedang yang siap menguliti mangsanya.


''Jadi, papa menyalahkan mama atas semua yang terjadi," sanggah Emru tidak terima.


''Memang kenapa? Kau tidak terima, bela terus ibumu yang tidak berguna itu. Papa berkata sesuai kenyataan."


''Papa keterlaluan!" teriak Emru.


"Diamlah, Emru! Masalah ini tidak akan selesai jika kalian saling mengedepankan emosi." Emran segera melerai perdebatan ayah dan adiknya sebelum semakin parah.


''Arrrggh, sudahlah. Kalian selesaikan sendiri. Jangan libatkan aku." Emru memilih beranjak tempat itu dengan menahan luapan emosi.


''Kau mau kemana, Emru? Ini belum selesai."


''Emru!" Raichand terus memanggil putra bungsunya. Namun nihil, pria itu hanya melambaikan tangan tanpa berbalik.


''Sudahlah, Pap. Biarkan dia memenangkan diri. Beberapa hari ini banyak tekanan yang menimpanya hingga membuat emosinya tidak stabil."


Raichand mengembuskan nafas kuat, amarah telah membuatnya hilang kendali. Seharusnya, dia sadar akan hal itu. Tidak semestinya dia melampiaskan semuanya pada putra bungsunya.

__ADS_1


''Papa percayakan rumah sakit kepadamu. Apapun keputusanmu papa terima. Tolong, beri keputusan terbaikmu," ujar Raichand sebelum meninggalkan ruang kerjanya.


''Of course, Pap. I will do the best."


...----------------...


Deringan suara ponsel membuyarkan renungan Emru yang tengah termenung sendiri di dalam kamarnya. Dia segera mengangkat panggilan itu setelah melihat identitas si penelpon.


"Hallo," jawabnya dengan suara lesu.


"Emru, kau menganggapku apa, hah? Berhari-hari tak ada kabar, dihubungin tak pernah direspon, maumu apa?"


Emru memijat keningnya ketika mendengar rentetan kalimat sarkas dari tunangannya.


"Maafkan aku, Erika ... Akhir-akhir ini aku sedang banyak masalah. Maafkan aku...."


"Alasan. Aku tidak mau tahu, aku mau hubungan kita berakhir, titik!"


Emru gelagapan sendiri mendengar ucapan yang tercetus dari mulut sang kekasih. Tak dapat dipungkiri, dia sangat mencintai tunangannya. Semua harta dan tenaga telah dia kerahkan hanya untuk menyenangkannya, bahkan rela meluangkan waktu di tengah kesibukan demi memenuhi semua keinginan wanita itu.


"Apa yang kau katakan, Erika? Apa kau sedang mabuk?"


"Aku sangat sadar. Aku ingin mengakhiri hubungan ini. Aku rasa kau sudah tidak menyayangiku, kau mengabaikanku selama berhari-hari, Ru. Aku kecewa, pokoknya aku ingin mengakhiri, titik!"


Tut.


"Hallo, Erika ... Erika...."


"Arrrggghhh, sialan!"


Prakkk!


...----------------...


"Ibu Divia, ada yang berkunjung," ucap salah seorang petugas dengan membuka kunci sel tahanan.


Divia yang tengah menelungkupkan wajah diantara kedua lutut pun langsung mendongak.


"Siapa, Bu?"


''Saya kurang tau, yang jelas dia laki-laki. Mari, Bu," jawabnya ramah.


Divia pun mengangguk, kemudian mengikuti langkah petugas tersebut hingga sampai pada tempat pengiriman.


"Silahkan, waktu kunjung maksimal tiga puluh menit," ucap petugas seraya membukakan pintu sebuah ruangan.


Divia segera memasuki ruangan itu. Dilihatnya, seorang pria berjas rapi tengah bersedekap dada dan menatap remeh ke arahnya, tak lupa pula senyum penuh ejekan tersungging di bibirnya.

__ADS_1


''Mau apa kau kemari?" Divia menatap dingin mantan partner-nya.


''Kau pikir bisa menyeretku ke tempat ini, Tante Divia ... Dan jawabannya sangat jelas. Aku berada di depanmu saat ini." Angelo merentangkan kedua tangannya seolah menunjukkan siapa dirinya.


"Meskipun tante lebih tua dariku, tapi untuk hal ini tante masih anak kemarin sore, bahkan sama saja dengan anak ingusan. Tante jangan coba-coba mencari masalah denganku," ujar Angelo penuh penekanan berada tepat di depan wajah Divia.


Divia mengepalkan tangannya kuat, hingga urat-urat nadinya tercetak dengan jelas. Tatapan tajam menghunus ia layangkan pada pria itu.


''Bagaimana kau bisa bebas?"


Terdengar gelak tawa yang keluar dari mulut pria itu. Suara yang teramat menyebalkan menyapa pendengaran Divia.


''Aku selalu bermain bersih tak bersisa, tentu saja mereka tidak cukup bukti untuk menangkapku," balasnya congkak.


''Kau benar-benar picik," geram Divia.


''Bukan picik tapi cerdik. Aku punya banyak taktik untuk melakukan aksiku. Tante saja yang terlalu bodoh," bisiknya pelan diiringi senyum sinis.


''Pergi kau dari sini, jangan pernah temui aku!" bentak Divia.


''Tanpa kau suruh aku akan pergi, Tan. Aku kemari hanya ingin memberikan ini, sebuah kejutan sekaligus serangan dariku atas ulah tante.'' Angelo menyerahkan sebuah koran yang sejak tadi berada dalam kuasanya.


"Selamat membaca, Tante...." Pria itu beranjak pergi meninggalkan Divia yang menatap heran koran di hadapannya.


Dia segera membuka koran tersebut demi menghilangkan rasa penasaran. Matanya terbelalak sempurna ketika membaca sebuah judul yang tertera pada halaman awal. Tangannya bergetar hebat mencengkram koran hingga tak berbentuk, air mata luruh begitu saja membasahi pipi pucatnya.


''Tidak mungkin...."


''Ti-tidak ... I-ini tidak mungkin...."


...****************...


Terpaksa Menikahi Selingkuhan Ibu Tiri


By: M Anha


Tubuh Lily membeku saat melihat Ibu tiri bersama dengan seorang pria yang tak ia kenal.


'Apa ibu selingkuh dari Ayah?' batin Lily mengikuti ibu tirinya itu yang pergi bersama dengan seorang pria dengan mobil mewahnya.


Lily terus mengikuti mereka hingga keduanya masuk di sebuah hotel mewah. Lily mengikuti mereka hingga masuk salah satu kamar.


"Aku harus beritahu ayah," gumamnya mengambil ponselnya. Namun, tiba-tiba ibu tirinya merampas ponselnya.


"Lupakan apa yang kamu lihat hari ini, jika kamu sampai melaporkan pada ayahmu, kamu akan menyesal." Ancaman Delisa, ibu tiri Lily.


Akankah Lily melaporkan semua itu?

__ADS_1


Apakah Lily hanya diam melihat perselingkuhan ibu tirinya?



__ADS_2