Pencarian Maura

Pencarian Maura
Kesedihan....


__ADS_3

Hari yang di nanti pun tiba. Tepat tiga hari sebelum pernikahan putrinya, Bram mewujudkan rencananya mengunjungi tempat peristirahatan terakhir sang istri.


Setelah menempuh perjalanan selama berjam-jam, akhirnya rombongan kecil Bram yang terdiri dari Maura, Mira, Andrian dan Rayyan, telah sampai di tempat tujuan. Kini, kelima orang tersebut berdiri di depan pusara bertuliskan nama "Riyana." Makam yang terlihat sangat terawat karena ayah angkat Maura rutin membayar jasa kebersihan makam.


''Ma, aku datang ... Aku berhasil mewujudkan pesan mama. Lihatlah, siapa yang aku bawa...." Maura menjeda ucapannya ketika tenggorokannya terasa tercekat.


Dia melepas kacamata hitamnya untuk menghapus setitik air mata yang membendung di pelupuk mata.


''Lihatlah, Ma. Pria pujaan mama ada di sini. Mama pasti sangat bahagia." Maura menatap ayahnya penuh senyum dengan mata berkaca-kaca.


Bram yang melihat itu pun langsung mendekat, kemudian merangkul pundak putrinya dari samping. Tangan tuanya terulur mengusap nisan bermarmer hitam dengan ukiran tulisan nama wanitanya yang berwarna emas.


''Aku datang, Riyana."


Hanya itu yang mampu terucap dari bibir pria baya itu. Setetes air mata mengalir tanpa bisa dicegah. Namun, Bram segera menghapusnya.


''Ma, aku kemari membawa calon mantu buat mama. Restui kami, ya, Ma...."

__ADS_1


Semua yang ada di sana tak bisa menyembunyikan kesedihan di hati masing-masing, terutama ketiga orang yang berada tepat di belakang sepasang ayah dan anak itu.


Air mata Mira mengalir tanpa bisa dicegah di balik kacamata hitamnya. Gadis itu teringat dengan mendiang orang tuanya.


''Mbak Maura beruntung masih bisa mengunjungi makam ibunya. Lah, aku...," batin nya.


Terdengar helaan nafas berat dari bibir mungilnya. Jangankan untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya untuk menginjakkan kaki ke tanah kelahirannya saja, dia tidak berani. Mira hanya tersenyum miris kala mengingat nasibnya.


''Kau pasti sedih, 'kan? Melihat Maura bisa mengunjungi makam ibunya."


Mira mengangguk pelan menanggapi ucapan pria di sampingnya.


Gadis itu langsung mengalihkan perhatian pada pria itu. Dia tidak menyangka jika Rayyan memendam sendirian luka batin sedalam ini.


"Tidak usah menatapku seperti itu. Aku paling tidak suka dikasihani," ungkap Rayyan dengan nada datarnya.


Mira bedecih pelan, baru saja dia merasa simpati namun pria ini selalu bisa merusak suasana.

__ADS_1


''Gak usah terlalu percaya diri, Bung," balas Mira ketus.


Rasa sedihnya menghilang entah kemana berganti rasa kesal menggunung pada pria itu


Andrian yang sedari tadi menjadi pendengar perdebatan itu, hanya bisa menggeleng pelan, kemudian fokusnya teralih pada wanita yang masih menangis sesegukan di depan sebuah pusara.


Awalnya, dia mengira, dialah anak paling menderita karena telah berpisah dengan ibunya tapi ternyata ada yang lebih sakit daripada melihat pengkhianatan ibunya di depan mata.


Meskipun, ibunya telah berkhianat puluhan tahun lalu tapi dia masih bisa menemuinya, tidak seperti Maura yang hanya bisa menangis di depan pusara.


''Sudah, Ra." Andrian menyentuh pelan bahu calon istrinya.


Maura segera menghapus sisa air matanya, lalu menarik pelan tangan kekar itu memintanya berjongkok di sisinya.


''Ma, ini calon suamiku. Seandainya, mama bisa melihat pasti mama bisa melihat betapa tampannya dia," ucap Maura dengan suara sengau.


Dia memaksakan senyumnya, meskipun air matanya enggan untuk berhenti.

__ADS_1


Andrian merasa iba melihat kesedihan wanita itu. Dia berinisiatif memeluknya dari samping untuk menenangkan.


''Sudah, kasihan ibumu jika melihatmu seperti ini."


__ADS_2