
"Ada apa kau meminta bertemu?" tanya Emran dengan raut datar.
Tanpa banyak bicara, Maura menyodorkan sebuah undangan ke hadapan pria itu.
Kini, keduanya tengah berada di sebuah Coffee Shop, lebih tepatnya Maura yang meminta bertemu, sedangkan Emran hanya menuruti keinginan wanita itu.
"Aku harap kau mau datang bersama tunanganmu."
Getir yang Maura rasakan saat mengatakan itu. Namun, dia harus bisa terlihat sebiasa mungkin, seolah tidak terjadi apa-apa.
''Pasti." Emran tampak melirik arloji di tangannya, ''jika tidak ada lagi yang dibicarakan. Aku harus pergi. Permisi!"
Maura hanya bisa menatap nanar punggung yang semakin menjauh itu. Sikap Emran semakin dingin padanya, meski pada kenyataannya memang seperti itulah watak pria itu.
Maura menghela nafas kasar, mungkin memang beginilah jalannya. Dia pun ikut beranjak dari tempat itu tak lupa menyelipkan selembar uang di bawah gelas untuk membayar pesanannya.
Pada saat, dia hampir sampai di mobilnya, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangan serta membekap mulutnya. Dia ditarik dan dibawa ke tempat sepi. Maura berusaha memberontak tapi tenaganya kalah kuat dengan tenaga kekar itu.
Tak dapat dipungkiri, ada trauma tersendiri akan hal ini. Namun, dia menghentikan aksinya saat mengetahui siapa yang melakukan semua ini.
''Emran, apa yang kau lakukan? Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku kira kau orang yang sama seperti malam itu." Maura mencecar penuh kekesalan diiringi ayunan tangan memukuli dada kekar itu.
"Maafkan aku...."
Emran segera menarik tubuh wanita itu dalam dekapannya. Pergerakan Maura berangsur tenang. Namun, tak berapa lama terdengar isakan kecil dari mulutnya disertai dekapan yang semakin erat pada tubuh kekar itu.
"Maafkan aku ... Aku tak berniat mengingatkanmu pada peristiwa itu. Aku juga tidak bermaksud bersikap dingin padamu tadi."
Pria itu melerai dekapannya, lalu menangkup pipi Maura dengan kedua tangan kekarnya. Tangan itu juga terulur menghapus sisa air mata yang ada di pipi mulus Maura.
''Kenapa kau bersikap seperti itu tadi?" tanya Maura dengan nada sengau.
''Dua cecungukmu selalu mengawasi. Bisa tidak? Dua manusia itu disingkirkan sehari saja dari sisimu," keluh Emran kesal.
Maura hanya melipat dalam-dalam bibirku agar tawanya tidak meledak. Pria ini lucu juga dengan bibir mengerucut seperti itu.
''Kenapa tertawa?" tanya Emran ketika mengetahui gelagat wanita di depannya.
''Kamu lucu."
__ADS_1
''Bibirmu itu...." Maura memajukan bibirnya menirukan ekspresi Emran tadi.
''Kau ini--" Perkataan Emran menggantung begitu saja karena tak kuasa menahan tawanya.
''Ra, apa kau bahagia menjalani perjodohan ini?"
Maura menggeleng cepat.
"Tidak!"
Emran menghela nafas kasar. "Aku pun sama."
''Lalu, kenapa kau bertanya seperti itu?"
''Tidak apa-apa. Untuk sementara, kita jalani dulu. Aku berusaha mencarikan jalan terbaik untuk kita. Aku harap kamu mau bersabar."
Maura tersenyum menanggapi.
Waktu itu, ketika Emran menemui Maura di kediaman Bram. Maura mengutarakan semua keluhannya mengenai rencana ayahnya, tentang ketidaksiapan dirinya untuk menerima pria lain dalam hidupnya. Semua dia keluhkan pada pria itu, kemudian Emran memberi saran agar Maura melakukan seperti yang dia lakukan, pura-pura menerima dengan lapang, seolah bahagia dengan rencana orang tua mereka.
Keduanya berusaha mengelabuhi orang tua masing-masing, hingga mereka terkecoh. Lalu, mereka akan melakukan aksi selanjutnya.
''Baiklah, Em. Aku selalu sabar untuk itu. Tapi...."
''Aku cemburu bila membayangkan kau berpegangan dengan tunanganmu itu," sungutnya kesal.
Laki-laki itu hanya terkekeh kecil. Dia menarik gemas hidung wanita itu.
''Kamu pikir apa aku tidak?"
''Sakit, Emran," teriaknya manja.
''Nona Maura...."
"Nona Maura..."
''Anda di mana?"
Maura menutup mulutnya rapat-rapat saat mendengar suara kedua ajudannya, sedangkan Emran lagi-lagi mendengus kesal karena pertemuan kilatnya diganggu dua cecunguk itu.
__ADS_1
''Aku pergi sebelum mereka menemukan kita," bisik Maura.
''Sebentar lagi, lima menit lagi."
"Nona Maura."
Wanita itu semakin gelisah saat suara salah satu ajudannya semakin mendekat.
"Em, please...."
''Tiga menit."
''No! I have to go now."
"Wait a minutes, please ... I still want to see your face." Emran bersikukuh dengan pendiriannya.
''Gak usah gombal di waktu yang salah." Maura mencubit gemas perut rata di depannya.
Dia hanya mendesis ketika merasakan panas dari capitan jari lentik itu.
''Setuju atau tidak, aku pergi!"
Emran segera mencekal tangan wanita itu.
"Em...," pinta Maura dengan tatapan memohon.
"Give me a kiss," kata Emran dengan menunjuk pipinya.
"No!"
"Kalau begitu tidak boleh pergi. Biar saja ketahuan."
Maura membelalakkan mata, tentu saja dia tidak ingin itu terjadi.
"Oke...."
Dengan pasrah diiringi degupan jantung yang semakin kencang. Wanita itu mulai mendekatkan wajahnya ke area wajah pria itu. Jujur, ini pertama kalinya dia melakukan ini pada lawan jenis yang bukan siapa-siapanya. Dia memejamkan mata untuk menetralisir debaran yang semakin menjadi.
Disaat semakin dekat....
__ADS_1
''Nona Maura, apa yang Anda lakukan?"
"Mampus...."