Pencarian Maura

Pencarian Maura
Rencana Menghilang....


__ADS_3

''Rayyan, tunggu!"


Rayyan menghentikan langkahnya saat suara gadis dalam kuasanya menginterupsi.


''Ada apa?'


''Izinkan aku menepati janjiku pada Emran."


''Janji apa?" Rahangnya mengeras setiap kali rivalnya disebut.


''Menjadi pasangannya di pest orang tuanya malam ini."


''Tidak!" Rayyan langsung menolak tegas permintaan gadis itu.


''Untuk yang terakhir, Ray," pinta Maura dengan wajah memelas.


Dia berusaha keras untuk meyakinkan pria ini. Begitu nanti ada kesempatan, Maura berencana kabur dan meninggalkan kota ini, kembali ke kampung halamannya, tidak apa dia tidak menjadi seorang dokter lagi, masih banyak pekerjaan lain yang halal.


''Baik, tapi aku akan ikut bersamamu. Kau akan selalu dalam pengawasanku."


''Terserah!" jawab Maura dengan merotasi bola matanya.


''Sabar, Maura. Hanya sampai nanti malam dan kau akan meninggalkan semuanya," batinnya.


''Sekarang, lepaskan tanganku! Aku ingin pulang." Gadis itu bersuara lagi.


''Aku tidak mengizinkanmu pulang. Kau akan ikut ke tempatku," tegas Rayyan.


"Jangan mimpi! Sebelum kita mempunyai ikatan yang sah. Permisi." Maura berlalu begitu saja tanpa memedulikan kekesalan pria yang berada di belakangnya.


Dia bergegas menuju ruangan Emran untuk menemui pria itu.


Seorang perawat pria yang mendengar itupun langsung melaporkan hasil pengamatannya pada bosnya.


"Saya melapor, Tuan. Target, nanti malam akan menghadiri acara di kediaman Raichand Khan sebagai pasangan Dokter Emran—pria yang sering membantu target."


"Kebetulan aku juga diundang ke acara itu. Aku yang akan mengawasinya sendiri. Kau kirimkan saja fotonya," jawab seseorang di seberang dengan nada dingin.

__ADS_1


"Persiapkan rencana utama. Atur serapi mungkin, aku tidak menerima kegagalan. PAHAM!" sambungnya penuh penekanan.


"Siap, Tuan," ucap perawat itu sebelum mengakhiri panggilannya.


Dia melirik ke sana kemari untuk memastikan tidak ada yang melihatnya. Setelah dirasa aman, dia melenggang seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.


...----------------...


''Emran...."


pria yang merasa namanya di panggil pun menoleh. Senyumnya terkembang sempurna ketika melihat siapa yang datang ke tempatnya.


''Maura, akhirnya kau bebas dari pria gila itu."


Tanpa aba-aba, Emran segera mendekap tubuh wanita pujaannya.


''Aku tidak bebas. Dia hanya memberiku kelonggaran sampai nanti malam. Dia mengizinkan aku untuk menghadiri pesta orang tuamu sebagai pasanganmu," tutur Maura dengan menatap sendu pria yang menjulang tinggi di hadapannya.


''Benar-benar si Kepar*t itu," geram Emran.


''Emran, boleh aku meminta bantuanmu lagi? Aku pastikan ini yang terakhir," ucap Maura penuh permohonan.


''Nanti malam, aku berencana meninggalkan semuanya. Aku akan kembali ke kampung halamanku. Bantu aku untuk mengalihkan perhatian Rayyan."


''Apa kau akan pergi dari kota ini?"


Maura mengangguk mantap.


''Itu artinya kau juga akan meninggalkan aku, Maura."


''Semuanya akan ku tinggalkan," tegasnya dengan tatapan menajam ke depan.


''Hanya untuk menghindari si Kepar*t itu, kau rela meninggalkan semuanya, bahkan pekerjaanmu pun kau tinggalkan. Aku sangat bisa melindungimu darinya, Ra. Tidak perlu sampai bertindak sejauh ini." Emran benar-benar merasa frustasi.


''Keputusanku sudah bulat, Emran. Ini adalah jalan terbaik."


''Aku yakin, ibumu juga tidak akan tinggal diam. Setelah mengetahui aku masih dekat denganmu. Terlebih, aku datang sebagai pasanganmu," batin Maura menatap lekat wajah pria di depannya.

__ADS_1


...----------------...


Tepat pukul tujuh malam, Maura telah siap dengan gaun malam pemberian Emran waktu itu. Hanya dengan riasan natural, wanita itu terlihat sangat menawan pada malam ini.


Sembari menunggu kedatangan pria berkuda besinya. Maura menyiapkan semua barang-barangnya ke dalam sebuah ransel besar. Mira yang melihat hal itupun hanya bisa menatap sendu kepergian sahabat yang baru dia kenal beberapa bulan ini.


''Mbak, pikirkan baik-baik keputusanmu."


''Inilah yang terbaik untuk semua, Mira," jawab Maura masih dengan kegiatannya.


''Mbak tega ninggalin aku," kata gadis muda itu.


''Mbak tau, dengan adanya mbak disini aku seperti memiliki sebuah keluarga baru. Aku merasakan kasih sayang seorang ibu dari mbak. Jangan pergi ya, Mbak," rengeknya dengan tatapan menghiba.


''Lagi pula, belum tentu setelah ini. Aku akan mendapat atasan sebaik dan seroyal Mbak Maura."


''Itu mah, maumu, Mir. Mentang-mentang sering ku traktir," celetuk Maura untuk menghibur sahabatnya.


Suara bel membuyarkan suasana haru kedua gadis itu. Mira bergegas membuka pintu untuk melihat siapa yang datang, sedangkan Maura menutup rapat kancing ransel besarnya.


''Mbak, Dokter Emran sudah datang," teriak Mira dari luar.


''Iya, sebentar. Aku sudah siap," jawabnya tak kalah berteriak.


Gadis itu merapikan kembali penampilannya sebelum keluar kamar.


Emran hanya menatap datar kedatangan Maura yang membawa tas besarnya. Dia mendesah kecewa, keputusan wanita itu benar-benar tidak bisa diganggu gugat.


''Sudah siap?'' Hanya itu yang keluar dari mulut Emran.


Maura mengangguk menanggapi.


''Kita berangkat sekarang." Emran keluar terlebih dahulu dengan membantu membawakan tas gadis itu.


''Mira, terima kasih untuk semuanya. Jaga diri baik-baik."


Tanpa mengucap sepatah kata, Mira langsung memeluk erat sahabat yang sudah ia anggap sebagai kakak. Air matanya mengalir deras mengantar kepergian wanita itu.

__ADS_1


''Mbak, jangan lupakan aku. Sering-seringlah menghubungiku."


''Pasti," ucap Maura sebelum menghilang di balik pintu.


__ADS_2