Pencarian Maura

Pencarian Maura
Hati yang Terbakar


__ADS_3

Rayyan tersenyum puas setelah membuat rivalnya kesal. Bukan tanpa sebab, dia mengatakan itu. Pada saat itu, tepatnya di hari kunjungan Divia. Tanpa sengaja, ia melihat Mira memasuki ruangan di mana ibu Emran berada.


Dengan mengenda-endap, dia mengikuti langkah wanita itu. Ketika sampai tepat di depan ruangan, Dia sengaja membuka sedikit pintunya, guna mendengar pembicaraan di dalam sana. Rayyan sangat terkejut ketika Divia menanyakan alamat tempat tinggal Maura. Karena merasa curiga, Pria itu berencana untuk membuntuti Divia, namun terlebih dulu dia akan mencari informasi melalui teman dekat Maura dengan dalih meminta bantuan.


Setelah melakukan misi pertama, yaitu meminta bantuan yang berakhir bentakan dari Mira. Rayyan segera mendatangi tempat tinggal Maura. Dan benar saja, disana sudah ada Divia yang tengah berbicara berdua dengan gadis itu. Ibu Emran mengancam hingga menyebut Maura sebagai perempuan murah*n jika dia tidak mau menjauhi Emran. Sungguh, Rayyan sangat geram mendengar itu semua. Ingin rasanya dia masuk ke dalam untuk membela dan melindungi gadis pujaannya. Tapi semua itu dia tahan, demi mendengar kelanjutannya.


Rayyan segera merapatkan tubuhnya pada dinding saat Divia keluar dengan gaya angkuhnya. Dia mengintip sekilas dari balik pintu yang memang terbuka sejak tadi. Dilihatnya, Maura tengah termenung sendirian dengan air mata membasahi pipi. Dia kembali mengurungkan niatnya untuk masuk, memilih meninggalkan tempat itu. Membiarkan Maura menenangkan diri terlebih dahulu.


Rayyan menghembuskan nafas kasar.


''Pasti dia belum tau, jika di balik sikap Maura ada campur tangan ibunya," gumam Rayyan dengan menyandarkan tubuh di sofa yang ada ruang kerjanya.


''Semoga dia mau mengikuti saranku. Aku ini musuh yang baik, bukan? Memberi saran yang membangun untuk lawannya. Di mana ada rival seperti ku di bumi ini," gumamnya lagi dengan kepercayaan diri penuh.


Ketenangannya di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang menyampaikan sebuah berita yang membuat matanya terbelalak. Pria itu segera berlari menuju tempat yang di beritahukan.


...----------------...


Seorang pria duduk di pinggiran danau, tempatnya sangat sejuk dan indah. Dia merasa sangat nyaman berada disini. Berulang kali, bibirnya berdecak kagum melihat tempat yang di pijaki saat ini.


''Mas." Suara lembut seseorang yang sangat dia rindukan menyapa pendengarannya.


''Riyana, kau kah itu?" tanyanya dengan senyum terkembang.


''Aku merindukanmu, Riyana. Kau tau, aku tersiksa tanpamu. Selama ini aku mencarimu. Ayo pulang bersamaku," ucap Bram hendak menyentuh tangan istrinya, namun Riyana segera menghindar.


''Kenapa, Ria?" Bram menatap bingung kearah istrinya.


''Pulanglah, Mas. Anakmu ada di dekatmu."


Bram tertegun, seketika dia teringat pada satu nama.


''Maura." Nama itu spontan terucap dari bibirnya.


"Anakmu di dekatmu." Suara lembut itu kembali terngiang di telinganya, meskipun si pemilik suara sudah tidak ada di tempat.


"Maura."

__ADS_1


"Maura...."


Tanpa sadar, dia melangkah maju hingga tubuhnya menghilang pada sebuah cahaya yang teramat terang.


''Maura!"


Bram tersentak dengan membuka mata.


''Maura, di mana putriku."


Sonia yang tertidur di ruangan itu langsung terbangun ketika mendengar suara keras dari ranjang pesakitan.


''Tuan, akhirnya Anda bangun," ucapnya penuh kelegaan.


Wanita itu segera memencet tombol darurat yang ada disana.


''Di mana putriku, Maura? Aku ingin bertemu. Di mana dia?" Pria baya itu mengguncang keras tubuh tubuh sekretarisnya.


Sonia berhasil dibuat bingung dengan keinginan tuannya. Pasalnya, dia tidak mengetahui apa-apa. Hanya rekannya yang bisa mewujudkan.


''Di mana putriku? Aku ingin bertemu." Bram terus mengulang kalimat yang sama.


''Aku ingin bertemu Maura...."


''Ada apa, Nona?" Maura datang dengan nafas terengah-engah.


''Tuan Bram sadar, Dok? Dokter kemana saja, sih? Dari tadi saya panggil tidak datang-datang," jawab Sonia dengan menahan kesal.


''Saya minta maaf, saya habis mengecek kondisi pasien lain."


''Baik saya akan periksa kondisinya." Maura mendekati pria baya itu, lalu melakukan beberapa pemeriksaan.


''Maura," panggil Bram dengan menatap intens wanita muda di depannya.


''Bukan, Tuan. Dia dokter yang menangani tuan. Hanya namanya saja yang sama." Sonia menimpali.


Maura hanya menanggapi dengan senyum lembutnya.

__ADS_1


''Putriku."


''Tuan, istirahat dulu ya," ucap Maura dengan lembut.


Dia memberi isyarat pada seorang suster yang bersamanya untuk menyuntikkan obat tidur ke infus.


''Tuan istirahat agar bisa bertemu dengan putri Anda," ucap Maura dengan menaikkan selimut hingga sebatas dada.


''Om...." Suara seorang pemuda mengalihkan perhatian semua yang ada ruangan itu.


''Rayyan,'' panggil Maura. ''Kok kamu disini?"


''Dia Om ku," jawab pemuda itu singkat.


Maura hanya mengangguk menanggapi.


''Bagaimana kondisinya?"


''Kondisinya sudah stabil dan membaik. Tinggal pemulihan saja. Dia selalu mencari putrinya. Kalau bisa segera bawa dia kesini. Mungkin saja dengan kehadiran putrinya bisa membawa pengaruh baik untuk kesehatan Tuan Bram."


''Itu dia masalahnya....''


''Kita bicara di depan, sepertinya obat tidur yang ku beri mulai bereaksi." Dokter muda itu menyela ucapan pria di depannya.


Rayyan mengangguk menyetujui, lalu mengikuti langkah Maura.


''Masalahnya, yang mengetahui perihal putri om hanya Asistennya. Sedangkan, posisinya sekarang berada di luar kota tengah mengurus pekerjaan om ku yang terbengkalai," desah Rayyan frustasi.


Pria itu duduk di kursi tunggu yang tak jauh darinya menumpukan kedua siku pada paha, menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


''Apa tidak bisa di tinggal? Tuan Bram selalu mencarinya. Aku cuma takut nanti dia stres dan berdampak buruk dengan kondisinya."


''Baiklah, nanti coba ku hubungi dia," putus Rayyan.


''Terima kasih, Ra. Sudah merawat Om ku dengan baik. Dia satu-satunya keluarga yang ku miliki."


''Sudah kewajibanku. Kamu yang sabar, om kamu sudah tak apa-apa," ucap Maura dengan mengusap lembut pundak kekar itu.

__ADS_1


Emran mengeraskan rahang melihat interaksi dua manusia itu. Hanya melihat Maura tersenyum dengan laki-laki lain saja sudah membuat hatinya panas apalagi melihat langsung, dia bersentuhan dengan pria lain. Semakin terbakar hatinya.


__ADS_2