
''Di mana Maura? Kenapa di situasi genting seperti ini dia tidak ada?" tanya Andrian ketika menolong Rayyan menuju mobilnya.
''Aku tidak tau, Maura tidak ada di kamarnya tadi," jawab Rayyan setengah berteriak karena terganggu dengan kebisingan sirine mobil pemadam kebakaran yang saling bersahutan.
Andrian berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah pria yang ada di sampingnya ''Maksdumu dia kabur?"
''Entah kabur, entah di culik." Rayyan mengedikkan bahunya acuh.
''Nanti coba aku cek CCTV. Buruan kita susul Om Bram, aku khawatir dengan keadaannya."
Andrian mengangguk. Dia segera membukakan pintu mobil untuk Rayyan. Setelah pria itu merasa nyaman, dia segera ke tempatnya, kemudian menyalakan mesin mobi bergegas menyusul ambulans yang membawa Bram beberapa menit yang lalu.
...----------------...
Tak membutuhkan waktu lama, rombongan pelarian Emran telah sampai di bandara. Emru bernafas lega karena telah berhasil membawa sang kakak dan wanita pujaannya sampai tepat waktu.
''Akhirnya, kita bisa mengejar waktu, Kak. Aku salut dengan kerja kerasmu." Emru menepuk pundak saudara kembarnya.
''Ini semua juga berkat kau. Aku sangat berterima kasih padamu, Emru," balas Emran diiringi senyum tulus.
''Yang aku lakukan ini tidak ada apa-apanya selain untuk kebahagiaanmu, Kak. Kalian berbahagialah! Jika ada waktu berkunjunglah kemari." Pria berparas tampan itu menatap sepasang kekasih di hadapanya secara bergantian.
Maura hanya menanggapi dengan senyum tipis. Karena dia tidak tahu harus berkata apa, memang ini kali pertamanya bertemu dengan saudara kembar pria pujaannya, bahkan wajah mereka sangat mirip. Yang membedakan hanya Emran berkacamata, sedangkan Emru tidak.
''Aku pulang dulu," pamit Emru.
''Sampaikan terima kasihku pada papa," teriak Emran ketika adiknya sudah menjauh.
''Yuk, masuk," ajaknya dengan menggenggam lembut jari tangan Maura.
__ADS_1
Emran segera mengurus prosedur keberangkatan mereka. Setelah selesai, keduanya menuju gate tempat tunggu keberangkatan.
''Berarti semua ini sudah kalian persiapkan?"
Emran mengangguk menanggapi.
''Dan Tuan Raichand ... Terlibat dalam rencana kalian," tebaknya lagi.
Lagi dan lagi, Emran mengangguk.
''Astaga...."
''Tidak usah terkejut begitu, papa dan mama memiliki sikap yang berbeda. Papa lebih tenang dan bijak dalam mengambil setiap keputusan, sedangkan mama cenderung mengedepankan emosi. Papa hanya ingin aku bahagia," pungkas Emran dengan senyum manisnya.
Senyum yang sangat dirindukan oleh Maura.
''Bagaimana jika mamamu mengetahui hal ini?"
''Kamu jawab gitu karena kamu gak kena imbasnya. Mamamu pasti akan menyalahkan aku," sungut Maura dengan bibir mengerucut.
''Tenanglah! Aku akan selalu bersamamu, tidak ada yang akan memisahkan kita meskipun itu ibu kandungku sendiri." Emran mendekap wanita itu dari samping, lalu mengeratkan dekapannya
''Bagaimana tunanganmu?"
''Bagaimana calon suamimu ... Oh, salah. Bagaimana suamimu?"
Maura berdecak kesal, bukan menjawab pertanyaannya. Pria ini malah balik bertanya dengan pertanyaan yang terdengar menyebalkan di telinga Maura.
''Kami belum menikah, tadi aku meminta mereka menunggu dengan alasan sakit perut."
__ADS_1
''Sudahlah, kita tidak usah membahas tentang mereka. Biarkan dia kelimpungan mencariku. Aku tidak peduli." Maura memilih mengakhiri pembahasan itu.
''Aku juga risih dengan wanita itu," kata Emran.
Maura hanya mencebik mendengarnya. "Risih kok mau di pegang-pegang.''
"Apa kau cemburu, Maura?" Pria itu tampak menaik-turunkan alisnya untuk menggoda sang pujaan hati.
''Kepercayaan diri Anda terlalu tinggi, Bung," jawab Maura dengan memalingkan muka. Dia tidak ingin Emran melihat wajahnya yang memerah karena telah ketahuan cemburu.
''Aku senang jika kau mau mengakuinya."
''Ih, app...." Ucapan Maura berakhir menggantung saat tanpa sengaja mendengar pembicaraan dua orang wanita yang berada di belakangnya.
''Eh, kediaman mewah Bramasta Haydar kebakaran hebat.''
''Masa sih? Coba lihat. Ya ampun ... Hari ini 'kan bertepatan dengan acara pertunangan putri tunggalnya." Wanita kain berkomentar.
''Bukan pertunangan tapi pernikahan," sanggah wanita pembawa berita.
''Iya, 'kah? Ya ampun apinya besar banget, semoga gak memakan korban. Trending teratas di mana-mana."
Seketika, tubuh Maura menegang di tempat. Pikirannya mendadak tidak karuan, berbagai pikiran buruk bersarang dalam benaknya.
''Em, kau dengar, 'kan?'' tanyanya dengan berbisik.
Belum sempat Emran menjawab, terdengar suara panggilan boarding pesawat yang menyebut seri pesawat yang mereka tumpangi. Hal itu tidak di sia-siakan oleh Emran. Dia segera menarik tubuh sang kekasih untuk berbaur bersama penumpang lain.
''Jangan pikirkan berita yang belum tentu kebenarannya. Banyak berita hoax yang viral.''
__ADS_1
''Sudah waktunya kita berangkat. Ayo...."
Maura mencoba berpikir ulang, apa yang dikatakan Emran ada benarnya. Dia tidak boleh terpengaruh sebelum mengetahui sendiri kenyataannya.