Pencarian Maura

Pencarian Maura
Ashita....


__ADS_3

''Nona Maura, apa yang Anda lakukan?" tanya seorang pria yang melihat tingkah aneh nona mudanya.


"Mampus...," batin Maura masih dengan mata terpejam.


"Anda sedang apa, Nona?" tanya salah seorang lagi, "kenapa Anda memejamkan mata seperti itu? Apa ada yang hendak menyakiti Anda?"


"Hah!"


Seketika, Maura membuka kedua matanya. Betapa terkejutnya ia, saat melihat tidak ada sosok Emran di depannya. Dia memperhatikan sekeliling namun nihil, tidak nampak batang hidung pria itu. Sejenak, dia bisa bernafas lega karena aksinya bersama Emran beberapa hari ini masih aman.


''Tidak ada. Aku tadi...." Maura menggigit bibir bawahnya untuk memikirkan alasan yang tepat sekaligus masuk akal.


"Tadi apa, Nona?"


''Tadi...."


Matanya bergerak gelisah ke sana kemari, hingga tanpa sengaja ia melirik sebuah toilet yang terletak tak jauh darinya. Sebuah ide cemerlang melintas begitu saja dalam otaknya.


''Tadi, aku habis dari toilet. Pas mau balik ke mobil aku melihat sepasang pria dan wanita mau...." Maura mendekatkan kerucutan kesepuluh jarinya. "Jadi, aku langsung tutup mata."


''Ada apa kalian mencariku?" sambungnya untuk mengalihkan perhatian.


''Tuan Bram menelpon meminta Anda untuk segera pulang. Beliau mencoba menghubungi Anda tapi tidak tersambung."


''Oh, daya bateraiku habis. Sebaiknya, kita pulang sekarang." Maura berjalan terlebih dahulu, kemudian diikuti dua pria kekar berjas di belakangnya.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata tajam mengawasi semuanya dari tempat persembunyiannya.


...----------------...


Emran menghembuskan nafas lega setelah berhasil sampai ke mobilnya tanpa diketahui dua ajudan Maura. Tadi, dia memang sengaja menjahili wanita itu. Dia juga mendengar langkah seseorang yang semakin mendekat ke arah mereka.


Dia bisa saja membiarkan aksi kucing-kucingan mereka ketahuan, tapi dia tidak setega itu. Dia tidak ingin melihat gadis pujaannya bersedih.


''Hampir saja, dasar duo cecunguk sialan! Bisa-bisanya mereka mengganggu waktuku bersama Maura," umpatnya dengan kesal.


Pria itu segera merogoh ponsel dari saku celana, lalu mengirim pesan pada wanita itu.


[Lain kali bertemu lagi]


Hanya centang satu, itu artinya handphone wanita itu sedang tidak aktif.


Baru saja, Emran meletakkan ponsel di atas dashboard, benda pipih itu berdering kencang tanda ada seseorang yang menelepon. Buru-buru, dia mengangkat tanpa melihat identitas si pemanggil, karena dia yakin jika itu Maura.

__ADS_1


"Hallo...."


"Hallo, Emran." Seseorang berseru riang di seberang sana.


Laki-laki itu mengerutkan kening karena ternyata bukan wanita yang diduga. Dia tidak mengenali suara itu.


''Siapa?" Nada bicaranya berubah dingin tidak se-antusias tadi.


''Ih, masa sama tunangan sendiri gak kenal, sih ... Padahal baru beberapa hari yang lalu," ujarnya dengan manja.


''Dari mana kau mngetahui nomorku?"


''Dari calon ibu mertua," jawab Shita dengan nada yang sama.


Emran diam tak menjawab sepatah katapun karena dia sudah menduga akan hal itu.


''Emran, kok diam. Ajak aku bicara apa gitu, masa diem-dieman gini mirip patung," protes Shita.


''Ada perlu apa?" tanya Emran dengan kecuekaannya.


Ingin rasanya, dia mengakhiri pangilan ini begitu saja. Dia sangat muak berhubungan dengan wanita manja ini.


''Malam ini malam minggu, keluar yuk, Em. Mau ya...."


''Aku sibuk."


Emran memutus panggilan itu secara sepihak. Sungguh, telinganya terasa pengang mendengar suara nyaring itu. Dia memilih mematikan daya ponselnya, lalu menyalakan mesin mobil untuk kembali pulang.


...----------------...


"Emran."


"Hallo, Emran!"


Seorang wanita berteriak dengan ponsel menempel di telinga. Dia mendengus kesal saat layar pipihnya sudah menggelap tanda panggilan telah terputus. Dia mencoba menelpon nomor itu lagi tapi nihil, hanya berakhir dengan suara operator.


''Sialan!" makinya dengan meremas kuat ponsel di tangannya.


''Ada apa, Shita? Kenapa malam-malam berteriak macam orang gila?" Suara seorang wanita dengan logat Melayu yang sangat khas.


''Kesel, Mami. Emran mematikan telponku begitu saja." Wanita itu mengadu pada ibunya.


''Mungkin, dia sedang sibuk. Kau coba mengerti dia, buat dia nyaman bersamamu. Agar kau bisa mengambil hatinya," nasehat wanita baya itu penuh kelembutan.

__ADS_1


''Tapi, Mi. Dia itu selalu cuek sama aku. Dia gak pernah mau melirikku."


''Shita, kau sudah dewasa, Sayang. Jangan berperilaku macam anak kecil yang tidak dibelikan mainan." Wanita baya itu berkata tegas pada putrinya.


''Biarlah, Mi. Memang watak dia macam tu, sejak kecil." Seorang pria paruh baya yang tidak lain Ayah Shita ikut menimpali.


''Kau juga selalu manjakan dia, tak pernah tegas dengannya. Jadilah macam ni saat besar. Cobalah kau tegas sikit," omel Mami Shita dengan kesal.


''Dan kau, Shita. Lepas ni, kau nak menikah. Kau harus bisa berubah menjadi dewasa." Mami Shita beralih mengomeli putrinya dengan nada yang sama.


''Iya, Mi, iya...," jawab Shita dengan setengah hati.


''Jangan, 'iya-iya' je! Dengar baik-baik omongan mami."


Sungguh, telinga Shita terasa panas mendengar ocehan panjang lebar ibunya. Dia segera memberi isyarat mata pada ayahnya untuk meminta wanita baya ini pergi dari sisinya.


''Mami, bibi memanggil." Suara Papi Shita menghentikan ocehan panjang lebar wanita itu.


''Sekejap, Bibi," teriaknya sambil berlalu dari hadapan anak dan suaminya.


Shita menghela nafas lega melihat kepergian ibunya. ''Untung ada papi."


''Macam tu lah, Mami. Siapkan penutup telinga bila ada dia."


''Bagaimana pendekatanmu dengan Emran?" tanya pria baya itu.


''No changes, Papi," jawabnya lemah.


''Kau mesti bisa mendapatkan Emran, Shita. Buat dia bertekuk lutut padamu, setelah itu kau bisa meminta apapun termasuk hartanya," bisik pria baya itu.


Terbit senyum smirk dari bibirnya mendengar hal itu. Benar yang dikatakan papinya, dia harus bisa memikat Emran. Terlebih, sekarang kondisi usahanya tengah berada diambang kebangkrutan.


Inilah tujuan utama mengikuti pengumuman ketika Divia membuat pengumuman tentang mencarikan jodoh untuk kedua putra kembarnya. Dia membutuhkan sokongan dana besar dari berbagai sumber.


Gaya hidupnya yang Hedon membuat dia tidak bisa mengontrol keuangan dengan baik. Terlebih, sang papi lepas tangan penuh dengan kepimpinan Shita. Dia terlalu mempercayai putrinya. Apapun alasan yang diungkapkan Shita ia percayai mentah-mentah tanpa diteliti terlebih dahulu.


Seperti keuntungan perusahaan yang semakin anjlok, Shita beralasan ada salah satu bawahan yang melakukan korupsi, hingga membuat perusahaan rugi besar. Padahal tidak seperti itu kenyatannya. Ibarat besar pasak daripada tiang, begitulah tonggak kepemimpinan wanita itu, bahkan banyak gaji karyawan yang belum terbayar karena masalah ini.


"Tentu saja, Papi. Aku akan melakukan apapun untuk mencapai tujuanku," ucapnya diiringi seringai sinis.


''Good girl, bekerja keraslah! Jika kau tidak ingin menjadi gelandangan."


''Kau tenang saja, Papi. Itu tidak akan terjadi."

__ADS_1


''Jangan panggil aku Ashita! Jika aku tidak bisa menaklukkan keluarga mereka."


Tanpa dia tahu jika keluarga Emran saat ini pun tengah berusaha bangkit akibat ulah calon ibu mertuanya.


__ADS_2