Pencarian Maura

Pencarian Maura
Kebenaran


__ADS_3

''Kau kenapa?" Emran menghampiri saudara kembarnya yang tengah termenung sendiri di taman belakang.


Dari setengah jam yang lalu, dia perhatikan adiknya tampak murung dengan tatapan kosong ke depan.


Tak ada jawaban sepatah katapun yang keluar dari mulut pria itu. Dia masih setia dengan kebungkamannya.


''Kau tidak sendiri menghadapi masalah ini, masih ada aku. Aku akan selalu ada untukmu tanpa kau minta sekalipun. Jangan dengarkan omongan papa. Dia hanya emosi sesaat,'' tutur Emran yang mengira adiknya bersedih karena masalah perusahaan.


''Bukan karena itu, Kak," jawab Emru lesu.


''Lantas?" tanya Emran dengan menaikkan sebelah alisnya.


Emru menghela nafas panjang. ''Dia mengakhiri hubungan ini disaat aku tengah terpuruk."


Kini, dia paham titik kerisauan sang adik. Ternyata, ulah dua wanita sialan itu.


''Apa alasannya meminta berakhir?" Emran pura-pura bertanya padahal dia sudah mengetahui alasan mereka.


''Karena aku mengabaikannya selama beberapa hari. Dia menganggap aku sudah tidak sayang lagi. Padahal aku sudah menjelaskan semuanya tapi dia tetap pada pendiriannya, bahkan nomorku diblokir."


Emran menanggapi dengan kekehan sinis. Dia tidak menduga jika mereka wanita bermuka dua.


"Dan kau percaya begitu saja?'


Emru mengangguk lemah.


''Itu berarti kamu bodoh."


Seketika pria itu mengalihkan pandangan kearah sang kakak. Dia menatap tajam pria yang tengah menyeruput secangkir kopinya dengan santai.


''Kenapa kau ingin marah? Silahkan!"


Emru memalingkan wajah dengan kesal tanpa menanggapi ocehan kakaknya.


''Asal kau tau, Em? Ashita juga melakukan hal yang sama kepadaku, tapi apa aku sedih sepertimu? Tidak, 'kan? Justru aku sangat bersyukur karena telah dijauhkan dari wanita seperti mereka."


''Jika mereka memang tulus mencintai kita. Mereka tidak akan melakukan hal ini. Semestinya mereka men-support bukan malah meninggalkan."


"Buka pikiranmu, Emru. Jangan mau dibodohkan oleh cinta," pungkas Emran sebelum berlalu dari hadapan adiknya.


Emru semakin menatap kesal sang kakak.


"Jangan mau dibodohkan oleh cinta." Dia meniru ucapan Emran dengan nada mengejek. "Tidak sadar, dia sendiri begitu sama Maura," gerutunya dengan kesal.


Namun sedetik kemudian, dia tampak merenungkan semua ucapan Emran. Jika dipikir ulang ada benarnya juga, mungkin alasan yang diutarakan Erika kemarin, bukan alasan yang sebenarnya, melainkan hanya sebuah alibi.


...----------------...


''Kok pagi-pagi udah di mari aja, sih, Al? Kamu gak kerja?" tanya Maura menatap heran sahabatnya sudah berada di rumah bunda.


''Kamu gak dengar kabar, Ra?"


Maura mengernyitkan kening. "Kabar apa?"

__ADS_1


''Rumah sakit melakukan pengurangan pegawai besar-besaran."


''Serius kamu, Al! Gak usah ngadi-ngadi," timpal Maura yang masih belum mempercayai kabar tersebut.


''Ya elah, Ra ... Buat apa gue bohong. Gak guna. Ini gue kemari mau minta kerjaan sama bunda buat sementara, sambil nunggu panggilan di tempat baru."


Maura terdiam sejenak, pikirannya menerka-nerka, apa keluarga Emran sedang tidak baik-baik saja, ada apa dengan mereka.


Dia menghela nafas ketika teringat kembali pada pria yang saat ini berusaha dia lupakan. Dia memilih menghentikan rasa penasarannya, kemudian segera memasuki rumah untuk berpamitan pada bunda.


''Mbak, sudah dengar berita belum," ucap Mira ketika mereka berada dalam perjalanan menuju tempat kerja.


''Kabar apa?" tanya Maura yang masih fokus pada jalanan.


''Mengenai keluarga Dokter Emran," ujar Mira setengah berteriak karena kebisingan kendaraan sekitar.


Keduanya memang lebih suka mengendarai kendaraan roda dua dari pada angkutan umum. Lebih efisien untuk menghemat waktu. Meskipun tidak berada di kota besar tempat tinggal Maura lumayan ramai, kendaraan padat merayap setiap kali jam-jam sibuk karena termasuk pusat kota.


''Apa kurang jelas suaramu?" Maura bertanya dengan suara keras.


Bertepatan dengan itu pula, Maura berhenti di lampu merah. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Mira untuk menunjukkan sesuatu yang dia baca dari ponselnya.


''Ini, Mbak...."


Maura yang tidak percaya pun segera merebut benda pipih tersebut, matanya membaca berulang-ulang judul sebuah artikel yang tertera di sana.


''I-ini...." Wanita itu meminta penjelasan pada sahabatnya.


''Iya, Mbak. Keluarga Dokter Emran sedang tidak baik-baik saja. Mereka mengalami kebangkrutan hingga berimbas pada rumah sakit. Dan cabang yang ada di kota ini terpaksa mereka jual untuk menutupi hutang perusahaan.''


''Kenapa menatapku seperti itu," protes Mira yang merasa risih dengan tatapan sahabatnya.


''Dari mana kamu mengetahui semua itu? Sepertinya kamu tahu banyak tentang berita ini." Maura bertanya dengan tatapan super julidnya.


''Emm ... Emm .. Itu...."


Ketika Mira masih memikirkan alasan yang tepat, tiba-tiba terdengar suara klakson saling bersahutan yang meminta kendaraan yang ada di depannya untuk segera berjalan.


Mau tak mau, Maura harus segera melaju dengan menahan rasa penasarannya.


Untuk sejenak Mira bisa bernafas lega. Setidaknya dia bisa merangkai kata yang tepat untuk jujur pada sahabatnya.


...----------------...


''Sekarang katakan! Dari mana kamu mengetahui semua itu.'' Maura mengulang pertanyaannya ketika mereka sampai parkiran tempat kerja.


Mira menghela nafas pelan, sepertinya ini waktu yang tepat.


"Dokter Rayyan," cicitnya.


''Siapa? Katakan lebih keras, Mira ... Seperti saat kamu teriak-teriak gak jelas," titah Maura mendesak.


''Dokter Rayyan, Mbak...."

__ADS_1


''Kamu masih berhubungan dengannya? Astaga, Mira...." Maura tak bisa lagi menutupi keterkejutan sekaligus kekesalannya.


Ingin rasanya dia melampiaskannya saat itu juga. Namun, dia juga tidak kuasa melakukannya. Alhasil, dia meninggalkan sang sahabat dengan membawa semua amarah.


''Maafin aku, Mbak...,' ucap Mira dengan wajah memelas, berusaha menyeimbangi langkah lebar sang sahabat.


Tak ada tanggapan apapun dari Maura. Wanita itu justru membungkam mulutnya rapat-rapat.


''Mbak, maafkan aku...."


Tak patah arang demi mendapatkan maaf sahabatnya, Mira rela mengikuti hingga ke ruangannya.


''Kembalilah ke tempatmu."


''Tidak sebelum mbak memaafkanku."


Maura menghela nafas, dia tidak bisa mendiamkan sahabatnya terlalu lama.


''Kau tau, 'kan, Mir? Apa tujuanku menjauh dari mereka semua?"


Mira hanya mengangguk pelan.


''Dan sekarang kau seolah mengundang mereka. Aku merasa sia-sia usahaku selama ini, lantas apa gunanya menjauh jika kita masih bisa dijangkau mereka."


''Tapi, bukan aku yang memulai, Mbak. Dia yang terus menerus mengganggu, berkali-kali akun memblock nomornya tapi dia selalu menghubungi dengan nomor baru. Dia benar-benar menganggu, Mbak." Mira menyampaikan pembelaannya.


''Terserahmu lah, Mir...." Maura memilih fokus pada pekerjaannya, memilah-milah desain yang diajukan bawahan yang akan digunakan untuk koleksi terbaru rumah mode mereka.


''Mbak, ada pesan dari Dokter Rayyan," ucap Mira berhati-hati.


Tak ada tanggapan apapun dari Maura.


''Rayyan berpesan, dia ingin meminta maaf atas semua perlakuannya pada pada mbak, juga ingin meluruskan sesuatu."


Maura masih tak memberi respon apapun, tangannya masih fokus pada membolak-balikan kertas di mejanya.


''Kalau sebenarnya Dokter Emran terbukti tidak bersalah dalam peristiwa nahas itu. Dia datang murni untuk mengajak pergi mbak tidak ada niatan lain."


''Sekali lagi, aku minta maaf, Mbak. Permisi....''


...----------------...


Yuk, mampir ke karya temanku juga....


Seorang pria dijuluki 'Bujang Lapuk.' terpaksa harus mencari keberadaan seorang gadis yang telah dia renggut paksa kehormatannya, dan semua itu atas permintaan si bayi mungil tak lain sang keponakan tercinta.


Akan tetapi gadis itu menghilang tanpa jejak, sampai beberapa tahun kemudian sebuah misteri mulai terungkap


Rahasia apakah itu?


Ikuti perjalanan sang Bujang Lapuk Yang Terbelenggu Hasrat dalam mencari gadis itu.


__ADS_1



__ADS_2