Pencarian Maura

Pencarian Maura
Seandainya, Dia Selembar Kertas....


__ADS_3

''Di mana putriku?'' Pertanyaan yang terlontar pertama kali dari mulut Bram ketika dia siuman.


Pria baya itu berusaha bangkit namun urung saat merasakan nyeri luar biasa diarea bekas operasinya.


''Arrgh, kenapa sakit sekali," pekiknya tertahan.


''Anda jangan banyak bergerak dulu, Tuan. Luka Anda sempat robek jadi Anda harus istirahat total," ucap Sonia.


''Tapi, aku ingin bertemu putriku. Aku ingin melihat keadaannya...."


''Aku di sini, Ayah," sela Maura.


Dia memasuki ruangan menggunakan kursi roda dengan di dorong oleh Emran, infus juga tampak menggantung pada tempat yang sudah disediakan.


''Ayah, aku mohon turuti kata dokter. Kondisi ayah memang membaik tapi belum pulih sepenuhnya. Rayyan sudah menceritakan semuanya padaku," pinta Maura dengan wajah memohon.


Beberapa menit lalu, Maura telah sadar dari pingsannya. Dia juga menanyakan hal yang sama ketika membuka mata, tentang kondisi sang ayah. Kebetulan di dalam ruangan saat itu ada Rayyan dan Emran. Dia langsung menanyakan hal itu pada Rayyan.


Awalnya, Rayyan berniat menyembunyikan kenyataan sebenarnya, dengan mengatakan jika Bram baik-baik saja. Akan tetapi, Maura tidak mempercayainya begitu saja. Pasalnya, dia melihat sendiri keadaan terakhir sang ayah sebelum tak sadar diri. Dia terus mendesak dan memaksa Rayyan hingga pada akhirnya pria itu mengatakan semuanya.


''Baiklah, jika kamu yang meminta ayah akan menuruti," ujar Bram dengan nada lemah.


''Bagaimana denganmu?"


''Ayah tenang saja, aku tidak apa-apa. Tubuhku juga mulai ada tenaga meski masih sedikit lemas," tutur Maura diiringi senyum manisnya.


''Syukurlah...."


''Sekarang, ayah harus istirahat. Setelah keadaan ayah membaik kita akan pulang."


''Ayah akan selalu menuruti semua yang putri ayah katakan."


Namun sejurus kemudian, dia teringat akan sesuatu. Tentang surat tulisan tangan yang ditulis sang istri untuknya.


''Maura, kamu mau jujur sama ayah?'' tanya Bram dengan menatap serius raut wajah putrinya


Semua yang ada di dalam ruangan itu berhasil dibuat bingung dengan pertanyaan yang diutarakan Bram, tak terkecuali Maura.


''I-iya, aku akan jujur pada ayah," jawab Maura dengan kening berkerut.


''Bagaimana jika ayah tidak ingin pulang? Ayah ingin mengunjungi suatu tempat, Ra." Bram menerawang jauh ke depan.

__ADS_1


Maura menatap orang-orang di sekitar secara bergantian seolah bertanya 'apa maksudnya'. Namun, baik Sonia maupun Emran kompak menggeleng pelan.


''Kemana?" tanya Maura


''Makam ibumu."


Maura memegang di tempat, itu artinya surat itu sudah sampai di tangan Bram. Tapi siapa yang memberikan, pertanyaan itu muncul begitu saja dalam benaknya.


''A-ayah su-sudah tau?"


''Iya," jawab Bram lirih.


''Maafkan aku. Bukan maksudku untuk menyembunyikan hal ini dari ayah. Tapi waktu itu kondisi ayah masih sangat lemah. Aku tidak ingin memperburuk. Jadi aku putuskan untuk menyembunyikannya terlebih dulu," kata Maura merasa bersalah.


''Kamu tidak salah, Sayang. Kebiasaanmu ini sangat mirip dengan kebiasaan ibumu. Dulu, ibumu juga seperti itu, menyembunyikan masalahnya agar ayah tidak khawatir," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.


Dia selalu sedih setiap kali mengingat mendiang istrinya.


''Baik, aku akan mengajak ayah kesana. Dengan satu syarat, kondisi ayah harus benar-benar pulih."


...----------------...


''Apa yang sedang kau pikirkan?" Emran menghampiri Maura yang tengah termenung sendiri menghadap kaca besar ruang perawatannya. Hanya gelapnya langit yang tampak dari dalam karena memang hari sudah malam.


''Kau melakukannya untuk kebaikan Tuan Bram, Ra. Jangan salahkan dirimu."


''Aku sudah membuat ayah sedih." Maura berucap sendu.


''Sudahlah, jangan dipikirkan lagi! Kau baru pulih. Aku tidak ingin kau kembali tumbang gara-gara masalah ini. Kalau kau sakit lagi ayahmu juga akan bertambah sedih," ucap Emran seraya mendekap tubuh mungil di depannya.


Maura menghirup dalam aroma pria itu, aroma yang membuatnya tenang kembali.


''Kau tidak pulang, Em?" tanya Maura masih dengan posisi yang sama.


''Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu disaat kondisimu seperti ini."


''Kamu sudah dua hari berada di sini. Aku tidak ingin ibumu semakin membenciku karena kamu terlalu lama meninggalkan rumah demi aku." Maura berucap lirih, mendongak memandang rahang tegas yang berada tepat di depan wajahnya.


''Tidak usah pikirkan itu, Maura," geram Emran dengan suara tertahan.


''Aku mohon pulanglah, Em! Jangan bertengkar lagi dengan ibumu. Bagaimana pun juga dia wanita yang rela mempertaruhkan nyawa untuk melahirkanmu."

__ADS_1


Emran masih bergeming dengan wajah datarnya. Dia masih kecewa dengan sikap ibunya beberapa waktu yang lalu.


''Aku tidak apa-apa kamu tinggal. Banyak yang menjagaku di sini. Kamu tidak usah khawatir." Maura terus berusaha membujuk pria itu.


''Mau ya ... Demi aku," pinta Maura dengan wajah memelas.


Emran menghela nafas pasrah.


"Baiklah," ucap Emran dengan suara rendah.


''Senyum dong. Kayak gak ikhlas banget." Maura menarik kedua sudut bibir pria itu hingga membentuk sebuah senyuman.


Tanpa mereka sadari, ada seorang pria yang menatap kemesraan mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kenapa malah berhenti di sini sih, Dok? Kayak badannya kecil aja, badan segede truk semen juga," protes Mira yang berada di belakang pria itu.


Rayyan yang mendengar perkataan nyeleneh gadis itu langsung mengalihkan perhatian.


"Apa kamu bilang? Coba diulang." Pria itu menatap Mira dengan menaikkan kedua alisnya.


"Badan segede truk semen." Gadis itu mengulang ucapannya dengan wajah dibuat sepolos mungkin.


''Mixer truck, Mira. Kampungan sekali sih, kamu," balas Rayyan dengan merapatkan giginya.


"Ngintip apa sih?" Mira mencoba melongokkan kepala untuk melihat apa yang dilihat Rayyan sedari tadi.


"Hemm, pantes." Mira mencebik, "ada yang lagi cemburu ternyata."


"Diam kamu!" sewot Rayyan dengan wajah keruhnya.


"Ingat, Dok. Dia sepupu dokter lho. Gak usah macam-macam. Ikhlaskan," kata Mira dengan nasehat sok bijaknya.


"Lagian, dokter mah aneh. Udah tau dari dulu gak pernah dilirik sama Mbak Maura. Masih aja ngejar dia. Asal dokter tau ya, sejak awal Mbak Maura udah suka sama Dokter Emran." Rayyan merotasi bola matanya jengah. Menyesal rasanya telah membawa serta gadis itu kemari.


"... Padahal banyak cewek yang ngejar Dokter. Masa salah satu dari mereka gak ada yang cocok yang sesuai kriteria dokter." Mira masih melanjutkan celotehannya meski tak mendapat respon apapun dari pria di sampingnya.


"Sama kamu saja, gimana, Mir?" tanya Rayyan dengan maksud menggoda gadis itu.


"Hih, ogah. Amit-amit. Yang ada tiap hari bakal makan hati kalau sama dokter. Seandainya, laki-laki yang ada di dunia ini tinggal dokter Rayyan seorang. Aku milih jomblo seumur hidup."


Ucapan wanita itu semakin menambah kekesalan di hati Rayyan. Seandainya, Mira ini selembar kertas. Dia sudah merematnya hingga tak berbentuk, lalu membuangnya ke tong sampah.

__ADS_1


Iya, sekesal itu Rayyan pada Mira. Mulutnya kalau berbicara seperti tidak punya rem.


__ADS_2