Pencarian Maura

Pencarian Maura
Kala Amarah Menguasai Jiwa


__ADS_3

Maura menatap nanar gundukan tanah basah yang dipenuhi bunga-bunga. Dia tak menyangka kebersamaannya dengan sang ayah hanya sekejap mata. Belum genap satu putaran bumi, dia harus kembali kehilangan, bahkan lebih menyakitkan dari sebelumnya karena Bram pergi untuk selamanya.


''Ayah, maafkan aku," gumamnya dengan air mata terus membasahi pipi.


''Aku memang putri yang buruk. Aku anak durhaka. Gara-gara aku ayah menjadi seperti ini." Maura tergugu di samping pusara sang ayah.


Dia memeluk erat nisan kayu bertuliskan nama ayahnya. Kini, hanya sesal yang teramat yang dia rasakan.


Sebenarnya, ada rasa iba dalam hati Rayyan saat melihat pemandangan itu. Namun, amarah dalam dirinya lebih mendominasi, sehingga membuatnya jengah.


''Sudah, Ra. Tak ada guna kau menangisinya. Air matamu tidak akan membuat Om Bram hidup kembali.''


PLAK!


Geplakan keras mendarat pada lengannya. Mira melirik sinis ke arah Rayyan. Dia paham betul akan perasaan pria itu. Tetapi, dia juga kurang suka jika Rayyan berbicara demikian disituasi yang masih seperti ini.

__ADS_1


''Mentang-mentang dia sahabatmu. Kau membelanya." Rayyan menggeleng tidak percaya. ''Kalian berdua memang bodoh."


''Kau bisa berkata seperti itu karena tidak merasakan bagaimana berada di posisi Mbak Maura, Dokter Rayyan. Seandainya, kau ada di posisinya. Apa mulutmu masih bisa berkata seperti itu?" Mira berucap ketus.


''Mira, sudah....''


Mira langsung membungkam mulut ketika mendengar peringatan sahabatnya.


''Sebaiknya kita pulang, Mbak. Daripada terlalu lama di sini bisa-bisa tensi darah kita naik drastis," sindirnya dengan mengeraskan suara.


''Tinggalkan semua fasilitas yang diberikan Om Bram. Kau tak pantas mendapatkannya. Kau harus sadar diri, Ra. Selama Om Bram bersamamu, dia selalu terlibat masalah yang membahayakan nyawa. Kau tak ubahnya benalu bagi Omku. Sekarang, dia tiada pun karenamu. Kau memang anak pembawa sial, Maura.'' Rayyan berujar lantang tanpa perasaan. Rupanya amarah yang menguasai jiwa membuatnya tak bisa mengontrol ucapannya sendiri.


Perkataan itu bagaikan belati yang menghunus tajam relung hati Maura. Dia mengepalkan tangannya kuat demi meredam emosi agar tidak ikut terpancing.


''Tanpa kau minta, aku akan mengembalikan semuanya, termasuk jabatanku. Semua harta Tuan Bram akan jatuh ke tanganmu. Aku tak berminat sedikitpun dengan harta itu."

__ADS_1


''Jika bukan karena pesan terakhir ibuku. Aku tidak akan jauh-jauh kemari hanya demi mencarinya. Camkan itu, Tuan Rayyan.'' Maura berucap lantang tanpa membalikkan badan. Sungguh hatinya teramat sakit saat ini.


''Pria ini benar-benar, pengen kusumpal mulutnya itu pakai tanah kuburan.'' Mira yang mendengar semua itu pun ikut tersulut emosi, meski ucapan itu bukan ditujukan untuknya.


Dia berniat membalikkan badan tetapi Maura segera mencegahnya.


''Tapi, Mbak ... Dia tidak bisa didiamkan," protesnya.


''Sudahlah, Mira, tidak ada gunanya meladeni ucapan orang sedang dikuasai amarah. Buang-buang tenaga. Sebaiknya, kita segera ke apartemen untuk mengemasi semua barang milik kita, sebelum diusir secara paksa."


Mira mendengus kesal, ini yang tidak dia suka dari sikap sahabatnya. Maura terlalu sabar menghadapi orang-orang yang menindasnya.


''Awas kau, Dokter Playboy. Aku sumpahin kau menyesal seumur hidup," geramnya dalam hati.


''Ayo, Mira," ujar Maura dengan gemas karena gadis itu masih mematung dengan wajah keruhnya, bahkan dia sampai harus menarik paksa tangannya agar mau bergerak.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2