Pencarian Maura

Pencarian Maura
Penghakiman untuk Divia


__ADS_3

''Aku peringatkan sekali lagi, Jauhi putriku! Karena aku akan menjodohkannya dengan seseorang."


Maura terkesiap mendengar keputusan sepihak sang ayah.


''Siapa, Yah?''


''Andrian."


Pria yang disebut namanya pun ikut menegang di belakang Bram.


''Apah! Gak, aku gak mau, Yah." Maura menolak keras keputusan itu.


''Kalau begitu, kamu pilih ayah atau laki-laki ini." Bram berucap masih dengan emosi meninggi.


''Yah, tolong jangan begitu," pinta Maura wajah memelas.


''Kau turuti saja ayahmu, Ra," kata Emran pelan.


''Tapi, Em...."


''Kita pergi dari sini." Bram menarik kembali tangan putrinya, hingga masuk ke dalam mobil.


Wanita itu hanya bisa menatap nanar pria yang telah berhasil menguasai seluruh tempat dalam hatinya.


Hanya ada keheningan selama perjalanan pulang. Baik ayah dan anak tidak ada yang berniat membuka suara. Maura menyibukkan diri dengan jalanan di luar sana. Sesekali, dia menghapus air mata yang terus menetes ke pipinya.


Bram menghembuskan nafas kuat melihatnya. Sebenarnya, dia tidak tega melihat kesedihan putrinya. Namun, dia juga tidak terima dengan semua hinaan itu. Dia masih bisa menahan saat dua ajudan melapor mengenai ucapan Divia saat itu, ditambah keponakannya juga melaporkan hal yang sama.


Ingin rasanya, dia membalas saat itu juga. Tetapi, dia tidak ingin mengambil keputusan dari sesuatu yang hanya ia dengar dari mulut orang. Dia ingin membuktikan sendiri. Dan semua penantiannya selama beberapa hari terakhir, terbayarkan malam ini.


...----------------...


Meninggalkan keheningan antar ayah dan anak. Kita beralih pada keributan di sebuah ballroom hotel. Tepatnya kemarahan Raichand Khan pada istrinya.


"Sekarang, mama puas! Mama puas sudah menghancurkan jerih payahku selama bertahun-tahun." Teriakan Raichand menggema di ruangan yang sudah sepi itu.


Semua tamu undangan dibubarkan atas perintah Raichand, tepat setelah pria itu mengetahui keputusan yang diambil sepihak oleh Bram. Yang tidak lain adalah investor terbesar di beberapa bidang usahanya.


''Maafkan mama, Pa."


Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Divia diiringi isak tangisnya.

__ADS_1


''Apa permintaan maafmu bisa mengembalikan semuanya, Divia, Hah!"


''JAWAB!"


Divia terkesiap mendengar suara lantang suaminya. Baru kali ini, dia mendengar sang suami memanggil dirinya dengan menyebutkan nama. Semarah apapun Raichand kepadanya, dia tak pernah seperti itu. Itu artinya kesalahannya kali ini benar-benar tak termaafkan.


''Selama ini, aku selalu mentolerir semua perbuatanmu. Aku diam karena aku tak ingin membuat keributan. Aku tau kau keras kepala maka dari itu aku memilih mengalah." Raichand berucap dengan suara rendah, "tapi kali ini....''


Pria baya itu berlalu begitu saja tanpa melanjutkan ucapannya. Dia benar-benar kecewa, hingga tak mampu lagi bagaimana mengungkapkan kekecewaannya.


''Pap, maafkan aku."


''Pap!" Teriakan wanita itu hanya berakhir sia-sia karena sang suami tak menoleh sedikitpun ke arahnya.


Netranya beralih pada putra bungsunya yang sedari tadi hanya menjadi penonton drama kedua orang tuanya.


''Emru, maafkan mama. Mama tidak tau jika akan berkahir seperti ini." Divia berusia meraih tangan putranya namun segera ditepis kasar oleh pria itu.


''Andai, mama tahu betapa kerasnya usahaku untuk mendapatkan investor royal seperti Tuan Bram. Mama akan berfikir seribu kali untuk melakukan ini," kata Emru dengan tatapan dingin ke depan.


"Andai, mama tahu betapa bahagianya aku saat mendapat kabar jika Tuan Bram bersedia menjadi investor utama di perusahaan kita. Aku merasa semua lelahku terbayarkan."


"Asal mama tau, kebanyakan investor di perusahaan kita adalah para rekan bisnisnya. Dengan senang hati, dia merekomendasikan pada para koleganya untuk berinvestasi di usaha-usaha kita. Dengan teganya, mama berbuat hal sebodoh ini hanya karena rasa tidak suka." Sorot kekecewaan tergambar jelas di mata pria itu.


Divia tidak menyangka jika Emru akan berlaku demikian padanya. Putra yang selama ini selalu menghormatinya, selalu menuruti semua perintahnya tanpa melawan seperti Emran. Kini, dengan teganya menudingkan tangan ke wajahnya, seakan menganggap dirinya sebagai musuh terbesarnya.


Sungguh, hati ibu mana yang tidak sakit hati diperlakukan seperti itu oleh putra yang ia perjuangkan mati-matian kehadirannya dengan bertaruh nyawa.


''Apa kau juga akan menghakimi mama seperti mereka, Emran?" tanya Divia pada putra sulungnya.


Seperti biasa, tanggapan pria itu selalu dingin. Dia hanya melirik sekilas penampilan sang ibu yang jauh dari kata rapi seperti beberapa jam lalu.


''Untuk apa? Semua kekecewaanku sudah diungkapkan semua oleh ayah dan adikku," sahutnya datar.


''Apa itu artinya kau mau memaafkan mama, Emran?"


Pria dingin itu hanya terkekeh sinis.


"Setelah mama berhasil menjauhkan aku dari wanita yang kucintai. Apa dengan mudahnya, aku akan memaafkan mama?"


''Kalian benar-benar ... Sudah menghargai aku sebagai ibumu," geram Divia.

__ADS_1


''Jika mama ingin dihargai, terlebih dulu mama harus menghargai orang lain. Karena dalam hidup ada hukum timbal balik, apa yang kita tanam itu yang kita tuai."


''Pergi kalian semua, PERGI! Aku memang tidak pernah berharga di mata kalian," teriak Divia setelah satu per satu keluarganya meninggalkannya sendirian di ruangan megah itu.


Kini, tinggallah dia seorang diri dengan isak tangis tiada henti. Penampilannya sangat kacau, riasannya berantakan di area wajah. Siapapun yang melihat pasti akan berkesan jika wanita tua itu sangat menyedihkan.


''Aku bersedia membantumu, Nyonya."


Divia mengalihkan pandangan pada suara bariton memenuhi ruangan itu.


''Siapa kau?" tanya Divia dengan suara seraknya.


Pria itu menyebutkan nama dan posisinya pada perusahannya.


''Mau apa kau di sini?"


''Aku bersedia menggantikan posisi Bramasta Haidar di perusahaanmu. Asal....''


''Asal apa?" Divia sangat penasaran dengan kelanjutan dari ucapan pria itu.


''Kau bersedia bersekutu denganku."


''Kau membantuku karena ada syarat, begitu?"


Pria itu menjentikkan jari tepat di depan wajah Divia.


''Tepat sekali. Bagaimana, apa kau bersedia, Nyonya?"


''Apa yang harus aku lakukan?'' Pertanyaan itu sebagai respon atas persetujuan penawaran itu.


''sangat mudah."


Kemudian, pria itu mulai membisikkan sesuatu ke telinga Divia. Pada awalnya, dia hanya mengangguk tanda memahami arahan pria di sampingnya. Namun, pada akhirnya matanya terbelalak saat mengetahui akhir dari rencana itu.


''Tidak, aku tidak bisa. Itu kriminal." Wanita paruh baya itu menolak dengan tegas.


''Oh, ayolah, Nyonya. Bukankah kau juga membenci wanita itu? Apa kau juga ingin hidup menjadi gelandangan, meninggalkan kemewahan yang selama ini kau dapatkan?" Pria itu berusaha meracuni pikiran Divia dengan segala bujuk rayunya.


''Jika kau menyetujui ini, kau akan mendapat dua keuntungan. Pertama, nama baikmu dalam keluargamu akan kembali karena mereka pasti akan menganggap Anda sebagai penyelamat. Kedua, kau bisa membalas rasa sakit hatimu pada keluarga wanita itu."


Divia tampak berfikir keras, apa yang dikatakan pria misterius itu benar adanya.

__ADS_1


''Baiklah, aku terima...."


__ADS_2