
"Kamu mau makan terlebih dulu atau langsung ke bioskop?"
Andrian membuka pembicaraan karena sejak tadi hanya ada keheningan diantara mereka.
Kini, keduanya telah sampai di pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.
''Waktu tayangnya jam berapa?"
''Masih tiga puluh menit lagi," jawab Andrian sambil melirik arloji di tangannya.
''Emm, langsung beli camilan aja, pasti antriannya panjang. Aku gak mau sampai ketinggalan filmnya."
Andrian tersenyum samar, dia bahagia mendengar nada antusias dari wanita itu. Dia merasa usahanya benar-benar dihargai.
''Terima kasih, Ra."
''Untuk?" tanya Maura dengan kening berkerut.
''Kau mau menghargai usahaku. Meskipun, aku tahu ... Sebenarnya, kau setengah hati menerima ajakanku."
Maura menegang di tempat, pria ini menyadari gelagatnya. Namun sejurus kemudian, dia berusaha memaksakan senyumnya.
''Sama-sama."
Keduanya menaiki sebuah eskalator untuk menuju lantai atas yang merupakan tempat penayangan film. Pada saat di tengah, matanya terpaku pada sosok pria yang sangat familiar tengah menggandeng mesra seorang gadis cantik berpakaian seksi. Entah kenapa ada rasa panas menjalar dalam dadanya. Ingin rasanya, dia menghampiri sepasang sejoli itu, lalu menghempaskan kasar tangan wanita gatal itu.
Namun, Maura berusaha menahan keinginannya. Dia balas mengamit erat lengan pria di sampingnya ketika mengetahui Emran menyadari keberadaannya. Wanita itu hanya melirik sinis tanpa memedulikan tatapan tajam pria itu.
''Ada apa kok tiba-tiba begini?" tanya Andrian dengan raut penuh kebingungan.
''Kenapa kamu tidak suka?" Maura mendelik kesal ke arah pria itu. Dia berniat melepas tautan tangannya tetapi segera ditahan oleh Andrian.
''Jangan dilepas! Aku suka," sahut Andrian cepat diiringi senyum manisnya.
...----------------...
''Emran kok balik ke atas? Katanya mau pulang," tanya Shita penuh kebingungan saat pria itu mengajak dirinya kembali menaiki tangga berjalan itu.
''Kalau kamu tidak mau. Kamu boleh pulang," sahut Emran dingin.
__ADS_1
"Eh, eh ... Mau kok, aku suka bisa lebih lama menghabiskan waktu bersamamu," ujarnya dengan bergelayut manja di lengan pria itu.
Tentu saja, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Mungkin, Emran ingin lebih dekat lagi dengannya. Hanya saja, dia gengsi, lalu menutupi dengan sikapnya yang dingin, pikir Shita dengan segenap kepercayaan dirinya.
Sebenarnya, Emran merasa risih dengan kelakuan wanita ini. Dia berusaha melepas belitan tangannya sedari tadi. Namun, semakin dia mencoba semakin kuat belitan tangan itu, hingga dia hanya bisa pasrah.
''Wah, kamu mau ngajak aku nonton, Em," seru wanita itu dengan mata berbinar, sedangkan Emran hanya membalas dengan deheman keras.
Mata pria itu awas meneliti para pengunjung yang tengah mengantre di bagian penjualan tiket. Berharap salah satu dari mereka adalah wanita yang dia temui tadi.
''Yuk, Emran kita cari camilan. Lima belas menit lagi filmya mulai. Untung gak kehabisan tadi," gerutu Shita dengan menarik tangan pria itu.
Emran hanya pasrah tangannya ditarik seperti itu. Namun, matanya masih mengawasi keadaan sekitar.
Pada saat dia mengantri membeli popcorn, netra berkaca mata itu menangkap sosok yang sedari tadi dia cari.
Dan sialnya lagi, wanita itu tengah menggandeng mesra lengan pria yang bersamanya memasuki gedung bioskop.
''Apa masih lama?" tanya Emran dengan mata menatap lurus target incarannya.
''Sabar, sebentar lagi. Itu masih dibungkus," jawab Shita tanpa mengalihkan perhatian dari layar ponsel.
''Cepat film akan dimulai," desak Emran.
''Iya-iya. Mbak cepat sedikit, ada yang tidak sabar," sindirnya dengan melirik pria di sampingnya.
...----------------...
Lampu sudah dipadamkan, itu artinya beberapa menit lagi film akan dimulai. Maura sangat antusias dengan penayangan perdana film ini. Cerita dari film ini diambil dari novel yang sempat viral beberapa bulan ini, bahkan dia juga sempat membeli novelnya.
''Kamu keliatan excited banget, sih? Jangan-jangan kamu tak pernah ke bioskop ya."
''Sembaragan! Ini film yang aku tunggu-tunggu jadwal penayangannya. Haish ... Meskipun, aku dari kampung tapi gak kampungan juga kali." Maura mendesis dengan kekesalan yang dibuat-buat.
Hal itu pun mengundang tawa seorang Andrian. Dia patut bersyukur, hubungannya dengan wanita ini semakin dekat. Semoga lekas tumbuh rasa di hati Maura untuknya, itulah secuil harapan yang selalu dia bisikkan dalam hati.
Kegembiraan Maura memudar saat mendapati sepasang pria dan wanita yang baru memasuki ruangan itu. Pandangan matanya selalu tertuju pada kedua orang itu, lalu berakhir duduk tepat di kursi yang ada depannya.
Dia mengepalkan tangan kuat demi meredam emosi yang tiba-tiba menjalar hingga ke ubun-ubun, hatinya panas melihat kemesraan mereka.
__ADS_1
''Kenapa sih mereka duduk di depanku segala. Tempat lain 'kan banyak," gerutunya dalam hati.
Dan semua tingkah Maura tak lepas dari pengamatan Andrian. Dia menyeringai ketika sebuah ide terlintas dalam pikirannya.
''Tenanglah, Ra ... Ada aku di sini. Kau bisa memanfaatkan aku untuk membalasnya," bisik Andrian dengan menggenggam lembut kepalan tangan wanita itu.
Maura menoleh, kemudian menatap lekat wajah Andrian, sedangkan pria itu hanya menyunggingkan senyum manisnya.
''Aku serius."
"Sayang, kamu mau ini? Sini aku suapi.'' Andrian mengeraskan suara untuk memulai aksinya.
Sontak, suara keras pria itu mengundang perhatian para pengunjung lain. Banyak pasang mata yang menoleh ke arah mereka, termasuk pasangan yang ada di depannya.
Maura yang merasa malu segera menyembunyikan wajahnya di lengan pria itu. Dan tindakan Maura yang seperti itu membuat keduanya semakin terlihat mesra.
''Perhatian banget sih, pacarnya. Jadi pengen...."
''Gak usah pamer kemesraan juga kali. Gak sadar di tempat umum."
''Aih, si cewek langsung malu. Kalau aku juga sama sih."
''Mas-mas, gak usah lebay ... Bukan situ doang yang punya pasangan saya juga punya," celetuk seorang wanita yang berada tepat di depannya yang tidak lain adalah Shita.
''Iri bilang bos," jawab Andrian cuek.
''Siapa juga yang iri," balas Shita tak kalah sewot, "Situ aja emang lebay."
''Pake ngeles lagi. Udah tau situ yang yang dari tadi nempel mirip ulet keket kegatelan tapi tetap dicuekin 'kan sama pasanganmu. Gak kayak saya yang mesra," ujar Andrian dengan mengusap lembut surai panjang wanita di sampingnya.
Dan itu semua tak luput dari pandangan mata Emran. Pria itu segera menyela pembicaraan mereka sebelum bertambah panjang.
''Diamlah! Atau kita keluar," tegurnya dengan nada dingin menahan geram.
''Drian, sudah ... Aku malu," bisik Maura yang masih menyembunyikan wajahnya.
''Oke, tidak lagi. Filmnya sudah mulai, keluarlah dari persembunyianmu."
Maura pun menurut. Dia mulai fokus pada film yang diputar tapi tangannya masih setia bertaut pada lengan kekar pria di sampingnya. Karena dia tau, Emran masih lirik-lirik ke arahnya.
__ADS_1
''Panas 'kan kamu, Em. Rasain! Ini pembalasan dari rasa cemburuku," batin Maura dengan kesal.
''Awas, kau Maura telah membuat panas hatiku," geram Emran dalam hati dengan mengepalkan tangan kuat.