Pencarian Maura

Pencarian Maura
Divia Mencari Mantu


__ADS_3

"Masih ingat pulang, Kak," seru Divia ketika melihat bayangan putra sulungnya memasuki rumah.


Emran tak menghiraukan ucapan sang ibu karena jika ditanggapi bisa jadi akan menimbulkan perdebatan di pagi ini. Dia melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju ke kamar. Dia ingin segera merebahkan tubuhnya yang letih karena beberapa hari tak dapat tidur nyenyak.


''Sekarang begitu sikapmu sama mama, Kak. Kau mengabaikan wanita yang melahirkanmu hanya karena wanita itu."


''Mam." Sang suami yang tengah bersamanya pun mencoba memperingatkan sang istri.


Emran menghentikan langkahnya di tengah anak tangga, kemudian menatap tajam ibunya.


''Jika mama menginginkan aku berada di rumah. Tolong, buat aku nyaman berada di sini. Jika mama memang menginginkan aku pergi, maka lanjutkan ucapan mama itu."


''Asal mama tau, aku pulang ke rumah ini atas desakan dari Maura. Dia memintaku untuk meminta maaf kepada mama. Dia ingin aku memperbaiki hubunganku dengan mama."


Setelah berucap panjang lebar, Emran melanjutkan kembali langkahnya hingga beberapa saat kemudian terdengar suara pintu dibanting yang berasal dari kamar Emran.


''Mam, bisa tidak? Tidak usah memancing emosi putra-putramu? Papa capek mendengar pertengkaran kalian."


''Lalu, mama harus diam saja ketika anak-anak salah jalan, Pap, begitu?" sergah Divia dengan nada sarkas.


''Mereka memilih wanita pilihan mereka itu yang mama sebut salah jalan? Apa mama ingin anak-anak melajang seumur hidup. Sampai kita mati, mereka belum punya penerus kita. Kita juga butuh penerus, Mam. Untuk meneruskan usaha keluarga." Raichand tidak habis pikir dengan istrinya.


''Kalau mama tidak pernah setuju dengan pilihan mereka, kenapa mama tidak mencoba memilihkan pendamping untuk mereka? Siapa tau mereka cocok dengan pilihan mama.''


Divia terdiam sejenak mendengar usulan suaminya.


''Apa mama tidak ingin segera menggendong cucu?" Raichand melanjutkan aksinya ketika melihat istrinya mulai terpengaruh dengan ucapannya.


''Bagus juga usul papa, tumben pikiran papa terbuka. Biasanya, papa tidak pernah sejalan dengan mama."


Tanpa mereka sadari, Emru yang hendak turun mendengar pembicaraan kedua orang tuanya. Dia mengurungkan niat memilih kembali menuju kamar sang kakak.


''Apa kau tidak bisa mengetuk pintu sebelum masuk ruangan pribadi orang lain," sarkas Emran saat adiknya melenggang masuk ke dalam kamarnya.


''Ya ampun, Kak. Orang lain dari mana? Aku ini kembaranmu sendiri," protes Emru.


''Mau apa kau kesini, jika tidak ada hal penting, keluarlah! Aku ingin istirahat, tubuhku sangat letih," usir Emran.


Emru hanya mendengus kesal. "Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan papa sama mama sewaktu mau turun tadi."


''Apa?''


''Mereka berniat menjodohkan kita."

__ADS_1


''Dengan siapa?" tanya Emran yang mulai serius menanggapi ucapan adiknya.


Emru hanya megedikkan bahu acuh. Yang membuat Emran berganti mendengus kesal.


''Kau membuang-buang waktuku. Keluar sana! Kalau niat memberi informasi itu yang lengkap. Jangan setengah-setengah," sentakya dengan mendorong tubuh kekar adiknya hingga keluar dari ruang pribadinya.


''Kak, kau tak ingin berterima kasih padaku. Aku sudah memberimu informasi penting." Emru berteriak di depan pintu yang sudah tertutup.


''Dasar Beruang kutub.''


...----------------...


"Apa kau yakin dengan keputusanmu, Maura?" tanya Bram ragu-ragu ketika putrinya selesai mengutarakan keinginannya menyembunyikan identitas sebagai putri Bramasta Haydar.


''Sangat yakin, aku ingin hidup tenang. Yang terpenting aku adalah putri ayah. Dan ayah tau hal itu. Bagiku sudah cukup. Aku tidak butuh pengakuan banyak orang," jawab Maura mantap.


Bram terdiam sejenak, setelah dipikir-pikir keinginan sang putri ada benarnya juga. Dengan begitu, keamanan Maura terjamin.


''Baiklah," ucap Bram dengan pasrah.


Senyum gadis itu terkembang, dia langsung memeluk tubuh sang ayah untuk menyalurkan rasa bahagianya.


''Terima kasih, Yah."


Maura melerai pelukan itu, kemudian menatap lekat wajah yang terlihat berkeriput itu.


''Apa, Yah?''


''Kamu harus tinggal di salah satu apartemen milik ayah. Dan kamu harus selalu dalam pengawasan anak buah ayah dari jarak jauh." Bram menatap serius wajah putrinya.


Maura menghembuskan nafas kasar. Mau tak mau, dia harus menyetujui persyaratan itu.


''Iya, tapi aku ajak Mira juga ya, Yah. Kasihan dia tinggal sendirian."


''Boleh." Bram menimpali diiringi senyum lembutnya.


''Terima kasih, Yah." Maura kembali memeluk tubuh pria baya itu lebih erat dari sebelumnya.


''Seandainya, ibumu juga ada di sini. Kebahagiaan ayah akan semakin lengkap,'' ungkap Bram dengan mata berkaca-kaca.


''Ayah belum ikhlas?" Maura mendongak menatap wajah tua itu.


''Bukan tidak ikhlas, Ra. Hanya menyayangkan keputusan sepihak ibumu, hingga kita terpisah dalam kurun waktu yang lama. Ayah yakin, pasti selama ini ibumu sangat menderita dengan keputusannya sendiri."

__ADS_1


''Ayah benar, aku sering melihat ibu termenung sendirian. Terkadang, dia juga menangis. Setiap kali aku menghampiri, dia langsung menghapus air matanya, kemudian memperlihatkan senyum cerahnya. Seakan-akan, ibu menunjukkan kalau dia baik-baik saja. Padahal kesedihan tergambar jelas dari pancaran matanya.'' Maura berkata dengan tatapan sendu.


''Asal ayah tau, ibu adalah wanita yang paling kuat. Dia selalu tegar saat banyak orang menghina dirinya sebagai perempuan murahan, dia juga sering mendapat tuduhan jika ibu adalah wanita simpanan sari ayah Mahesa. Tetapi, ibu selalu bisa membungkam mulut mereka dengan caranya sendiri. Dan aku bangga dengan ibu."


''Siapa ayah Mahesa?" tanya Bram dengan kening berkerut.


''Orang tua angkatku. Berkat mereka juga, aku bisa menyelesaikan studi kedokteranku hingga aku berada pada titik ini. Mereka orang yang baik," tutur Maura.


''Kapan-kapan ajak ayah bertemu mereka."


''Boleh, ayah sama bunda pasti bahagia bisa bertemu dengan ayah."


''Tapi, nanti. Kalau kondisi ayah benar-benar pulih. Aku tidak ingin ayah kenapa-napa seperti kemarin," lanjut wanita itu penuh peringatan.


''Iya-iya...."


Bram kembali memeluk putrinya, mengusap surai panjang bergelombang penuh kasih sayang. Dia memperlakukan Maura seperti putri kecilnya. Begitu pun dengan Maura, dia menumpahkan kemanjaannya kepada Bram. Entah kenapa, tidak ada rasa canggung sedikitpun pada pria baya itu, meski mereka baru bertemu. Mungkin, inilah yang dinamakan ikatan batin.


''Riyana, putri kita tidak hanya mirip denganku. Ada sifatmu juga dalam dirinya, kemanjaannya dan kecerewetannya sangat mirip denganmu."


Sesekali, Bram mengecup lembut pucuk kepala putrinya.


...----------------...


''Apa ini, Mam? Siapa mereka?" tanya Emran ketika melihat banyak wanita muda berada di ruang tamu kediamannya.


''Ooo, Kak, sini ... Mama sedang membuka audisi mencari mantu untuk kedua putra tampan mama. Mama tengah menyeleksi mereka satu per satu."


Emru yang berdiri di samping sang kakak pun menatap tak percaya ke arah ibunya. Matanya melirik beberapa wanita yang ada di depan mereka. Diantara para wanita itu, ada yang berpenampilan sangat seksi hingga aset berharga bagian atasnya seolah ingin keluar, ada yang berpenampilan anggun dengan riasan tebal, ada yang berpenampilan sederhana dan yang lebih anehnya lagi, ada seorang wanita berjilbab yang turut serta dalam ajang aneh yang diadakan ibunya.


Berbeda dengan Emru yang merasa terkejut, justru Emran hanya menanggapi dengan wajah datarnya.


''Kalian pilih saja, mana wanita yang cocok untuk kalian," titah Divia pada kedua putranya.


''Aku tidak tertarik," sahut Emran dengan melenggang pergi menjauhi tempat itu.


Divia berdecak sebal melihat reaksi putra sulungnya. "Kakakmu selalu seperti itu, Emru."


''Kalau kakakmu tidak mau, kau saja, Emru. Barangkali, ada yang sesuai kriteramu."


Emru hanya meringis mendengar desakan ibunya. Dia melirik para wanita yang berada di sana. Pria itu bergidik ngeri ketika salah seorang wanita berpakaian seksi dan beriasan tebal, mengerling nakal ke arahnya bermaksud menggoda dirinya.


''BIG NO, MAM!"

__ADS_1


__ADS_2