
''Permisi, Tuan, Nyonya. Maaf menggangu ... Di bawah ada dua orang polisi mencari Nyonya dan Tuan Emran."
Suara seorang pelayan mengalihkan perhatian keempat orang yang tengah bersitegang.
Divia membeku di tempat. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi, untuk melarikan diri pun percuma dia sudah terjebak.
''Sampaikan pada mereka, kami akan segera ke bawah," titah Raichand dengan nada datarnya.
''Baik, Tuan," ucap sopan si pelayan sebelum undur diri.
''Emru, tolong mama ... Mama terpaksa melakukan ini. Semua bukan atas keinginan mama. Ada orang yang menyuruh mama, Emru." Divia mengiba pada putra bungsunya dengan air mata berderai.
Namun, Emru hanya diam. Dia masih tidak percaya ibunya akan melakukan hal sekeji ini hingga menghilangkan nyawa seseorang.
''Hentikan dramamu, Divia! Atau aku benar-benar akan menceraikanmu," bentak Raichand yang merasa jengah melihat tingkah sang istri.
''Stop, Pap! Sudah dua kali papa mengatakan itu. Sekali lagi papa mengucapkan hal yang sama papa sudah menjatuhkan talak tiga pada mama," hardik Emran.
Seburuk-buruknya wanita itu, Divia tetaplah ibu kandungnya. Dia sadar betul jika perbuatan ibunya tidak bisa dimaafkan, bahkan termasuk perbuatan melanggar hukum. Akan tetapi, dia juga tidak rela keluarganya hancur karena masalah ini.
Raichand mengatupkan mulutnya rapat-rapat setelah mendapat peringatan dari putra sulungnya. Dia berusaha mengatur nafas untuk menetralisir emosi yang masih menyelimuti jiwanya.
''Kau harus mempertanggung-jawabkan perbuatanmu, Mam. Temui kedua polisi itu, ikuti semua prosedur mereka," ujar Emran dengan suara beratnya.
__ADS_1
''Tidak, Emran. Mama tidak bersalah, mama dipaksa." Divia masih bersikukuh dengan keinginannya.
''Jangan memperkeruh suasana, Mam," geram pria itu.
Emran segera menarik paksa tangan sang ibu. Karena namanya juga terpanggil, maka dia akan menghadap bersama Divia.
''Emru, tolong mama ... Mama tidak bersalah. Mama dipaksa," teriak Divia dengan langkah terseok-seok mengikuti langkah lebar putra sulungnya, sedangkan Emru hanya diam mematung hingga suara sang ibu hilang di balik pintu.
''Ayo, Emru, kita ikut ke bawah. Kakakmu tidak bersalah."
''Iya, Pap."
...----------------...
Seminggu berada di tempat baru dengan uang pas-pasan membuatnya merasa tidak nyaman. Meskipun Maura bersedia mencukupi semua kebutuhannya tetapi dia tetap merasa tidak enak. Lagipula, dia juga bosan berada di rumah tanpa ada kegiatan.
''Sebentar, aku tanya Alvaro dulu. Barangkali, di rumah sakit ada lowongan buatmu," ujar Maura seraya meraih ponsel.
''Enggak ah, kalau di sana. Itukan cabang rumah sakit di Jakarta. Sama aja, dong cuma beda tempat doang. Aku mau cari suasana baru."
''Selalu ribet kalau berurusan sama kamu, Mir." Maura merotasi bola matanya.
''Tempat lain aja."
__ADS_1
''Gak ada, Mira ... Di sini rumah sakit terdekat cuma itu, lainnya puskesmas." Maura menimpali dengan gemas.
"Atau gini aja, kamu ikut aku aja, Mir. Kemarin bunda nawarin aku suruh ngelola rumah modenya. Dia kewalahan mengurus sendiri, belum lagi harus bolak-balik nganterin ayah check-up. Bunda mau fokus sama toko bangunan ayah," papar Maura panjang lebar.
Mata Mira berbinar mendengarnya, tanpa ragu dia langsung menyetujui.
''Boleh, Mbak. Aku mau...."
''Tapi kamu harus rela melepas ijazah keperawatanmu, Mir."
''Tidak apa-apa, Mbak. Gak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru. Gelar tidaklah penting yang terpenting ilmunya."
''Ya sudah, nanti aku konfirmasikan ke bunda...."
...----------------...
Sambil nunggu up dariku mampir yuk ke karya baruku.... Memang baru dapat seuprit tapi aku usahakan up tiap harr
Punya mama gemoy juga....
__ADS_1