
''Aku sudah ada di lokasi," ucap Bram melalui sambungan telepon.
''Bagus! Ikuti jalan setapak itu, kau akan menemukan sebuah gubuk reyot, disitulah putrimu berada.''
''Ingat! Jangan bawa siapapun termasuk anak buahmu apalagi polisi. Atau kau akan menemukan putrimu dalam keadaan tak bernyawa," lanjutnya lagi.
''Aku paham," jawab Bram datar.
Dia mematikan sambungan teleponnya, bergegas menyusuri jalanan kecil itu. Berkisar jarak tujuh ratus meter, dia sudah menemukan tempat yang dicari. Di sana terlihat ada dua orang pria yang berjaga, sepertinya anak buah si Penculik.
''Aku datang membawa permintaan bos kalian." Bram mendekati dua orang itu dengan menunjukkan tas di tangannya.
Kedua pria itu saling bersitatap. Salah satu dari mereka memerintahkan untuk memeriksa tas yang dibawa oleh Bram, sedangkan pria yang lain mengawasi keadaan sekitar, memastikan jika target mereka benar-benar datang sendirian. Setelah dirasa aman, keduanya membawa pria baya itu masuk untuk menemui bos mereka.
''Bos, dia sudah datang." Salah satu dari pria itu melapor pada pria yang duduk membelakangi mereka.
''Kalian keluar. Tinggalkan kami berdua," titahnya dengan nada dingin.
''Baik, permisi."
''Aku bawa yang kau minta. Sekarang, tunjukkan keberadaan putriku," ucap Bram pada pria yang masih setia membelakanginya.
''Tidak usah terburu-buru, Tuan Bram. Kita berbicara santai layaknya rekan."
Ucapan pria itu berhasil membangkitkan sisi lain seorang Bram. Namun, pria baya itu masih bisa menahannya, demi bertemu sang putri.
''Kau terima dan tanda tangani berkas pengalihan ini atau kau tidak mendapat sama sekali," ancamnya dengan mengetatkan rahang.
''Baiklah-baiklah, rupanya kau tidak sabar bertemu dengan putrimu tersayang. Aku akan mempertemukanmu dengannya setelah aku memeriksa semua kertas ini." Angelo berbalik dengan wajah tertutup masker juga hoodie hitamnya.
Tangan yang tertutup sarung hitam itu mulai membuka tas yang ada di hadapannya, lalu mengeluarkan beberapa berkas. Mata tajamnya mulai meneliti, membaca bait demi bait tulisan yang tertera di sana untuk memastikan tidak ada kecurangan di dalamnya.
''Bagus. Ini telah resmi menjadi milikku. Itu artinya kau sudah menyerahkan perusahaanmu kepadaku."
Bram mengabaikan ucapan pria itu. Yang ada dalam pikirannya hanya ingin segera bertemu dengan Maura—putrinya.
Angelo menepuk tangannya tiga kali untuk memanggil anak buahnya yang berjaga di depan pintu. Tak lama, dua orang pria yang mengantar Bram tadi kembali masuk memenuhi panggilan bosnya.
''Ada apa, Bos?" tanya salah satu dari mereka.
''Kau antarkan si Tua Bangka ini menemui gadis itu." Angelo menunjuk salah satu dari mereka berdua, ''dan kau tetap berjaga di sini."
Pria yang ditunjuk Angelo segera berlalu keluar ruangan untuk melaksanakan perintah.
''Siapkan langkah selanjutnya, segera!" titah Angelo pada anak buah yang masih tersisa.
__ADS_1
''Siap, Bos.''
...----------------...
Maura mengerjap berberapa kali saat seseorang memercikkan air ke area wajahnya. Tampak seorang pria berjambang tebal berdiri menjulang tepat di depannya. Wanita itu hanya mampu menatap wajahnya dengan tubuh tak berdaya. Tenaganya terasa sangat lemah karena selama dua hari tidak ada asupan apapun yang masuk ke dalam perutnya meski sekedar air putih.
''Bangun! Jemputanmu sudah datang," ucap pria itu.
''Rupanya dia sangat menyayangimu, hingga rela kehilangan perusahaan besarnya. Dan bersiaplah! Sebentar lagi, kau dan si Tua Bangka itu menjadi gelandangan. Karena semua asetnya akan diambil oleh bosku, hahaha.....''
''Apa? Tidak mungkin. Anak macam apa aku ini. Baru bertemu dengan ayahku saja sudah menghabiskan seluruh hartanya," bisik Maura dalam hati.
Suara deritan pintu diiringi derap langkah mengalihkan perhatian dua orang itu. Air mata Maura mengalir tanpa bisa dicegah ketika melihat siapa yang datang.
''Ayah...."
Pria yang mengantar Bram memberikan isyarat pada temannya untuk meninggalkan dua orang itu.
''Maura," ucap Bram dengan bibir bergetar.
Dia segera melepas perekat yang menempel di mulut putrinya.
''Ayah," panggil Maura dengan lirih.
''Iya, aku ayahmu. Ayah kandungmu dan kau ... Kau anak yang aku cari selama ini." Bram langsung mendekap erat tubuh ringkih putrinya.
''Kita segera pergi dari sini. Sebelum sesuatu yang lain terjadi," ucap Bram yang berusaha melepas ikatan yang masih membelenggu kaki putrinya.
''Maksud ayah?" tanya Maura yang belum memahami itu semua.
''Tidak ada waktu untuk menjelaskan. kita harus segera pergi."
Bram segera memapah tubuh lemah itu hingga berhasil membawanya keluar dari tempat reot itu.
''Bertahanlah, Nak. Mobil ayah terteletak tak jauh dari sini," ujar Bram ketika melihat wajah putrinya semakin memucat.
''Aku tidak kuat lagi, Ayah," balas Maura dengan lemah diambang kesadarannya.
Pandangannya semakin buram dengan kepala yang terasa semakin berputar.
Pada saat, sepasang ayah dan anak itu berusaha keluar dari hutan. Tiba-tiba, ada segerombolan pria yang berjumlah sekitar sepuluh orang menghadang jalan mereka. Bram mengeraskan rahangnya, dia sudah menduga jika ini akan terjadi. Taktik murahan seperti ini mudah terbaca oleh pria baya yang telah malang melintang dalam dunia bisnis selama bertahun-tahun.
''Kalian benar-benar pic*k," geram Bram.
Tawa sumbang terdengar dari mulut segerombolan pria itu. Banyak dari mereka menatap penuh minat pada tubuh gadis muda yang tengah dipapah oleh Bram.
__ADS_1
''Sepertinya, tidak ada salahnya kita mencicipi gadis manis itu terlebih dahulu," celetuk salah satu dari mereka. Disusul tawa renyah dari yang lainnya.
''Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh putriku meski hanya seujung kuku."
''Sombong sekali Anda, Pak Tua. Benar-benar minta di habisi. Siap-siap kembali ke tempat asalmu, Pak Tua." Seorang yang menjadi ketua dari mereka bersuara.
Dia segera maju menyerang Bram yang masih memapah putrinya, kemudian disusul pria yang lain yang ikut menyerangnya. Bram berusaha menangkis serangan demi serangan dari kelima orang yang ada di depannya, hingga kelima orang itu berhasil ia tumbangkan.
Karena merasa pergerakannya kurang leluasa, Bram menyandarkan tubuh putrinya kesebuah pohon yang berada tidak jauh darinya. Kemudian, dia kembali menghadapi para preman seorang diri. Sebenarnya, dia bisa memanggil anak buahnya, namun karena terlalu panik. Dia melupakan segalanya.
''Ayah...." Maura memanggil dengan nada lemah ketika melihat sang ayah bertarung sendirian melawan banyak orang.
Dengan segenap tenaga yang tersisa, dia berusaha bangkit berencana untuk meminta bantuan. Namun sayang, langkahnya terhenti saat seorang pria menghadang jalannya.
''Mau kemana, Nona Manis?" tanyanya dengan mata memindai tubuh indah Maura dari atas hingga bawah.
''Minggir! Aku tidak ada urusan denganmu," hardik Maura dengan mata melotot.
''Tapi aku ada, bagaimana kalau kita bersenang-senang?" Pria itu mencoba menyentuh kulit putih Maura namun segera ditepis kasar oleh gadis itu.
''Jangan mimpi! Aku lebih baik mati daripada harus menyerahkan tubuhku pada pria sepertimu."
Sontak, perkataan yang keluar dari mulut Maura berhasil membangkitkan emosi pria yang menghadangnya.
''Sombong sekali kau, Nona." Pria itu segera mencengkeram kuat tangan gadis itu.
Maura meronta berusaha untuk lepas, tapi cengkraman itu semakin kuat hingga membuatnya merintih kesakitan.
''Lepas!"
''Tidak akan sebelum aku berhasil merasakan tubuhmu."
''Tidak akan! Rasakan ini." Maura segera menendang aset berharga pria di depannya. Berhasil, tangannya terlepas.
Dia meninggalkan begitu saja pria yang masih sibuk dengan rasa sakit yang luar biasa di tubuh bagian bawahnya.
Netranya masih tertuju pada perkelahian sengit yang ada di depannya. Tampak Bram mulai kewalahan melawan para pria itu, sedangkan dia sendiri bingung harus melakukan apa. Dia tidak jago dalam urusan bela diri. Sejurus kemudian, dia teringat sesuatu.
Maura segera mengeluarkan sebuah benda kecil pemberian anak buah Rayyan, kemudian menekan tombolnya berkali-kali, berharap bala bantuan segera datang. Dia sengaja menyelipkan kedua benda itu pada celana ketat yang ia pakai sebagai dalaman gaun malamnya.
Mata Maura terbelalak saat melihat seorang pria membawa sebilah kayu yang hendak dilayangkan kearah Bram dari belakang, sedangkan Bram sendiri tidak menyadari. Karena masih sibuk melawan lawannya.
''Ayah, awas!"
BUGH!
__ADS_1
"Arrrgh...."
"Maura!"