
Maura meraba-raba benda pipih yang berbunyi nyaring, mengganggu tidurnya. Dia membuka sedikit matanya untuk mencari ikon hijau, lalu mengangkatnya tanpa melihat identitas si pemanggil.
''Hallo," sapa Maura dengan suara khas orang baru bangun tidur, bahkan matanya pun masih terpejam terasa sangat berat untuk terbuka.
''Dokter, ada pasien rujukan dengan kondisi darurat dengan luka tembak di area dada. Kondisi pasien kritis, Dok. Karena posisi dokter yang paling dekat dengan rumah sakit ini. Dokter diminta untuk kemari sesegera mungkin." Suara seorang suster menyapa indra pendengarannya.
''Apa tidak ada dokter yang berjaga di sana? Dokter Erwin mungkin atau Dokter yang lain," ucap Maura masih dengan nada dan posisi yang sama.
''Tidak ada, Dokter. Kebetulan pasien yang ada di ruang ICU sudah siuman. Dan sudah dipindah ke ruang rawat. Jadi tidak ada dokter yang khusus yang berjaga malam ini."
''Baiklah, aku akan segera kesana. Segera persiapkan semuanya. Sesampainya di sana, kita langsung memulai operasinya."
''Siap, Dok."
Panggilan pun berakhir. Maura menyempatkan melihat jam pada ponsel yang ternyata masih pukul satu dini hari. Dengan mata terpejam, dia beranjak dari tempat tidur, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah dirasa kantuknya hilang, dia segera bersiap. Tak lupa meninggalkan memo kecil yang ia tempelkan pada pintu kulkas agar Mira tidak kebingungan mencari dirinya saat terbangun nanti.
Sepuluh menit kemudian, wanita itu sampai di rumah sakit dengan dibonceng salah seorang sekuriti apartemen. Setelah mengucapkan terima kasih, dia segera berlari menuju ruang ganti untuk berganti pakaian, kemudian segera menuju ruang operasi untuk melaksanakan tugasnya.
...----------------...
Beberapa jam sebelumnya....
"Bagaimana bisa kecolongan! Apa gunanya punya pengawal banyak, sampai Om Bram tertembak tidak ada yang tau," teriak seorang pria yang berada di dalam mobilnya.
''M-maafkan saya, Tuan." Hanya itu yang mampu diucapkan Sonia, sekretaris pribadi Bram.
''Tadi saya fokus mengikuti langkah lebar tuan. Beliau memaksa pulang setelah mendapat telepon dari Asisten Anton," ujarnya dengan nada penuh ketakutan.
Amukan keponakan tuannya lebih mengerikan di banding amukan Tuan Bram sendiri.
"Cari tau pelakunya sampai ketemu. Setelah itu, seret ke hadapanku," titahnya dengan nada dingin.
"Sudah, Tuan. Asisten Anton sedang mengurusnya sekalian mengurus proyek yang telah di menangkan Tuan Bram."
"Lalu, bagaimana kondisi Om Bram sekarang?" tanya Pria bermanik coklat itu dengan tatapan menghunus ke depan.
''Kritis, Tuan."
''APA!"
Sonia reflek menjauhkan ponsel dari telinga ketika mendengar pekikan pria di seberang sana.
''Tuan sudah di rujuk ke rumah sakit besar yang ada di ibukota agar segera mendapatkan penanganan. Di sebabkan fasilitas di rumah sakit ini kurang memadai."
__ADS_1
''Ya sudah lakukan yang terbaik untuk Om ku. Sampai terjadi sesuatu dengannya, nyawa kalian jadi taruhan" Pria itu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
Kekesalannya semakin bertambah, saat melihat kemacetan di depannya semakin mengular.
''Si*l! Macet segala di situasi genting seperti ini." Pria itu memukul kesal setir kemudinya.
...----------------...
Akhirnya, setelah menunggu selama satu jam lebih, lampu merah yang berada di depan ruang operasi dimatikan. Tanda operasi telah selesai.
Sonia masih menunggu resah di depan sana segera menghampiri dokter wanita yang baru keluar dari ruangan itu.
''Bagaimana kondisi bos saya, Dok?" tanyanya dengan wajah penuh kecemasan.
Maura menunjukkan senyum teduhnya.
"Operasi berhasil. Tuan Bram sudah melewati masa kritisnya. Nasib baik masih berpihak padanya, peluru tidak sampai mengenai jant*ng, jadi beliau bisa terselamatkan. Beruntung, beliau segera dibawa kemari, terlambat sedikit saja, kemungkinan besar nyawanya tidak tertolong."
Sonia menghembuskan nafas lega mendengar penjelasan itu.
''Berhubung kondisi Tuan Bram masih membutuhkan pemantauan ketat. Beliau akan dipindahkan ke ruang ICU," tutur Maura.
''Kapan tuan akan sadar, Dok?"
"Permisi."
Wanita itu hanya mengangguk. Dia segera mengambil ponsel untuk memberi kabar pada seseorang.
...----------------...
Tepat pukul empat dini hari, Maura berencana untuk pulang. Salah satu rekannya ada yang bersedia mengantikan sementara. Setelah memastikan kondisi pasien stabil. Tak lupa, dia juga berpesan pada rekannya itu untuk menghubungi dirinya jika terjadi sesuatu pada pasien.
Entah kenapa, ada rasa berbeda yang dia rasakan pada pasiennya kali ini. Dia merasakan kekhawatiran yang berlebih, padahal sebelumnya dia tidak pernah seperti itu. Ada perasaan yang seolah tak ingin kehilangan.
''Perasaan macam apa ini? Apa karena aku pernah menolong orang itu?" batinnya bertanya-tanya.
Langkahnya terasa sangat berat meninggalkan ruangan steril itu. Matanya enggan berpaling dari pria paruh baya yang terbaring lemah di dalam sana. Berbagai alat penunjang kehidupan tertempel di tubuhnya yang terhubung langsung pada monitor. Dia seperti melihat sosok Riyana yang tengah berjuang melawan penyakitnya kala itu.
''Mungkin karena aku sedang merindukan ibu, makanya perasaan ini muncul begitu saja."
Tak ingin terlalu larut dengan suasana hatinya, Maura melanjutkan langkahnya hingga tanpa sengaja dia bertemu seseorang yang sangat familiar di parkiran. Pria itu terlihat sangat terburu-buru dengan wajah gusar menuju rumah sakit.
"Rayyan," sapa Maura.
__ADS_1
Pria yang merasa di panggilpun menoleh.
"Maura, sedang apa disini sepagi ini?" tanya Rayyan.
''Semalam ada pasien darurat. Kamu sendiri kok terlihat terburu-buru begitu, ada apa?"
''Aku ada urusan darurat," jawabnya singkat.
Maura membulatkan mulutnya, mungkin ada pasiennya yang akan melahirkan, pikirnya.
''Ya sudah aku duluan," pamit Maura.
Baru beberapa langkah wanita itu melangkah, terdengar suara Rayyan memanggil namanya. Maut tak mau, Maura kembali menoleh diiringi senyum manisnya.
''Ini, Ra. Kemarin, aku habis dari Kota Hujan, ada sedikit oleh-oleh khas daerah sana buatmu." Rayyan menyerahkan tiga kotak bingkisan untuk wanita pujaannya.
''Wah, apa ini?" Maura menerima bingkisan itu dengan mata berbinar.
Karena terlalu penasaran, Maura membuka satu per satu kotak itu untuk melihat isinya.
''Roti unyil, Bolu talas, lapis talas. Banyak banget, bolu-boluan seperti ini makanan kesukaan aku. Makasih ya, Rayyan," ucap Maura dengan riang.
Senyum gadis itu terkembang sempurna hingga menular ke bibir Rayyan.
Bagi pemuda itu, tidak ada pemandangan paling indah di bandingkan pemandangan wanita di depannya, pagi ini. Senyum Maura mampu membangkitkan semangatnya.
''Bye, Rayyan. Aku gak sabar buat nikmatin bingkisan darimu ," ucap Maura sambil berlalu.
"Semoga perhatian kecilku ini bisa membuka sedikit ruang hatimu untukku, Ra," gumam Rayyan dengan mata terus memandang punggung seorang gadis yang semakin menjauh.
Namun, sedetik kemudian. Dia teringat akan tujuannya yang membuat dirinya datang ke rumah sakit sepagi ini. Pria itu segera berlari menuju tempat yang sudah di beritahukan.
...----------------...
Maafkanlah aku yang minim pengetahuan ini. Jika di part ini ada beberapa bagian yang tidak sesuai dengan prosedur rumah sakit di dunia nyata. Harap maklum ya, ini dunia halu. Tolong samakan saja dengan adegan sinetron yang bertebaran di televisi. Disana juga banyak banget adegan yang tidak masuk di akal. Hehe.... ketahuan si otor tukang mantengin sinetron. Maaf ya..., maklum kaum emak-emak...
Jangan lupa angkat jempolmu, Bestie....
Like, tekan love-nya plus komentar. Tanggapanmu, semangatku (Eaa... Mode lebay kumat)
Hadiah sama vote seikhlasnya saja....
See you next part
__ADS_1
Babay...