Pencarian Maura

Pencarian Maura
Keinginan Bram


__ADS_3

"Suster, tolong bawa sampel ini. Letakkan sesuai tanda yang saya tulis." Emran memerintah seorang wanita berseragam putih.


''Pastikan, jangan sampai tertukar atau ada yang mengetahui tentang ini. Untuk menghindari oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Pastikan juga, sistem keamanan ruangan itu selalu menyala," titah Emran tegas.


''Baik, Dok,'' jawab wanita itu dengan sopan.


Tanpa mereka sadari, seorang perawat pria yang berada tak jauh darinya telah merekam pembicaraan mereka, kemudian mengirimkan rekaman itu pada seseorang. Dia bergegas mengikuti langkah suster untuk menjalankan tugas selanjutnya. Ketika sampai di dekat ruangan yang di tuju. Dia segera menabrak si suster hingga semua barang bawaannya jatuh berhamburan termasuk sampel yang dia bawa.


''Eh, maaf. Saya buru-buru." Pria itu beralasan.


Dia berjongkok pura-pura membantu wanita itu. Secara diam-diam, dia mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya, kemudian menukar sampel itu dengan sampel lain yang sangat mirip dengan yang di bawa wanita itu.


"Terima kasih," ucap si suster, tanpa menyadari jika sampel yang ia bawa telah di tukar oleh pria yang menabraknya.


Dia bergegas masuk ke dalam ruangan untuk meletakkan sampel itu sesuai perintah.


Si perawat pria menyeringai senang, tugasnya berhasil. Dia segera melaporkan hasil kerjanya pada seseorang yang menyuruhnya.


''Bos, misi berhasil. Rambut gadis itu ada padaku."


''Musnahkan benda itu. Dan selalu awasi gerak-gerik pria yang membantunya. Jangan sampai kecolongan," titah seorang pria di seberang dengan nada dingin.


''Siap, Bos."


...----------------...


''Emran, bagaimana? Apa semua aman?" tanya Maura saat Emran datang menghampirinya.


''Aman. Aku pastikan hasilnya nanti akan akurat. Dan aku juga sudah meminta pada dokter yang bertugas untuk mempercepat prosesnya."


''Jadi?"


''Besok hasilnya akan keluar."


Maura tak dapat menahan senyumnya, binar kebahagiaan terpancar jelas di matanya.


"Arrrgh, Terima kasih, Emran," teriaknya dengan reflek menghambur memeluk pria itu.


Emran yang tidak siap pun hampir limbung ke belakang. Beruntung, dia bisa menahan bobot tubuh gadis mungil itu.


''Iya, sama-sama. Tapi ini di lepas dulu kita ada di depan umum."

__ADS_1


Ucapan pria dingin itu berhasil menyadarkan Maura akan aksinya. Dia segera melepas belitan tangannya, kemudian memperhatikan sekitar. Beruntung tidak ada yang melihat.


''Maaf, refleks bahagia. Aku tidak sabar menunggu hasilnya,'' ucap wanita itu dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Besok malam, aku jemput tepat pukul tujuh. Kau harus sudah bersiap. Besok setelah pembacaan hasil, aku 'kan mengajakmu ke suatu tempat."


''Kemana?"


''Ku sulap kau menjadi tuan putri Prince Emran,'' ucap pria itu sambil berlalu meninggalkan Maura yang kebingungan.


Maura hanya mengedikkan bahunya acuh. Tak peduli, pria dingin itu akan membawanya kemana. Sekarang, yang harus dia persiapkan adalah mentalnya untuk bertemu Divia, ibu Emran.


...----------------...


Di ruang perawatan Bramasta Haidar....


''Siang," sapa Maura pada seorang pria yang berada di ranjang pesakitannya.


''Hai, putri ayah datang. Sini, duduk di sebelah ayah." Bram menyambut riang kedatangan putrinya.


Maura berdiri tak jauh dari kursi yang berada tepat di samping ranjang sang ayah.


''Saya hanya ingin memberitahukan kalau hasil tesnya akan keluar besok."


''Sengaja dipercepat, Tuan. Karena ada oknum yang dicurigai ingin memanipulasi hasilnya. Untuk menghindari hal yang sama, maka pimpinan di rumah sakit ini memerintahkan untuk dipercepat."


''Kenapa bahasamu sangat formal, Maura. Berbicaralah seperti sebelumnya. Tanpa melakukan tes pun aku sudah yakin, bahwa kau putri kandungku," protes Bram penuh ketidaksukaan.


Maura hanya menanggapi dengan senyuman


"Oh ya, Tuan. Mari saya periksa terlebih dahulu." Bukannya menjawab gadis itu justru mengalihkan pembicaraan.


Bram hanya bisa menghela nafas.


''Maafkanlah sepupumu. Terkadang, dia memang memiliki obsesi tinggi demi keinginannya. Sebenarnya, dia anak yang baik," ucap Bram dengan tiba-tiba, disela Maura melakukan tugasnya.


''Maksudnya?" tanya Maura yang masih belum memahami arah pembicaraan pria baya itu.


''Kau pasti tahu, siapa orang aku maksud, Maura."


Wanita itu terdiam, tanpa perlu diperinci pun dia sudah memahaminya.

__ADS_1


''Oh ya, siapa nama pimpinan di rumah sakit ini?"


''Dokter Emran Khan, Tuan," ujar Maura.


''Berhentilah memanggilku tuan, Maura. Kau putriku, panggil aku ayah,'' pinta Bram.


''Wah, Tuan Bram. Kondisi Anda berangsur membaik. Jika sampai besok tetap stabil seperti ini, Anda bisa diperkenankan untuk pulang.''


Bram menghembuskan nafas berat ketika tak mendapat tanggapan apapun dari putrinya.


Pria itu berganti melirik wanita yang berada tak jauh darinya. Nama pria yang disebut putrinya seperti tidak asing di telinganya.


''Apa kau mengenal pria itu, Sonia?"


''Dia saudara kembar dari Emru Khan salah satu rekan bisnis Anda, Tuan," jawab Sonia yang sudah paham akan maksud tuannya.


Bram hanya mengangguk tanda mengerti.


''Kenapa dia begitu peduli dengan tes ini? Padahal ini bukan ranahnya."


''Saya meminta bantuan padanya. Sebab saya juga khawatir jika Rayyan melakukan hal tidak-tidak dengan hasil tes itu," tutur Maura dengan wajah sendunya.


''Sudah sangat lama saya memimpikan momen ini, dimana saya bisa bertemu dengan ayah kandung saya. Saya juga ingin merasakan kasih sayang yang tak pernah saya rasakan sedari kecil. Meskipun, orang tua angkat saya juga menyayangi saya seperti putri kandung mereka sendiri, namun tetap saja ada yang berbeda," sambung gadis itu.


''Apa dia mempunyai perasaan padamu?" Pertanyaan terlontar begitu saja dari mulut pria baya itu, "sampai-sampai, dia memperlakukan hal seistimewa ini hanya untuk seorang pegawai biasa."


''Un-untuk itu ... S-saya tidak tahu," jawab Maura dengan gugup.


''Apa kau juga menyukainya?"


Semburat merah menjalar di pipi gadis itu dengan senyum tertahan. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya di hadapan pria yang belakangan ini di ketahui sebagai ayahnya.


''Jika seperti ini kau sangatlah mirip dengan Riyana." Bram menatap intens wanita muda di depannya.


''Oh, ya. Di mana ibumu? Kenapa tidak ikut serta bersamamu? Ayo, beritahu aku. Keadaanku sudah membaik, 'kan? Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya. Aku sangat merindukan ibumu, Maura." Bram mencecar putrinya dengan berbagai keinginannya.


Maura tidak tahu harus menjawab apa. Dia melirik Sonia untuk meminta persetujuan, dibalas anggukan pelan oleh wanita itu. Dia menghembuskan nafas kasar sebelum menjawab.


''Besok, saya akan menunjukkan sesuatu pada Anda."


''Apa itu, Maura? Jangan membuat ayah penasaran."

__ADS_1


''Saya janji, besok Anda akan mengetahuinya. Saya izin bertugas lagi." Gadis itu segera pamit meninggalkan ruangan sebelum ayahnya mengajukan pertanyaan yang sulit dia jawab.


__ADS_2