Pencarian Maura

Pencarian Maura
Serba-serbi Pesta Resepsi.


__ADS_3

Semua mata tertuju pada pasangan pengantin yang menjadi bintang utama malam hari ini. Emran dan Maura melangkah bak raja dan ratu yang disambut rakyatnya. Raut penuh kebahagiaan tergambar jelas di wajah mereka. Maura tak pernah memudarkan sedikit pun senyum manisnya saat melewati barisan para tamu undangan. Silau sorot kamera turut mengiringi sepanjang langkah mereka.


Pada saat mendekati tempat pelaminan, Emran dibuat terkejut ketika melihat ada tambahan meja beserta beberapa kursi yang berada tepat di depan tempat tersebut. Diatasnya juga tertata rapi dengan dihias sedemikian rupa berupa seperangkat alat sholat beserta jajaran perhiasan dan uang yang berbentuk masjid.


''Apa ini, Ra? Kenapa ada semua ini di sini?" Emran menatap penuh tanya pada apa yang terpampang di hadapannya.


''Aku tidak tau, Em. Pasti ulah adikmu."


Emran berdecak pelan. "Dasar anak itu. Apa belum cukup dia berulah kemarin?"


Netranya menangkap kedatangan Raichand yang didampingi para petugas kantor urusan agama tengah menuju kearahnya.


''Apa ini, Pap?" tanya Emran menuntut penjelasan sang ayah.


''Seperti yang kau lihat, tempat akad," jawab Raichand dengan santai.


''Tapi, Pap. Aku sudah menikah, tanyakan pada mereka," protes Emran.


''Tanpa bertanya papa juga sudah tau, Em. Papa hanya ingin menyaksikan kau mengucapkan janji suci. Apa itu salah? Makanya papa menyediakan tempat ini."


''Astaga, Pap. Jadi ini alasan papa meminta Emru meng-handle semuanya?"


Pria paruh baya itu mengangguk antusias. Emran hanya bisa memejamkan mata, tidak menyangka jika sang ayah akan melakukan hal ini. Demi memenuhi keinginannya.


''Mari, langsung mulai acaranya, Pak. Kedua mempelai sudah hadir di sini." Raichand memberi perintah pada para petugas yang sengaja dia undang.


''Aku sudah melakukannya kemarin," protes Emran.


''Diulang lagi juga tak apa. Ikatan kalian akan semakin kuat. Benar, 'kan, Pak?" Pria baya itu meminta persetujuan pada para petugas, sedangkan dua orang pria yang diminta persetujuan hanya bisa mengangguk pelan menuruti.


''Tapi, Pap...."


''Sudahlah, Em. Turuti saja apa susahnya, sih," bisik Maura.


Dengan terpaksa, Emran mengikuti serangkaian proses yang ia lakukan beberapa hari yang lalu.


...----------------...


Suara 'sah' menggema di ruangan megah itu tepat setelah Emran mengucap janji sucinya. Raichand tampak mengusap setitik air mata yang berhasil lolos di pipi. Dia teramat bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk turut serta menyaksikan hari bahagia putranya.


''Bagaimana perasaanmu, Pap?" tanya Emru yang berada di sampingnya.


''Bahagia," jawab Raichand tanpa mengalihkan pandangan dari sepasang mempelai yang tengah bertukar cincin.


''Bukan itu yang kumaksud, Pap?"


''Lalu?"


''Puas apa tidak, setelah membuat kakak mengulang proses pernikahannya."


Karena terlalu kesal, pria baya itu segera menarik telinga putranya.


''Kau sengaja membuat papa kesal, hem?''


''Iya-iya, ampun ... Aku bukan anak kecil, Pap. Malu tau dilihat orang," cicitnya sambil mengusap telinga yang terasa panas.

__ADS_1


Netranya melirik seorang gadis yang diapit pasangan paruh baya, tengah menahan tawa kearahnya. Raichand yang melihat gelagat aneh putra bungsunya segera mengikuti arah pandang pria itu.


''Jadi, karena dia kau malu?"


Emru tak memberi tanggapan justru masih terpaku memandang kecantikan alami wanita itu.


''Apa kau tertarik padanya, Emru?''


Raichand mendengus kesal karena diabaikan putranya.


''Emru!"


Suara lantang sang ayah berhasil menyadarkan lamunannya.


''Iya, Pap.''


''Sudahlah, lupakan! Papa mau menyambut rekan-rekan papa." Raichand berlalu begitu saja meninggalkan putranya dengan sejuta rasa penasaran.


...----------------...


Emran dan Maura telah duduk di singgasananya. Keduanya tak pernah memudarkan senyum menyalami para tamu yang datang silih berganti. Tanpa terasa hampir satu jam mereka berada di posisi itu, Maura yang merasa lelah segera mendudukkan tubuh untuk mengistirahatkan otot-otot kakinya.


''Kenapa capek?"


''He'em, kakiku pegal," jawab Maura lirih.


Emran segera berjongkok di depannya, lalu menyingkap sedikit gaun dikenakan, kemudian berlanjut memijat pelan betis istrinya.


''Em, bangunlah! Malu dilihat orang," cicit Maura.


''Buat apa malu, kita pakai baju."


''Bangun, Em. Kita jadi tontonan gratis. Apa kamu gak malu pamer kemesraan di depan umum," paksa wanita itu dengan mengerucutkan bibirnya.


''Justru itu harus kita lakukan, biar semua orang tau kalau kita menikah atas dasar cinta, bukan keterpaksaan."


Maura mengedipkan mata beberapa kali mendengar jawaban itu. Tangannya dengan refleks terulur menyentuh dahi sang suami.


''Tidak panas."


''Apa maksudmu melakukan itu, Ra? Kau pikir aku tidak waras."


''Bukan begitu, aku hanya merasa aneh."


''Aneh bagaimana?" Emran menghentikan pijatan tangannya, kemudian menatap lekat istrinya.


''Seperti bukan Emran pria dingin yang kukenal."


''Kau ini ada-ada saja. Aku masih orang yang sama," desisnya.


''Ehem!"


Suara deheman keras membuyarkan keromantisan pasangan raja ratu sehari itu. Dilihatnya, seorang pria berjas rapi tengah menggandeng mesra seorang wanita menjulang tinggi di hadapan keduanya.


''Sudah selesai belum acara romantis kalian. Kalau belum aku akan kembali nanti," sindirnya.

__ADS_1


''An-andrian."


''Iya ini aku, Ra."


Maura berniat beranjak untuk menyalami pria itu. Namun, usahanya terhenti karena suaminya menekan kedua pundaknya meminta untuk tetap berada di posisinya.


''Istirahatlah, aku tidak mau kau kecapekan. Biar aku saja yang menyalaminya," titah Emran dengan sorot mendingin.


Maura memutar matanya jengah. Dia paham jika suaminya masih menyimpan rasa cemburu pada pria itu.


''Terserah."


''Terima kasih sudah mau menghadiri undanganku. Jika bukan karena permintaan istriku, aku tidak akan mengundangmu."


Maura yang mendengar hal itupun langsung mencubit keras pinggang suaminya, sedangkan Andrian bersama pasangannya hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkah dua pengantin yang menurut mereka sangat aneh.


''Biarkan saja dia berucap sesuka hati, Ra. Mungkin suamimu buta jika aku datang membawa pasanganku," balas Andrian dengan santai.


Emran membulatkan mata sempurna. Deru nafas kasar terdengar jelas menandakan jika dia tengah menahan kesal.


''Ya sudah, selamat atas pernikahan kalian. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian. Silahkan dilanjut acara romantisnya," pungkas Andrian sebelum turun dari tempat pelaminan.


''Kau--"


''Sudahlah, Em. Tidak usah diladenin."


...----------------...


Dari kejauhan pandangan seorang gadis menatap lurus tempat pelaminan. Mira turut bahagia atas kebahagiaan sang sahabat. Dia pun ikut berandai-andai sekaligus berharap, jika suatu saat bisa seperti sahabatnya.


''Kau melihat apa?" tanya Rayyan yang sedari tadi bersamanya.


''Romantisnya mereka," gumam Mira tanpa berniat mengalihkan pandangan.


Rayyan hanya mencebikkan bibir. "Cuma begituan saja, aku juga bisa, bahkan semua orang juga bisa melakukannya. Mereka aja yang norak."


Seketika, Mira mengalihkan perhatian kearah pria itu.


''Apa kau iri, Dokter Rayyan?"


''Aku iri? Ora mungkin. Pantang bagi seorang Rayyan iri pada pasangan norak macam mereka," balasnya jumawa.


Mira berdecih pelan.


"Kalau kau tidak percaya, mari kita buktikan!" Seringai tipis terbit di bibir pria itu.


Dia berharap semoga wanita itu peka terhadap isyarat yang dia beri.


Bukannya menjawab, justru Mira meninggalkan pria itu sendiri.


''Selalu menghindar, maumu apa sih, Mir?"


Rayyan cukup frustasi menghadapi gadis pujaan. Mira sosok yang penuh misteri dan rahasia dalam hidupnya. Dia lebih suka memendam masalahnya sendiri, menutupi dengan keceriaannya.


''Jangan salahkan aku jika aku lancang, Mir," gumamnya menatap punggung Mira yang kian menjauh.

__ADS_1


...----------------...



__ADS_2