Pencarian Maura

Pencarian Maura
Di mana Maura?


__ADS_3

''Tunggu di sini! aku ambil mobil dulu." Emran meminta Maura menunggu di dekat pintu gerbang, sementara pria itu segera berlari menuju tempat parkir dimana mobilnya berada.


Beberapa menit setelah kepergian Emran, ada sebuah mobil Jeep berhenti di dekat Maura. Namun, gadis itu masih belum menyadari jika ada bahaya yang tengah mengintainya. Dia masih asik berbalas pesan dengan Mira sembari menunggu kedatangan Emran.


Seorang pria dengan langkah pelan dan sangat hati-hati mendekati gadis itu. Matanya awas mengamati keadaan sekitar untuk memastikan tidak ada yang melihat aksinya, sedangkan para penjaga yang berada di area gerbang sudah mereka amankan sejak tadi, setelah mobil Emran memasuki tempat itu.


Dia segera mengeluarkan sapu tangan yang ada di sakunya, tak lupa meneteskan obat bius pada kain itu. Kemudian....


Hap!


Pria itu segera membekap mulut gadis yang menjadi target incarannya. Maura sempat meronta dan berteriak. Nihil suaranya tererdam oleh benda yang membekap mulutnya. Lama-kelamaan gerakan gadis itu melemah, hingga pada akhirnya ia terkulai tak sadarkan diri dalam dekapan seseorang.


Si pria segera membopong tubuh Maura seperti karung beras, lalu segera membawanya masuk ke dalam mobil sebelum ada yang melihat.


Mobil Emran tiba di tempat sesaat setelah mobil Jeep yang membawa Maura pergi. Dia segera turun ketika tidak melihat Maura berada di tempat itu. Dia mencari kesana kemari, namun nihil. Dia tidak bisa menemukan jejaknya.


Pada saat hendak kembali ke mobil, kaki pria itu menginjak sesuatu. Yang tidak lain adalah ponsel Maura yang terjatuh sewaktu tidak sadar tadi. Emran mengeraskan rahangnya, dia sudah menduga jika hilangnya Maura ada kaitannya dengan Rayyan. Tanpa berpikir panjang, Dia segera menghubungi rivalnya untuk menanyakan dimana keberadaan sang pujaan hati.


''Di mana Maura?" Emran bertanya penuh penekanan begitu panggilannya tersambung.


''Apa yang kau tanyakan? Bukannya Maura bersamamu?" Sahut Rayyan terdengar jelas jika dia tidak terima dituduh seperti itu.


Emran tidak mempercayai begitu saja. Dia masih mengingat jelas perkataan Maura tentang tindakan Rayyan yang ingin mengawasi gerak-geriknya.


''Kamu tidak usah bohong, Ray! Cepat katakan, di mana Maura? Atau aku akan menghabisimu," teriak Emran penuh amarah.


"Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak jadi menghadiri acara orang tuamu," sahut Rayyan.


"Apa?!"


Emran sangat terkejut mendengar pengakuan Rayyan. Perasannya semakin tak menentu marah, gelisah dan amarah menjadi satu.


''****! Lalu di mana Maura?"


Perkataan pria itu masih terdengar jelas di telinga Rayyan.


''Apa maksud dari ucapanmu, Emran?" tanyanya dengan suara meninggi.


''Maura hilang."


"Apa? Bagaimana bisa?'' Rayyan tidak bisa menutupi keterkejutannya.

__ADS_1


''Aku tidak tahu pasti. Tadi aku meninggalkan dia untuk mengambil mobil. Tapi setelah aku kembali, Maura sudah tidak ada di tempatnya. Padahal—"


"****!" Emran kembali mengumpat saat menyadari jika tempat yang dia pijaki saat ini sangatlah sepi. Tidak ada para penjaga yang hilir-mudik menjaga tempat itu.


''Kenapa kau mengumpat terus-menerus, Emran?"


''Maura diculik."


''Apa?! Bagaimana bisa?''


Lagi dan lagi Rayyan berhasil dibuat terkejut.


''Kamu jangan kemana-mana. Tunggu aku! Aku akan segera ke sana."


...----------------...


"Ada apa, Ray?" tanya Bram penasaran karena sedari keponakannya terus berteriak saat menerima telpon.


''Aku harus pergi, Om. Gawat!"


Rayyan bergerak kesana-kemari dengan tangan bergetar. Karena panik, pria itu tidak bisa menemukan kunci mobilnya.


''Kau ini kenapa, Ray? Apa yang kau cari?"


Rayyan dengan sigap menangkapnya, lalu melenggang pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih.


''Kau belum menjawab pertanyaan om, Ray. Kau mau kemana?"


Rayyan menghentikan langkahnya di ambang pintu ketika mendengar suara lantang omnya. Dia menghembuskan nafas kasar, kemudian berbalik. Dengan terpaksa, dia harus menyampaikan berita ini dari pada pria baya itu mengulur waktunya.


''Maura menghilang, Om. Dia diculik. Aku...."


''Apa?!" Bram tidak bisa menutupi keterkejutannya.


''Om ikut bersamamu."


''Tapi, Om...."


''Tidak ada tapi-tapian, keputusan om tidak bisa digugat. Om harus ikut!" Bram berjalan mendahului keponakannya..


Dia juga segera memerintah anak buahnya untuk melakukan pencarian pada putrinya.

__ADS_1


''Sebaiknya om di rumah saja. Keadaan om baru pulih. Biar aku sama Rayyan yang akan mencari," kata Rayyan dengan mengimbangi langkah tergesa omnya.


''Aku tidak bisa tenang di rumah. Aku tidak ingin kehilangan putriku untuk yang kedua kalinya, sedangkan aku juga belum mengetahui keberadaan istriku." Bram segera memasuki mobil yang sudah dipersiapkan di depan rumah.


Rayyan hanya bisa menahan kesal menanggapi omnya yang keras kepala. Dia segera menuju mobilnya yang berada tak jauh dari tempatnya, kemudian segera menyusul mobil Bram yang telah pergi mendahuluinya.


...----------------...


"Di mana para penjaga di sini? Kenapa sangat sepi?" tanya Bram begitu sampai di kediaman orang tua Emran. Disana pria itu masih menunggu di tempatnya.


''Mereka semua diikat di dalam pos satpam, Tuan. Aku juga tidak menyadari sama sekali jika tempat ini sepi. Ini semua salahku, seharusnya aku selalu membawa Maura ikut bersamaku." Emran berucap dengan gusar.


Memang jarak rumah utama dengan pintu gerbang lumayan jauh, jadi keributan yang ada disana tidak terlalu di ketahui oleh banyak orang.


''Hemm, rupanya ini sudah di rencanakan dengan matang," gumam Bram.


''Kau memang bodoh, Emran. Kenapa kau seceroboh itu?" Rayyan berteriak marah di hadapan Emran.


Emran yang merasa bersalah hanya bisa diam. Tidak ada gunanya meladeni emosi pria menyebalkan itu. Yang terpenting, sekarang adalah bagaimana cara menemukan Maura.


''Diam, Rayyan! Masalah ini tidak akan selesai dengan otot, kita harus menggunakan otak." Bram segera meredam emosi keponakannya.


Tanpa sengaja matanya melirik sebuah kamera pengawas yang terletak tak jauh di atasnya.


''Di mana ruang pengawasnya?" tanya Bram tiba-tiba.


Seketika, wajah gusar Emran berubah cerah. Kenapa tidak kepikiran hal itu dari tadi, pikirnya.


''Mari saya tunjukkan, ruangan itu ada di area samping rumah." Emran segera memasuki mobil kembali ke dalam rumah disusul Bram dan Rayyan.


''Tunjukkan rekaman yang ada di pintu gerbang beberapa menit yang lalu,'' titah Emran pada para petugas di sana.


Ketiga pria itu mengamati dengan mimik wajah serius rekaman yang ditunjukkan petugas. Bermula dari kedatangan Rayyan bersama Maura, lalu pria itu melenggang pergi. Mereka juga melihat adanya mobil Jeep yang berhenti di jalan yang tak jauh dari gerbang. Seorang pria yang tiba-tiba menyergap Maura hingga gadis itu tak sadarkan diri.


''Apa bisa melihat plat nomor mobil itu?" tanya Bram.


Para petugas segera men-zoom video dan terpampanglah nomor yang dicari.


''Apa Anda mengenalnya, Tuan?'' tanya Emran.


''Tidak! Tapi anak buahku akan melacaknya," ucap Bram yang masih sibuk dengan ponsel di telinganya.

__ADS_1


Emran mengangguk paham, sedangkan Rayyan hanya terdiam sembari memikirkan bagaimana cara menyelamatkan Maura dengan caranya sendiri.


''Apa semua ini ada hubungannya dengan nomor kemarin?" batinnya menerka-nerka.


__ADS_2