Pencarian Maura

Pencarian Maura
Janji Terakhir


__ADS_3

Mas Asta, suamiku....


Saat kau membaca surat ini, itu artinya kau telah bertemu dengan putrimu. MAURA PUTRI RIYANA, nama yang indah bukan? Aku sengaja menyematkan namaku di belakang nama putri kita. Dengan harapan, kau akan langsung mengenali putri kita hanya melalui nama.


Dia gadis yang baik, lemah lembut juga tegas, sangat mirip denganmu, Mas. Aku pernah merasa iri, kenapa semua yang ada di dalam dirinya, milikmu. Aku tidak kebagian sama sekali padahal aku yang membawanya di dalam perutku selama sembilan bulan. Sangat lucu bukan, aku ini?


Mas Asta, hampir setiap hari putri kita menanyakan tentang dirimu. Dan itu adalah pertanyaan tersulit yang harus aku jawab. Aku selalu berusaha menghindar dan berpaling setiap kali dia menanyakan hal yang sama. Bukan aku tidak ingin memberitahu tentang dirimu. Aku sama sekali tidak ada niatan untuk menjauhkan kalian. Aku punya alasan untuk itu semua.


Kau tahu, Mas. Dua puluh enam tahun lalu ... mereka bersedia membebaskanku. Setelah aku menghiba, bahkan bersujud di hadapan rivalmu. Aku rela melakukan itu demi anak yang ada dalam kandunganku. Dalam pikiranku, 'anak ini harus hidup'. Karena aku tahu, kau sangat menginginkannya. Mengingat, hampir lima tahun menikah. Kita baru diberi kepercayaan.


Mereka memberiku syarat, agar aku menjauh dari hidupmu untuk selamanya tanpa meninggalkan jejak, apapun itu. Makanya, aku meninggalkan semua barang-barangku di sana. Tetapi, mereka tidak mengetahui mengenai hadiah pemberianmu. Aku sengaja menyembunyikan benda itu dari mereka.


Jika aku tidak menuruti kemauan mereka. Mereka mengancam akan membunuh anak dalam kandunganku. Sungguh, aku tidak tidak rela bila itu terjadi, aku tidak ikhlas. Ancaman mereka masih berlaku sampai beberapa tahun setelah anak kita lahir. Aku sering melihat ada orang aneh tengah mengawasi tempat tinggalku. Sebab itulah aku merahasiakan semua tentangmu, Mas. Maafkan aku....


Mas Asta....


Setelah kau berhasil bertemu dengan putrimu, itu artinya aku juga sudah tidak ada di dunia ini. Karena inilah janji terakhir dalam hidupku, mempertemukan Maura dengan ayah kandungnya.


Sekali lagi, maafkan aku ... Aku sangat merindukanmu, Mas. Setiap hari, aku tersiksa dengan rasa ini. Tapi aku rela menahannya, asal putriku aman. Tolong, jaga dia. Wujudkan impiannya sejak kecil, Mas. Dia hanya ingin mendapat kasih sayang dari ayah kandungnya.


^^^Salam sayang, Riyana^^^


"Riyana!" Teriakan Bram menggema di dalam kamarnya.


Air mata mengalir tanpa bisa dicegah, pandanga mengabur dan tangan bergetar memegang secarik kertas yang berisi tulisan tangan sang istri, mendekapnya erat kertas itu seolah tengah mendekap tubuh Riyana.


''Kenapa kau tega padaku, Riyana? Meminta Maura menemuiku disaat kau sudah tiada. Andai kau tahu, aku sangat merindukanmu. Aku juga tersiksa dengan rasa ini. Bukan hanya kau," jerit Bram dalam tangisnya yang sangat pilu.


Kemarin, sebelum pulang dari kediaman Raichand Khan. Emran sempat memberikan tas besar milik sang putri. Pria itu memberitahukan jika sebenarnya, Maura berniat pergi dari kota ini. Dia ingin kembali ke kampung halamannya. Namun sayang, sebelum niat gadis itu terwujud, dia sudah menghilang terlebih dahulu.


Bram menerima barang-barang milik putrinya dengan perasaan campur aduk marah, kesal dan gelisah menjadi satu. Dia sempat menatap menatap tajam keponakannya, dari tatapannya seolah mengatakan, 'ini semua karena kau' , sebelum berlalu meninggalkan tempat itu.


Dia menemukan surat itupun dengan tanpa disengaja. Saat akan meletakkan tas itu di sofa kamarnya, mata tuanya menangkap sebuah benda berwarna putih menyembul di saku depan yang tidak tertutup rapat. Di dorong rasa penasaran tinggi, Bram mengambil kertas itu yang ternyata sebuah surat tulisan tangan sang istri. Dia berniat membaca saat itu juga, namun urung saat Rayyan memanggil memberitahukan ada anak buah yang hendak melapor.


Bram menunda niatnya, menyimpan terlebih dahulu surat itu dan berniat membacanya ketika urusannya sudah selesai.

__ADS_1


Selama satu hari penuh, Bram disibukkan untuk mencari keberadaan putrinya juga pekerjaan yang beberapa hari tertunda karena sakit. Anak buahnya berhasil melacak mobil itu, ternyata hanyalah mobil sewaan. Mereka benar-benar merencanakan penculikan ini dengan matang. Bram harus menelan kekecewaan jika dia belum bisa menemukan titik lokasi sang putri.


Rayyan memintanya untuk istirahat, pencarian Maura, ia ambil alih. Bagaimanapun juga dia tidak ingin omnya kembali ambruk. Dan atas desakan dan paksaan dari keponakan dan bawahannya dia menurut.


Ketika hendak merebahkan tubuhnya, pria baya itu teringat kembali akan sebuah surat yang ia simpan dan baru bisa membaca isinya malam ini.


Deringan keras dari ponselnya, mengalihkan perhatian pria paruh baya itu. Dia melihat ada nomor tidak kenal menghubunginya, tak ingin berlama-lama dia segera mengangkat panggilan itu.


''Hallo...."


''Hallo, Tuan Bram. Apa kau mencari keberadaan putrimu?" Suara seorang pria menyapa Indra pendengarannya.


''Siapa kau? Di mana putriku?"


''Woho, tenang, Tuan. Sebelum kau mengetahui keberadaannya. Alangkah baiknya, kau melihat pertunjukan yang akan ku tunjukkan kepadamu. Lihatlah!"


Pria itu mengubah panggilannya menjadi panggilan video. Di dalam sana, tampak seorang gadis tengah terikat dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Mata memerah dengan air mata yang terus berderai, rambut acak-acakan tengah menggumamkan teriakan yang tidak jelas, seolah meminta bantuan seseorang yang mendengarnya. Tubuhnya bergerak tak beraturan, sepertinya dia berusaha melepas jeratan tali yang membelenggu tubuhnya.


''Lepaskan dia! Berani kau bermain-main denganku." Emosi Bram naik hingga ke ubun-ubun saat melihat pemandangan itu.


''Katakan!"


''Tidak banyak. Hanya lima puluh persen saham perusahaanmu."


''Banjin*an! Siapa kau?" Bram berteriak marah, tentu pria itu bukanlah penculik biasa.


Dia salah satu dari sekian banyak musuhnya. Penculik biasa tidak akan meminta hal seaneh itu sebagai tebusan.


Terdengar suara tawa seorang pria di seberang sana. ''Keputusan ada di tangan Anda, kau serahkan saham itu atau nyawa putrimu melayang. Asal kau tau, keadaannya jauh lebih memprihatinkan dari yang kau liat."


"Serahkan besok pagi seorang diri. Jangan coba-coba membawa anak buah apalagi polisi. Jika sampai itu terjadi, nyawa putrimu menjadi taruhan."


''Jangan macam-macam! Aku akan menuruti keinginanmu tapi jangan kau sentuh putriku, sedikitpun!" teriak Bram dengan rahang mengeras. Sorot matanya begitu menyeramkan bagi siapapun yang melihat.


''Oke, aku akan mengirim titik lokasinya kepadamu, Tua Bangka."

__ADS_1


Maura yang mendengar itupun langsung menggeleng keras dengan terus bergumam tak jelas. Dia tidak setuju jika Bram harus kehilangan harta sebanyak itu hanya untuk menyelamatkan dirinya.


''Tenanglah, Maura. Ayah akan datang," ucap Bram dengan mata berkaca-kaca.


''Hemmm....''


"Hemmm...."


Hati Bram bagai diiris-iris mendengar jeritan tertahan dari arah sana. Dia mematikan sambungan panggilannya, lalu segera keluar kamar untuk mengatur rencana penyelamatan putrinya.


''Rayyan!"


"Rayyan!"


Teriakan Bram menggema ke seluruh penjuru rumah. Kepanikan tergambar jelas di wajahnya, mungkin jika dulu dia bisa lebih tenang menghadapi hilangnya sang istri. Tapi tidak untuk sekarang, dia merasakan kegelisahan yang teramat sangat.


''Ada apa, Om?" Pria yang dipanggil keluar dari kamarnya hanya dengan handuk melilit pinggang, sepertinya dia baru selesai mandi.


''Aku sudah tau keberadaan Maura. Segera berpakaian kita atur siasat malam ini juga. Karena besok kita harus bergerak."


Bram segera meminta semua anak buahnya untuk berkumpul, tak lupa pula menghubungi Emran karena pria itu sudah berpesan akan ikut serta dalam rencana Bram menyelamatkan Maura.


...----------------...


Hai-hai, para pembaca tersayang. Bagaimana? Masih setiakah dengan ceritaku yang acak-acakan ini. Membosankan atau terlalu lebay, Comment dong...


Butuh suntikan ini dana ini uupps, semangat maksudnya. Komentar kalian semangatku.


Kopi dong kopi buat temen nulis part selanjutnya atau kalo gak gitu hati kalian. Asal jangan kembang, aku bukan Mbak Kun yang kelayapan malam hari, hehe.... Canda dikit buat ngilangin penat. Apa aja yang kalian kasih aku terima, eyaaa.....


Pokok jempol kalian jangan lupa,


see you next part.....


Babay....

__ADS_1


__ADS_2