Pencarian Maura

Pencarian Maura
Butuh Bukti Valid


__ADS_3

''Ikut aku!"


Rayyan menarik paksa tangan Maura sesaat setelah gadis itu keluar dari ruang rawat ayahnya.


''Kemana, Ray?'' tanya Maura dengan rasa terkejutnya.


"Pelan-pelan, Rayyan. Kau menyakitiku," teriak Maura di sepanjang lorong rumah sakit, bahkan dia harus rela menjadi bahan tontonan banyak pasang mata siang itu.


Namun,Rayyan tak menghiraukan pekikan gadis dalam genggamannya. Langkahnya malah semakin lebar membawa gadis itu ke mobilnya. Maura harus terseok-seok mengimbanginya langkah lebar pria itu.


''Masuk!" Rayyan mendorong kasar tubuh Maura ke dalam mobil, lalu menutup pintunya dengan kasar.


''Kita mau kemana?" tanya Maura ketika mobil itu mulai meninggalkan pelataran rumah sakit.


''Aku masih ada pemeriksaan pada pasien."


''Jawab aku, Rayyan! Mendadak bisu kamu," bentak Maura dengan kesal karena tak kunjung mendapat jawaban dari pria yang berada di sampingnya.


''Aku akan membawamu ke tempat di mana kau akan menjadi milikku seutuhnya."


Kening wanita itu berkerut dalam, pertanda belum memahami ucapan pria itu. Matanya terbelalak ketika mobil yang dia tumpangi memasuki gedung bertuliskan Kantor Urusan Agama.


''Jangan gila kamu, Rayyan! Aku masih saudaramu," hardik Maura.


''Sayangnya, aku tidak percaya karena tidak ada bukti yang valid akan hal itu," balas Rayyan dengan wajah dinginnya.


''Kau mau bukti apa? Aku punya semua bukti peninggalan ibuku yang menunjukkan bahwa aku memang anak ..."


''Itu saja tidak cukup, Maura!" bentak Rayyan memotong ucapannya.


Maura terkesiap, ini pertama kalinya dia mendengar ucapan lantang pria itu. Dia tidak menyangka jika Rayyan seegois itu, sebegitu terobsesinya, 'kah pria ini terhadap dirinya.


''Kau mau bukti apa?" tanya Maura dengan nada dingin.


''Tes DNA, aku mau kau melakukan itu dengan om ku."


''Oke, tapi jika memang aku benar terbukti anak kandung dari Tuan Bramasta, kau harus menjauhiku. Jangan pernah mendekatiku jarak seinci pun. Jika aku terbukti bukan anak kandungnya, aku membebaskanmu memperlakukan ku sesuka hatimu," jawab Maura menantang pria itu.


''Aku terima tantangan dari mu."


"Sekarang antar aku kembali ke rumah sakit."


Tanpa banyak bicara, pria itu kembali mengemudikan mobilnya menuju tempat yang di pinta Maura.


...----------------...


Sesampainya di rumah sakit, Maura segera menuju kamar pria yang baru ia ketahui sebagai ayah kandungnya.


''Tuan," panggil Maura.


"Hei, kenapa kau memanggilku seperti itu, Maura. Panggil aku ayah karena aku ayahmu," sahut Bram tidak terima.


''Saya ingin melakukan tes DNA dengan Anda."


Mengabaikan permintaan pria baya itu, Maura langsung to the point mengutarakan maksudnya. Di samping gadis itu juga ada Rayyan yang ikut masuk dalam ruangan.

__ADS_1


''Untuk apa? Semua bukti yang kau tunjukkan lebih dari cukup bahwa kau memang putriku. Jadi, ku rasa tidak perlu melakukan hal itu."


Sebelumnya, memang Maura sudah menunjukkan kotak berisi bukti peninggalan ibunya kepada Bram, terkecuali suratnya. Di berniat memberikan surat itu setelah kondisi Bram benar-benar pulih.


''Sangat perlu, Tuan. Agar itu bisa menjadi bukti valid jika aku memang benar anakmu," sindir Maura dengan melirik tajam pria yang ada di sampingnya, sedangkan yang dilirik hanya menampilkan ekspresi biasa saja.


''Baiklah, jika kau bersikeras. Aku siap," putus Bram pada akhirnya. Setelah dipikir-pikir tes ini memang perlu, mengingat keponakannya belum menerima kenyataan jika Maura adalah putri kandungnya.


Dia berharap dengan adanya bukti itu bisa membuat Rayyan sadar.


''Bahkan, tes itupun tidak akan bisa menghalangi ku untuk menjadikanmu milikku, Maura," batin Rayyan menyeringai.


...----------------...


''Baiklah, Tuan. Hasilnya, akan keluar dua minggu lagi," ucap seorang dokter sesudah mengambil sampel darah milik Bram.


Ketiga orang pria berkumpul dalam ruang perawatan Bram. Pria paruh baya itu sengaja menunjuk dokter khusus untuk melakukan serangkaian tes itu.


"Apa tidak bisa dipercepat?"


"Itu untuk hasil yang lebih akurat, Tuan," sanggah dokter itu.


"Baiklah. Tolong, jaga kerahasiaan hasilnya dari siapa pun," pinta Bram.


"Baik, Tuan. Saya permisi."


Bram hanya mengangguk pelan.


"Tuan, kenapa tiba-tiba Anda melakukan ini?" tanya Anton yang masih belum paham keinginan tuannya.


"Tidak. Aku sangat yakin. Aku hanya mengikuti permainan Rayyan," jawab pria baya itu dengan menatap lurus ke depan.


"Permainan apa yang tuan, maksud?"


"Sudahlah, kau terlalu banyak tanya. Lakukan saja semua yang ku perintahkan tadi," tegas Bram.


"Sudah beres, Tuan. Sesuai yang Anda inginkan," ucap Anton dengan hormat.


"Bagus."


...----------------...


Maura segera mensejajarkan langkahnya pada pria yang sedari tadi dia tunggu kedatangannya.


''Dokter Emran."


Pria yang di panggil pun segera menoleh. Wanita itu susah payah menelan ludah ketika sepasang manik tajam itu menghujam dirinya.


"Ada apa?"


''S-sa-saya butuh b-bantuan dokter," ucapnya dengan terbata.


"Katakan! Aku tidak memiliki banyak waktu.'' Emran memasang wajah dinginnya, namun dalam hati sungguh dia ingin tertawa ketika melihat wajah gusar gadis di hadapannya.


Bohong jika pria itu tidak bahagia saat gadis pujaan hati kembali menyapa, bahkan meminta bantuan kepadanya. Tapi, dia juga ingin membalas sikap gadis itu selama beberapa hari kemarin. Katakanlah ini balas dendam, tapi bukan itu niat sesungguhnya dari Emran. Dia hanya ingin mengusili Maura.

__ADS_1


"Cepat katakan!"


''Saya sedang menjalani tes DNA. Tolong jaga keamanan hasilnya."


"Kau meragukan sistem keamanan rumah sakit ini?" tanya Emran tidak suka.


''Bu-bukan seperti itu. Saya sangat percaya dengan sistem keamanan disini. Saya hanya curiga dengan seseorang. Saya takut, dia menyabotase hasilnya." Maura segera meralat ucapannya.


Dia tidak ingin di sangka merendahkan instansi tempatnya bekerja.


"Siapa yang kau maksud?"


''Rayyan."


Emran mengepalkan tangannya kkuat-kuat ketika mendengar nama itu. Dia teringat peristiwa beberapa hari yang lalu, sewaktu dia mencuri dengar ketika Maura bertemu dengan ayah kandungnya. Dia melihat dengan mata kepala sendiri, Rayyan menolak keras kenyataan itu. Lagi dan lagi, rasa panas merasuk dalam hatinya. Rasa cemburu dengan tidak sopannya menyapa kala itu.


Dia benci melihat Rayyan begitu menginginkan wanitanya. Dia benci Rayyan membentak wanitanya. Dia benci obsesi pria itu. Hanya dia yang boleh memiliki Maura, tidak boleh yang lain, sekalipun itu Rayyan.


''Dokter, bagaimana?" tanya Maura untuk kesekian kalinya karena tak mendapat tanggapan apapun dari pria itu


"Dokter," panggil gadis itu lagi dengan mengguncang keras lengan pria itu.


''Iya," jawab Emran ketika tersadar dari lamunannya.


''Bagaimana dokter bersedia atau tidak?"


"Baiklah...."


Maura menghembuskan nafas lega tapi hanya sesaat karena Emran masih melanjutkan ucapannya.


''Tapi dengan satu syarat."


Sontak, wanita itu menatap lekat wajah pria di sampingnya.


''Apa?"


"Menjadi wanita ku," bisik Emran.


"Hah!"


"Kenapa kau tidak terima?'' Emran menaikkan sebelah alisnya.


"Bu-bukan begitu. Apa tidak ada syarat yang lain?" Gadis itu mencoba bernegosiasi, baginya itu syarat yang tidak masuk akal.


''Tidak ada," tegas Emran.


"Kalau kau tidak mau aku tidak memaksa. Hanya saja, aku tidak bisa membantu mu."


''Berarti dokter tidak ikhlas."


''Teserah apa katamu. Semua ada timbal baliknya, Maura." Emran berlalu begitu saja dari hadapan gadis itu.


Maura terlihat sangat gusar, pada siapa lagi dia meminta bantuan jika bukan pada Emran. Kalau meminta bantuan Mira, sama saja. Dia sama seperti gadis itu, hanya pegawai biasa posisi yang sama dengannya. Dia butuh jabatan yang lebih tinggi dari mereka, dan satu-satunya kandidat yang pas hanya Emran.


"Baik, aku terima," ucap Maura pada akhirnya

__ADS_1


"Kena kau!" Emran menyeringai puas.


__ADS_2