Pencarian Maura

Pencarian Maura
Akhir Pencarianku


__ADS_3

Sembilan bulan kemudian


Emran mengumpat kesal ketika dia harus terjebak kemacetan panjang. Tangannya tidak berhenti menekan klakson berharap mobil yang ada di hadapannya segera melaju. Wajahnya terlihat sangat panik ketika mendapat kabar dari sang adik jika istrinya mengalami kontraksi. Kini, tengah berada di rumah sakit.


Dia yang saat itu tengah memimpin rapat bulanan di kantor, segera meninggalkan tempat begitu saja. Nahas, kini dirinya harus terjebak kemacetan panjang ketika sampai di sebuah tol.


''****! Apa para petugas tidak bisa mempercepat kerjanya sampai terjadi kemacetan seperti ini." Pria itu menggerutu kesal dengan tangan kembali menekan klakson mobil lebih dalam hingga terdengar suara nyaring.


''Hei, Bung. Yang terjebak kemacetan bukan hanya kau tapi kami juga. Yang punya urusan mendesak bukan hanya kau. Berhentilah menekan klakson! Kepalaku pusing mendengar suara itu." Salah seorang pengemudi yang berada tepat di sisi Emran berteriak memperingati dengan wajah kesalnya.


''Diamlah! Istriku ada di rumah sakit mau melahirkan," sentak Emran.


Pengemudi itu pun segera mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


Terdengar suara deringan keras dari ponsel yang ada di sisinya. Tanpa menunggu lama, Emran segera mengangkat panggilan itu. Wajah kesakitan sang istri muncul di layar untuk pertama kali.


''Cepatlah, Em! Aku tidak tahan," rintih Maura di seberang sana, keringat dingin tampak membasahi dahi dan pelipisnya.


"Aku masih terjebak macet," seru Emran frustasi.


Emru yang mendengar itupun segera merebut ponsel miliknya.


''Kak, anakmu tidak sabar untuk keluar. Jalan lahirnya terbuka sempurna. Maura harus mendapat tindakan sekarang." Suara Emru tak kalah panik.


''Lihatlah ini! Tangan dan rambutku jadi pelampiasan. Sebenarnya, suaminya itu aku atau kau. Kau yang membuat aku yang menderita," sungut pria itu dengan kesal sembari menunjukkan bekas cakaran yang ada di tangannya, rambutnya juga terlihat berantakan seperti tidak pernah disisir selama berhari-hari.


Raichand langsung menggeplak keras lengan putra bungsunya karena gemas mendengar ocehan itu.


''Awww, Pap, kenapa mukul aku sih?" Emru memrotes tindakan sang ayah.


''Diamlah, Ru! Kakakmu pasti juga sangat panik. Kau jangan menyulut api dalam bensin jika tidak ingin terkena imbasnya nanti." Raichand segera merebut benda pipih itu, kemudian berganti dirinya yang berbicara.


''Kau tenanglah! Maura sudah mendapat tindakan. Keselamatan yang utama, jangan panik. Papa paham betul yang kau rasakan."


''Iya, Pap. Aku tutup dulu, ini mulai jalan meskipun merayap."


...----------------...


Di sebuah ruangan....


''Ayo, Mam, mengejan yang kuat. Mama pasti bisa," seru Dokter Raisa yang memberi semangat pada Maura.


''Aduh, Dok. Aku gak kuat, tubuhku lemas," ucap Maura sangat lirih. Wajahnya pun juga tampak sangat pucat.


Yunita yang ikut menemani putri angkatnya pun ikut meneteskan air mata. Namun, dia berusaha tegar agar tidak membuat beban pikiran putrinya.


''Dokter Maura harus bertahan, ingat ada makhluk mungil yang ingin bertemu."


''Suster, beri tambahan energi pada pasien," titah Dokter Raisa.


Suster yang ditugaskan pun mengangguk, kemudian langsung memasang saluran infus pada tangan Maura.

__ADS_1


''Dokter, ikuti aba-aba saya ya. Tarik nafas yang kuat setelah saya minta mengejan, dorong sekuat tenaga."


Maura mengangguk lemah, sedangkan Yunita tak berhenti menyeka keringat yang membanjiri area dahi dan pelipis putrinya.


''Maura pasti bisa."


Maura menarik nafas dalam-dalam mengikuti arahan dokter tersebut. Dia mendorong sekuat yang dia bisa setelah mendapat perintah.


''Ya, Dokter semangat kepalanya sudah terlihat," seru Dokter Raisa.


Mendengar hal itu, tanpa disadari tenaga Maura kembali pulih. Dia berusaha sekuat tenaga memberi dorongan, kecepatan infus juga ditambah hingga beberapa menit kemudian terdengar tangisan kencang suara bayi memenuhi ruangan itu.


Maura tak bisa lagi membendung air matanya saat melihat makhluk mungil yang tengah dibersihkan.


''Anakku, Bun."


''Iya, Sayang. Cucu bunda."


Semua orang yang berada di ruangan itu dikejutkan mendengar suara pintu yang dibuka kasar. Emran masuk disertai wajah paniknya. Tanpa basa-basi, pria itu segera menghambur memeluk sang istri yang masih terbaring lemah. Isak tangis terdengar dari bibirnya.


''Maafkan aku...."


''Sudah tidak apa-apa," ucap Maura lemah dengan membalas pelukan suaminya.


''Lihatlah dia."


Emran mengikuti arah telunjuk sang istri. Dilihatnya seorang suster tengah menggendong makhluk mungil yang tengah terlelap bersiap menyerahkan padanya.


''Selamat, Pak. Putrinya cantik sekali."


''Putriku...."


...----------------...


Suasana ruang perawatan Maura diselimuti kebahagiaan para keluarga yang menyambut kehadiran bayi mungil berjenis kelamin perempuan yang tengah terlelap dalam box bayi.


Semua memandang gemas bayi berbandana merah muda itu, tak terkecuali dengan sang paman yang tidak kalah antusias.


''Kak, bagaimana cara menggendongnya? Aku ingin menggendong gadis mungil ini."


Pertanyaan yang sama yang keluar dari bibir pria itu sejak beberapa menit yang lalu. Tangannya sudah terulur untuk meraih tubuh mungil itu. Namun, segera ditepis kasar oleh sang ayah.


''Pap, sekarang kau sudah tidak sayang padaku. Rasa sayangmu berubah ke dia. Perasaan dari tadi sewot melulu," sungutnya mirip anak perawan yang sedang merajuk.


''Tanganmu kotor, aku tidak ingin cucuku tertular virus yang kau bawa, Emru."


''Ya ampun, Pap. Aku sudah mencuci tanganku berulang kali dengan sabun. Segitu teganya sama anak sendiri."


''Kalau kau pengen punya seperti dia, cepatlah menikah," celetuk Maura yang sedari tadi hanya menjadi penonton debat ayah dan anak itu.


Maura selalu bisa menyerang titik kelemahannya yang membuatnya tak berkutik. Pria itu hanya bisa bersungut kesal tanpa bisa berkata lagi.

__ADS_1


Sontak, semua yang ada di sana tak bisa menahan tawa melihat raut kesal Emru.


''Sudah, jangan ditertawakan lagi bujang ganteng ini. Mau gendong baby, 'kan?" tanya Yunita memastikan.


Emru hanya mengangguk pelan.


''Sini bunda ajarin." Yunita mengangkat perlahan bayi mungil itu, kemudian meletakkan di pangkuan pamannya.


Emru tampak menahan nafas menerima tubuh mungil itu, tangannya pun terasa sangat kaku.


''Bunda, angkat, Bun. Aku takut menjatuhkannya.''


''Kau ini, Ru. Tadi ngotot sekarang bingung minta sudah," protes Raichand.


Emru memilih menghiraukan ayahnya. Baginya keponakan yang berada dalam gendongan bunda lebih menarik dari apapun.


Ruang perawatan semakin ramai dengan kehadiran Mira bersama Rayyan. Pekikan gadis itu berhasil memenuhi ruang perawatan yang baru saja senyap.


''Ya ampun lucunya ponakanku. Bandananya ini lho yang semakin menambah keimutan mirip donat diletakkan di dahi," seru riang suara Mira ketika melihat putri sahabatnya.


''Mbak, aku bawa pulang boleh?"


''Enggak, kalau mau buat sendiri sama Rayyan."


Seketika raut muka gadis itu berubah. Senyum yang sempat terlukis di bibirnya perlahan memudar. Dan semua itu tak luput dari perhatian Rayyan. Namun, sedetik kemudian Mira berusaha memperlihatkan keceriaannya dengan mengalihkan topik pembahasan.


''Mbak, selamat ya ... Aku ikut seneng lihat mbak bahagia. Aku gak bisa ngasih apa-apa, cuma ini semoga bermanfaat buat si kecil," ucap Mira dengan meyerahkan bingkisan yang dibawa.


''Seharusnya kamu gak usah repot-repot, Mir. Ini dibelikan Rayyan atau pakai uangmu sendiri," goda Maura.


''Ih, pakai uang sendiri lah, Mbak," sanggah Mira.


Maura tertawa mendengarnya karena berhasil menjahili sang sahabat. Pandangannya teralih pada semua orang yang tengah berbahagia. Dia tidak menyangka akan sampai pada titik ini. Di mana dia benar-benar menemukan kebahagiaannya. Kebahagiaan akan keluarga kecil yang sangat dia impikan sejak kecil.


Memang niat awalnya dulu, datang ke kota ini hanya untuk mencari keberadaan sang ayah. Pencariannya membuahkan hasil. Tak pernah terbesit sedikitpun dalam benaknya, jika akan ada kisah asmara yang turut mewarnai misinya. Dia selalu menekankan pada diri sendiri untuk selalu fokus pada tujuannya. Namun siapa sangka, selain menemukan tujuannya dia juga dipertemukan dengan orang-orang yang kini terlibat dalam kisahnya, terutama pria yang sangat dicintai.


Pria dingin yang berhasil merebut hati dan cintanya. Meskipun harus melalui serangkaian peristiwa yang menguras air mata, pada akhirnya takdir mempertemukan mereka dalam sebuah ikatan suci bernamakan 'pernikahan', bahkan kini ada putri kecil yang turut melengkapi.


Dia menatap penuh haru pada pria yang setia berada di sisinya.


''Ada apa? Kenapa kau menangis?"


''Aku tidak menangis, aku terharu." Maura menelusupkan kepalanya lebih dalam dekapan dada bidang itu.


''Aku bahagia memilikimu. Tolong, jangan nodai cintaku dengan pengkhianatan. Aku ingin kita selalu seperti ini hingga nanti maut memisahkan.''


Emran yang mendengar pun semakin mengeratkan dekapannya. Dia mengecup berkali-kali puncak kepala istrinya.


''Iya, aku janji."


''I love you, My Queen."

__ADS_1


''Love you more, My King...."


TAMAT___


__ADS_2