
''Bu, saya tidak bersalah. Keluarkan saya dari sini," teriak Divia dari dalam sel, "saya sudah mengatakan semuanya ... Kenapa saya masih ditahan?" Dia terus menggoyangkan jeruji besi yang tentu saja usahanya sia-sia karena tenaganya tak sekuat Samson untuk merenggangkan benda sekeras itu.
Penampilan wanita itu tampak memprihatinkan, mengenakan baju bertuliskan 'TAHANAN', rambut dicepol asal tanpa riasan sama sekali. Matanya pun terlihat sembab karena terlalu banyak menangis.
''Bu, keluarkan saya! Saya tidak mau di sini?" Divia terus saja berteriak hingga suaranya terdengar serak. Dia kembali menangis saat tak ada yang menggubris teriakannya.
''Heh, diamlah! Suaramu membuat kepalaku pening." Seorang wanita bertubuh tambun menegurnya. Terlihat dua orang wanita berada di sisinya tengah memijat kedua lengan wanita itu.
''Iya, lebih kau diam. Mau sampai suaramu habis pun mereka tidak akan menuruti keinginanmu. Terima saja keadaan." Wanita muda di sisi kanan wanita tambun berceletuk ketus.
''Iya, budek telinga gua gegara suara loe." Wanita muda yang ada di sisi kiri ikut menyahut.
''Kalian yang diam, berani-beraninya membentak saya. Kalian tidak tahu siapa saya?''
Dengan berani, Divia membalas bentakan ketiga wanita itu. Tatapan nyalang ia arahkan kepada mereka.
''Wah, songong nih, emak-emak satu. Enaknya kita apain dia, Mpok?" tanya wanita yang ada di sisi kanan.
''Beri pelajaranlah, siapapun yang masuk ke dalam sel ini, harus mengikuti aturan gue. Karena apa? Karena gue penghuni paling lama di sini," kata wanita tambun itu pongah.
''Cih, penghuni sel tahanan aja bangga," cibir Divia.
Wanita baya itu masih mengangungkan kesombongannya tanpa sadar jika bahaya sedang mengintai dirinya.
"Apa loe bilang?" Wanita tambun itu langsung mendorong tubuh Divia hingga membentur jeruji besi. "Jangan pikir loe lebih tua dari gue, gue bakal menghargai ataupun menghormati loe. Kalau loe belagu tetep gue hajar. Gue gak pandang tua muda," sambungnya dengan berkacak pinggang.
Dengan menahan sakit pada lengannya, Divia menatap tajam wanita yang ada di hadapannya. Dia segera bangkit, berganti mendorong wanita tambun itu hingga membentur dinding.
''Kau pikir aku takut, hah! Kaut tidak tahu siapa aku, aku bisa membuatmu lebih lama mendekam di tempat ini," teriak Divia yang sudah tersulut emosi.
''Hajar, Mpok. Jangan kasih ampun orang baru itu." Salah satu anak buahnya memprovokasi.
Amarah wanita tambun langsung naik ke ubun-ubun setelah mendengar ujaran provokatif tersebut. Sontak dia langsung menjambak rambut Divia dengan kuat.
Divia meringis menahan sakit ketika mendapat tarikan paksa. Tangannya pun langsung meraih rambut lawan. Keributan di dalam sel pun tak dapat terelakkan. Para penghuni sel yang berjumlah lebih dari sepuluh orang pun saling bersorak hingga menimbulkan kegaduhan.
''Lepaskan rambut saya, Gendut," teriak Divia dengan suara tertahan menahan sakit diiringi desisan pelan keluar dari mulutnya.
''Tidak akan!" balas lawannya.
__ADS_1
Karena sudah tidak tahan rasa sakit yang teramat pada rambutnya, kuku panjang Divia berhasil menggores lengan wanita tambun itu.
"Awwssshh, kurang ajar!"
Wanita tambun itu mengeram kesal. Dia langsung membalas dengan mencakar pipi Divia. Sontak, wanita baya itu memekik keras ketika merasakan perih di area pipinya.
''Awww, pipiku," pekiknya.
Pada saat hendak melayangkan balasan, tiba-tiba seorang sipir datang untuk menghentikan kegaduhan itu.
''Hei, berhenti! Apa yang kalian lakukan?" Sipir berteriak diiringi dengungan keras besi penjara.
Semua penghuni sel langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Keheningan seketika menyapa tempat itu.
Sipir menggeleng tidak percaya ketika melihat penampilan Divia dan lawannya. Kelakuan dia wanita itu tak ubahnya seperti anak kecil yang sedang berebut mainan.
''Kalian apa tidak malu, tidak ingat umur, heh?"
Baik Divia maupun lawannya hanya bisa menundukkan kepala begitupun dengan para penghuni lain.
"Memalukan, yang lain juga begitu. Mestinya kalian melerai bukan malah mengompori." Sipir wanita itu menatap tajam satu per satu dari mereka.
...----------------...
"Sialan memang wanita gendut itu, tidak tahu apa biaya perawatanku mahal, mencakar wajah orang seenaknya."
Emru menggeleng pelan mendengar gerutuan dari mulut ibunya.
''Lagian mama juga salah, buat apa meladeni mereka. Tinggal biarkan saja kenapa sih, Mam." Pria itu berusaha menasehati ibunya.
''Kamu kok malah nyalahin mama. Sekarang kamu mau ikutan kayak papamu, iya...," sahut Divia yang sudah tersulut emosi.
''Bukan begitu, Mam." Emru frustasi menghadapi keras kepala ibunya.
''Aku ingin mama sadar, mama merenungkan kesalahan mama. Bukan malah membuat keributan seperti ini," sambungnya.
Tadi, dia sudah berniat kembali ke rumah. Namun urung karena salah seorang petugas memberitahu jika ibunya terlibat perkelahian dengan salah seorang penghuni sel hingga terluka. Akhirnya, mau tidak mau pria itu kembali untuk melihat keadaan sang ibu.
''Bagaimana kakak?" Mengabaikan nasehat putranya, Divia justru bertanya mengenai putra sulungnya.
__ADS_1
''Dia dibebaskan karena tidak cukup bukti. Hanya saja dia wajib lapor selama seminggu sekali atas pengakuannya yang berniat menculik Maura."
''Syukurlah." Divia bernafas lega.
Sejahat-jahatnya dia, dia tetaplah seorang ibu. Dia tidak ingin putranya terseret dengan kasus yang menjeratnya. Emran tidak bersalah, bahkan tidak tahu menahu mengenai masalah ini. Ini murni kesalahannya.
''Kalian jaga diri baik-baik. Mama akan baik-baik saja di sini. Lagipula, mama sudah memberitahu pada polisi dalang di balik peristiwa ini. Cepat atau lambat dia pasti akan ditahan," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
''Iya, Mam...." Emru pun memeluk erat tubuh ibunya.
''Aku janji akan sering-sering menjenguk mama."
''Iya...," balas Divia dengan senyum teduhnya.
Ada setitik penyesalan dalam lubuk hatinya. Seandainya, dia tidak mendahulukan egonya. Seandainya, dia tidak berlaku buruk pada gadis yang bernama Maura, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Jika sudah begini, bisnis keluarganya pun akan ikut terancam.
"Maafkan mama, Pap."
...----------------...
Sebelumnya, aku minta maaf jika ada kesalahan di part ini. Aku seorang yang tidak begitu paham mengenai masalah hukum. Aku menulis berdasarkan imajinasi yang ada di otakku. Jadi, misal diantara kalian ada yang mengetahui masalah seperti ini, mohon koreksi dan bagi ilmunya ya....
Oh, ya aku mau promo lagi nih....
mampir ya ke karya temanku
CINTA DAN DENDAM
karya: Juliendgreen
Blurb : Aretha tidak menyangka kalau pria yang menawarkan bantuan dari jerat hutang sang paman pada renternir sebesar 5 Milliar dan memintanya menikah secara kontrak, semata-mata hanya demi wali persetujuan untuk donor ginjal.
Tak hanya itu Anshell pun membuat hidup Aretha menderita atas tindakan yang sama sekali tidak pernah di perbuat. Belum cukup dengan sikap Anshell yang buruk, Lalisa pun terus menjadi bayangan Aretha ingin menjauh dari suaminya.
Namun, setelah Aretha mengusut sikap Anshell, ternyata Anshell melakukan semua itu karena unsur balas dendam pada sang ibu di masa lalu yang pernah berbuat jahat pada Keluarga Stone.
Di saat kebenaran itu terungkap, Anshell justru di tampar oleh kenyataan pahit bahwa wanita yang selama ini dia benci mati-matian hingga bersikap buruk adalah seseorang yang selama ini Anshell cari, bahkan Aretha pergi tidak hanya membawa luka. Namun, benih cintanya yang tumbuh di rahimnya buah dari pernikahan kontrak mereka.
Bagaimana kisah selanjutnya. Apakah Anshell akan mencari Aretha dan menyelamatkan pernikahanya atau Anshell akan memilih rencana awal menikahi Lalisa wanita yang dicintai Anshell selama sepuluh tahun ini?
__ADS_1
Simak terus yuk kelanjutan kisah mereka dan juga rahasia apa yang tersembunyi pada Aretha.