Pencarian Maura

Pencarian Maura
Kau Wanita Baik, Ra


__ADS_3

"Mbak Maura!"


Lengkingan suara emas Mira membuyarkan suasana romantis sepasang manusia yang tengah berpelukan mesra di ruang perawatan.


''Mira, kok kamu di sini? Sama siapa."


''Sama aku," sela Rayyan yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu.


''Mbak, aku kangen," ucap Mira dengan manja. Dia menyerobot tubuh sahabatnya hingga terlepas dari dekapan Emran.


''Kamu tau dari mana aku di sini?"


''Tuh." Mira menunjuk ke arah Rayyan menggunakan dagunya.


''Ehem!"


Emran berdehem keras karena merasa diacuhkan.


''Hehe, maaf ya, Dokter. Mbak Maura aku pinjam dulu," cengir gadis itu dengan menunjuk deretan giginya.


''Ra, aku angkat telpon dulu." Emran berpamitan keluar ruangan ketika handphone-nya berdering.


''Iya..."


''Mbak, gimana ceritanya kok mbak bisa diculik begitu? Kayak anak kecil aja." Mira memulai kekepoannya.


''Ya gak gimana-gimana, tiba-tiba aku dibekap pakai saku tangan, setelah itu gak sadar. Pas bangun aku sudah ada di gubuk reyot. Eh ,taunya ada di tengah hutan," papar Maura.


''Ih, serem ya ... Dia minta tebusan berapa milyar? Huh, kalau itu aku mungkin sudah aku ulek itu anunya biar gak bisa berdiri lagi--"


Mira terus saja berceloteh tanpa memerhatikan perubahan raut wajah Maura.


''Banyak sampai sampai harus menghabiskan harta ayah," ucap Maura dengan mata menerawang jauh ke depan


''Apah?!" teriak Mira yang merasa terkejut. ''Wah, bener-bener tuh orang. Mau disambel beneran itu sosisnya. Itu namanya pemerasan mesti dilaporin ini." Mira berucap dengan berapi-api.


''Itulah, Mir. Aku merasa seperti anak tak berguna, baru juga bertemu dengan ayahku. Aku sudah menghabiskan seluruh jerih payahnya."


''Kamu salah, Ra." Rayyan menyela pembicaraan dua wanita itu.


Sontak, keduanya kompak menoleh kearah pemuda itu.


''Salah, bagaimana? Jelas-jelas ayah memberikan apa yang diminta pria kejam itu," sarkas Maura.


''Itu bagian dari rencana kami. Yang jelas, Om Bram tidak semudah itu menuruti keinginannya," balas Rayyan dengan santainya.


''Jangan bilang kalau semua itu ... Jebakan?" tebak Maura ragu-ragu.

__ADS_1


''Ya semacam itulah. Asal kau tau, Ra. Om Bram itu sangat cerdik. Kejadian ini sudah makanan sehari-hari baginya. Dia sudah bertahun-tahun merajai dunia bisnis. Untuk ke depannya, kau harus selalu siap mengahadapi hal semacam ini, Ra. Karena memang beginilah resiko menjadi orang terdekat dari seorang Bramasta Haydar," tutur Rayyan dengan mimik serius yang membuat Maura tak dapat menutupi rasa terkejutnya.


''Mungkin inikah alasan ibu menyembuhkan jati diriku yang sebenarnya?" batin Maura bertanya-tanya.


''Bukan hanya kau, Ra. Akan tetapi, aku juga mungkin akan menjadi incaran para musuh Om Bram." Pemuda itu menyambung ucapannya.


''Kalau begini, aku ingin identitasku disembunyikan saja. Aku ingin menjadi orang biasa seperti dulu."


''Apa kau serius, Ra?" tanya Rayyan ragu-ragu.


Maura mengangguk mantap.


''Aku kira jadi orang kaya itu enak, pengen apa-apa tinggal tunjuk habis itu, cling! Langsung jadi. Kalau seperti ini, aku mau jadi orang biasa saja yang penting hidup tenang." Mira membuka suara setelah menjadi pendengar setia sejak tadi.


''Kau kira sulap, Dasar Gadis Aneh," celetuk Rayyan dengan kesal.


''Sebaiknya, Dokter Rayyan diam daripada ngomong tapi bikin hati dongkol." Mira melirik sinis pemuda itu.


''Kalian kalau bertengkar terus, aku jodohkan lho," goda Maura.


''Ogah!" jawab keduanya serempak.


Maura tak bisa lagi menahan tawanya, selalu menjadi hiburan tersendiri baginya ketika melihat dua makhluk itu beradu mulut.


...----------------...


''Apa?!" Suara Angelo menggema di sebuah ruangan.


Matanya menyorot tajam pria yang berada di depannya, tangannya terkepal kuat dengan rahang mengeras.


''Coba kau periksa lagi, tidak mungkin tidak bisa. Aku mendapat semua ini dari pemiliknya langsung."


''Saya sudah mengeceknya berkali-kali, Tuan. Tapi, tetap tidak bisa. Akusisi Anda jelas akan ditolak, jika Anda masih nekad untuk mengajukan saya yakin Anda akan berhadapan dengan hukum."


''Kurang aja, kau Bram! Berani kau menipuku," geram Angelo.


''Aku sudah bilang padamu, El. Hati-hatilah dengan orang seperti Bram. Aku yakin, sekarang kau menjadi target buruannya. Apalagi yang kau libatkan dalam misimu ini orang bayaran semua. Apa kau yakin mereka tidak akan membuka mulut meskipun kau sudah membayar mahal," seru ayah angkat Angelo.


Angelo tak memberi tanggapan apapun, meski dia ingin. Karena dia tidak ingin melampiaskan amarahnya pada pria baya itu. Pria yang sudah merawatnya seperti anak sendiri.


''Aku akan memikirkan langkah selanjutnya. Yang jelas misi balas dendamku masih terus berjalan, sampai Bram merasakan apa yang aku rasakan dulu."


''Kau memang keras kepala, El. Hanya kau seekor kelinci yang berani menantang singa. Turuti saranku sebelum kau bernasib sama seperti ayahmu," ucap pria itu penuh peringatan sebelum meninggalkan ruangan.


''Awas kau, Bram! Aku akan menghancurkan seluruh keluargamu sampai tak bersisa. Seperti yang kau lakukan pada keluargaku," batinnya menahan geram dengan sorot mata penuh dendam.


...----------------...

__ADS_1


''Maura," panggil Rayyan pelan.


''Ya."


''Aku minta maaf atas sikapku waktu itu. Aku benar-benar dibutakan oleh rasa cintaku padamu, sehingga aku melupakan semua kenyataan yang ada," ucap Rayyan merasa bersalah.


Dia tidak berani menatap gadis itu, rasanya seperti tidak punya muka jika mengingat obsesinya beberapa waktu yang lalu.


''Sudahlah, Ray. Aku anggap kau khilaf. Aku tau. Sebenarnya, kau pria baik. Tanpa kau meminta maaf pun aku sudah memaafkanmu," kata Maura diiringi senyum tulusnya.


''Kita bersaudara, tidak sepantasnya kita bermusuhan," sambung wanita itu.


''Kau memang gadis yang baik, Maura. Sangat disayangkan jika suatu saat kau mendapatkan mertua seperti ibunya Emran," batin Rayyan dengan menatap lekat wajah gadis itu.


"Terima kasih untuk kelapangan hatimu. Istirahatlah! Lihat hadis aneh itu sudah tidur duluan, padahal siapa yang sakit di sini. Tidak sopan," gerutu Rayyan dengan melirik sebal gadis yang terlelap di samping sepupunya.


''Biarkan saja, dia pasti kelelahan. Pulang kerja langsung ke sini. Belum lagi, perjalanannya jauh."


Maura memang meminta Mira untuk menginap, mengingat hari sudah lumayan larut dan jarak tempuh yang cukup jauh. Dia juga meminta Mira izin tidak masuk untuk esok hari, agar wanita itu menemaninya di tempat itu karena dia sering merasa bosan berada di sini sendirian.


''Ya sudah, aku ke ruangan Om Bram dulu. Di depan pintu ada para penjaga. Kalau butuh apa-apa panggil saja mereka, atau telpon aku."


''Iya...."


''Rayyan."


Panggilan Maura menghentikan langkah pemuda itu di ambang pintu.


''Hmmm."


''Apa kau menyukai, Mira?"


Rayyan langsung mengalihkan pandangan ke arah wanita yang tengah bersandar di ranjang pesakitannya, kemudian terkekeh kecil.


''Ngaco, kamu."


''Tidak,'' sangkal Maura.


''Mungkin jika perasaanmu padaku hanya sebatas obsesi tapi untuknya." Maura melirik wanita yang terlelap di sampingnya, "aku yakin jika itu murni cinta," lanjutnya lagi.


Rayyan hanya menggeleng pelan mendengar penuturan wanita itu.


''Istirahatlah! Ini sudah malam."


''Iya...."


''Nanti, aku akan menemani kalian di sini."

__ADS_1


__ADS_2