
"Belakangan ini, ayah perhatikan hubunganmu dengan Andrian semakin dekat saja. Tapi ayah senang memang itu yang ayah harapkan." Suara bariton milik Bram memenuhi ruang makan pagi itu.
Maura hanya membalas dengan senyum paksa. Dia melanjutkan sarapannya meski sudah kehilangan selera karena pembahasan ini.
''Ayah ada rencana lain. Ayah harap kamu akan setuju, Maura."
Maura dan Rayyan saling melempar pandangan, seolah bertanya melalui isyarat mata apa rencananya. Mengingat, sosok Bram merupakan pria yang sulit untuk ditebak.
''Rencana apa, Yah?''
''Ayah berencana meniadakan acara pertunangan."
''Apa?!''
Maura sangat terkejut mendengar hal itu. Namun, sedetik kemudian seutas senyum terkembang di bibirnya. Entah kenapa,. pernyataan ayahnya bagaikan angin segar di tengah rasa gerah yang beberapa hari ini ia rasakan.
''Tapi, ayah akan langsung menikahkan kalian."
''Hah!"
Bagaikan di lambungkan ke atas langit ke tujuh, kemudian langsung di hempaskan ke dasar bumi. Itulah yang dirasakan Maura. Senyum manis yang terkembang dari bibirnya berubah menjadi sebuah senyum kecut.
''Bagaimana kau setuju, 'kan?"
''La-langsung, Yah?"
Bram mengangguk mantap.
''Apa tidak terlalu cepat?"
''Tidak, Sayang ... Ayah rasa pendekatan kalian udah cukup. Ayah takut kau berubah pikiran lagi." Bram mengutarakan alasannya.
Rayyan yang sedari menjadi pendengar setia, hanya bisa melipat mulutnya dalam-dalam agar tawanya tidak pecah. Maura yang melihat itu pun membalas dengan lirikan kesal.
''Kenapa ayah tidak meminta Rayyan saja yang menikah lebih dulu?" Maura mengajukan aksi protesnya.
Uhuk-uhuk!
Rayyan tersedak makanan yang terlanjur masuk ke tenggorokannya. Dia sangat terkejut mendengar pendapat yang diajukan sepupunya.
''Hati-hati, Ray. Gitu aja langsung kesedak," cibir Maura dengan tatapan penuh ejekan.
Wanita itu memberikan segelas air putih yang langsung disambut oleh pria itu hingga tandas.
''Ente kadang-kadang," ujar Rayyan dengan kesal.
''Apa?" Maura menatap berani pria itu.
''Itu bisa diatur tapi ayah ingin melihat kamu menikah terlebih dulu, Sayang. Ayah sudah tua. Ayah butuh penerus yang bisa meneruskan perusahaan ayah, sedangkan kamu keturunan ayah satu-satunya."
''Tapi, Yah...." Ucapan Maura menggantung begitu saja saat mendapat senggolan keras pada kakinya yang ada di bawah meja.
''Baiklah," ucap wanita itu dengan pasrah.
__ADS_1
Pendar kebahagiaan tergambar jelas di wajah tua itu. Senyum cerah terlukis sempurna di bibirnya.
''Terima kasih, Sayang. Kau memang putri ayah.''
''Yah, aku ingin kembali ke apartemen. Apa boleh?" tanya Maura dengan harap-harap cemas.
Dia berharap sang ayah mau mengabulkan permintaannya. Tak dapat dipungkiri, selama hampir satu bulan tinggal di rumah ini. Banyak tekanan batin yang dia rasakan. Dan dia ingin melepas semua beban itu dengan berbagai dengan sahabatnya, Mira.
Bram tampak berfikir sejenak, hingga beberapa saat kemudian, dia mengangguk pelan sebagai tanda setuju.
''Makasih, ya, Yah...." Maura segera menghampiri pria baya itu, kemudian menghambur memeluk erat leher ayahnya.
''Tapi ingat...."
''Harus selalu dalam pengawasan," sahut Maura cepat.
''Anak pintar...."
Rayyan pun ikut merasakan kebahagiaan yang ada di depannya. Dia bersyukur bisa melihat omnya berkumpul dengan keluarga yang sekian tahun dia cari.
...----------------...
''Apa yang kau rasakan, Ra?" tanya Rayyan saat mereka berada dalam perjalanan menuju tempat kerja masing-masing.
''Entahlah, Ray," jawab Maura lirih dengan mengalihkan pandangan ke arah luar jendela.
''Apa kau masih akan melanjutkan aksi kucing-kucingan kalian?"
Maura membalas dengan mengangkat kedua bahunya.
''Daripada nanti ketahuan, Om Bram akan semakin kecewa," lanjut pria itu masih fokus dengan kemudinya.
''Entahlah, yang terpenting jalani saja. Jika nanti berjodoh pasti ada jalan."
''Pasrah boleh tapi juga usaha juga perlu."
''Ah, sudahlah, Ray. Ocehanmu itu semakin membuat kepalaku sakit."
Bertepatan pada saat itu, mobil yang dikendarai Rayyan tiba di depan lobby rumah sakit milik keluarga omnya. Maura segera keluar tanpa mengucap sepatah katapun, bahkan dia juga sempat membanting pintu.
''Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Bisa jauh, asal buah itu menggelinding, kemudian terjun ke sungai, lalu terbawa arus deras," Rayyan bermonolog di dalam mobilnya.
...----------------...
''Ayo, angkat dong, Em...." Maura bergumam gelisah dengan mondar-mandir ke sana kemari. Ponsel masih setia menempel di telinganya. Kuku jari tangan pun menjadi pelampiasan dari rasa gelisah tak berkesudahan.
Dia mencoba berkali-kali menghubungi Emran untuk memberitahu pria itu mengenai rencana dadakan ayahnya. Namun, nihil panggilannya tersambung tapi berakhir dengan anjuran pesan suara.
''Kamu kemana, sih, Em ... Puluhan kali tersambung tapi tidak ada satupun yang kamu angkat." Kekesalan Maura berada di puncak tertinggi, hingga dia ingin membanting ponselnya saat itu juga.
Dia mencoba sekali lagi, barangkali pria itu mau mengangkatnya. Namun, belum sempat panggilannya terhubung, Andrian masuk begitu saja ke ruangannya.
''Maura, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
__ADS_1
Maura yang terkejut pun langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku jas putihnya tanpa mematikan sambungan.
''Apa?"
''Mari bicara sambil makan siang."
''Baiklah..."
...----------------...
''Ra, apa benar Tuan Bram berniat langsung menikahkan kita tanpa bertunangan?"
''Iya," jawab Maura datar.
''Apa kau menyetujuinya?"
Andrian yang merasa tidak mendapat respon apapun dari wanita di depannya pun melanjutkan ucapannya.
''Emm, maksudku ... Jika kau tak setuju. Kau boleh menolak, bahkan bahkan membatalkan. Aku akan berlapang dada. Nanti, aku—''
''Aku menyetujuinya," sahut Maura cepat.
''Benarkah?" Andrian bertanya dengan antusias.
''Iya."
Emran mengepalkan tangan kuat. Dia yang merasa khawatir ketika melihat begitu banyak missed call dari wanita pujaannya, segera menghubungi. Namun, apa yang dia dengar ternyata sebuah kenyataan menyakitkan.
Matanya memerah dengan ponsel masih menempel di telinga mendengar semua pembicaraan dua manusia di seberang sana.
''Kau pembohong, Ra," geram Emran.
''Kau pembohong!"
''Pengkhianat! Aaarrrgghh....''
PYAK!!
"Astaga, Emran. Apa kau mau mencelakai ibumu dengan ponselmu itu," pekik Divia dengan suara lantangnya.
Wanita itu sangat terkejut ketika memasuki ruangan putranya, disambut dengan sebuah benda melayang yang berada tepat di depannya. Beruntung, dia segera menghindar, jika tidak, mungkin benda itu sudah mengenai kepalanya. Sehingga, ponsel mahal itu harus hancur mengenaskan di lantai.
''Ada apa, Kak? Coba cerita ke mama. Apa hal yang membuatmu sampai marah seperti ini?" Divia mendekati putra sulungnya yang masih berusaha mengatur emosi.
Emran masih diam dengan nafas terengah-engah seolah habis lari marathon berpuluh-puluh kilometer. Namun, pandangannya lurus ke depan.
''Ini minum dulu." Divia berinisiatif memberi segelas air yang dia ambil dari meja kerja putranya.
Emran menerimanya, lalu meminumnya hingga tandas. Berangsur-angsur, pria itu mulai tenang. Nafasnya juga tidak memburu seperti tadi.
''Kamu kenapa, Kak? Coba cerita pelan-pelan ke mama."
''Dia pembohong! Dia pengkhianat!"
__ADS_1
''Siapa?"
''Maura."