
''Bagaimana kondisi perusahaan, Emru?" tanya Raichand ketika mereka tengah menikmati waktu santai di taman belakang.
''Semua baik, bahkan ada perusahaan asing yang mengajak kita kerjasama," jawab Emru tanpa mengalihkan pandangan dari layar lipat.
Raichand menghembuskan nafas lega. Sejak mendapat sokongan dana dari perusahaan yang dipimpin Maura, kondisi bisnisnya berangsur membaik. Dia patut bersyukur karena wanita itu tidak menyimpan dendam sama sekali terhadap keluarganya setelah apa yang dilakukan mendiang istrinya. Justru Maura dengan ringan tangan menutup semua hutang perusahaannya.
''Perusahaan sudah membaik, sekarang giliran pikirkan dirimu sendiri, Emru."
Sontak Emru mengalihkan pandangan kepada sang ayah.
''Maksud papa?"
''Tidak usah pura-pura bodoh. Papa tau kau sedang menghindar."
Pria itu melepas kacamata bacanya sembari menghela nafas.
''Papa tidak usah mulai," balasnya datar.
''Mau sampai kapan kau akan melajang seperti ini. Lihatlah kakakmu, dia sudah punya gandengan. Apa kau tidak iri?''
''Usiamu semakin hari semakin tua, begitu juga dengan papa. Papa ingin melihat kalian menikah dan punya anak di sisa umur ini," pungkas Raichand dengan tatapan sendu.
''Sudahlah, Pap. Jangan berfikiran aneh-aneh lagi. Papa baru pulih, aku tidak ingin kondisi papa kembali menurun hanya karena memikirkan sesuatu yang tidak jelas," sungutnya dengan kesal.
''Papa santai saja, jodohku pasti akan datang. Yang terpenting sekarang kesehatan papa nomor satu bagiku.'' Emru berusaha menenangkan sang ayah dengan menggenggam lembut tangan keriput itu.
''Iya, tidak lagi," balas Raichand dengan senyum teduhnya.
Keduanya mengalihkan pandangan ketika melihat kedatangan Emran tengah menggandeng mesra tangan Maura. Senyum manis tampak selalu tersungging di bibirnya.
''Kau kenapa, Kak? Jangan bilang kau habis kesambet setan," celetuk Emru.
''Sembarangan!" sahut Emran cepat, "aku ada kabar bahagia untuk kalian," sambungnya, raut kebahagiaan tak pernah pudar di wajahnya.
Raichand dan Emru saling menatap satu sama lain. Keduanya menerka-nerka, kabar bahagia apa yang aka disampaikan pria itu.
''Aku dan Maura tela resmi menjadi pasangan suami-istri."
''Apa?!"
__ADS_1
''Bagaimana bisa?"
Jawab keduanya hampir bersamaan. Sepasang ayah dan anak itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Mereka masih tidak bisa mempercayai hal itu. Pasalnya, Emran tidak pernah mengatakan apapun mengenai pernikahan. Jangankan hal seserius itu, lamaran pun tidak.
''Bercandamu tidak lucu, Kak." Emru berkomentar.
''Aku tidak bercanda," sahut Emran datar.
''Yang dikatakan kakakku benar, Ra?" Emru berganti meminta klarifikasi dari wanita yang berada di samping kakaknya.
Maura menanggapi dengan anggukan pelan diiringi senyum malu-malu dari bibirnya. Wanita itu semakin merapatkan tubuh pada pria yang bersamanya.
''Kapan? Bagaimana bisa? Coba beri aku penjelasan utuh, jangan setengah-setengah seperti ini. Aku benar-benar masih belum percaya, sungguh!"
Emru terus menuntut jawaban pada kakaknya, sedangkan sang ayah hanya diam menyimak obrolan kedua putranya.
''Tunjukkan buktinya, Sayang. Biar anak ini tidak banyak bertanya. Aku malas menjelaskan panjang lebar padanya," titah Emran.
Maura segera mengeluarkan dua buah buku kecil berbeda warna sebagai tanda jika mereka telah sah sebagai suami istri secara agama dan negara. Emru segera merebut dua buah benda itu, bahkan membuka hingga meneliti berkali-kali jika itu benar-benar milik kakaknya.
''Benar, Pap. Ini foto mereka," ucap Emru pada sang ayah seraya menunjukkan foto kecil yang tertera di sana.
''Dasar anak ini, kapan kalian melakukannya?" Raichand bersuara.
''Tapi, bagaimana bisa?" tanya Emru lagi.
''Bisalah ... 'Kan power of money. Semua ini atas bantuan Pak Anton. Tanpanya pernikahan dadakan ini tidak akan terwujud." Maura ikut menimpali.
''Dan kalian menikah tidak melibatkan aku sebagai orang tua," ucap Raichand dengan suara beratnya.
''Kalian ini benar-benar...."
''Ini semua keinginan Emran. Aku hanya menuruti dia," kata Maura membela diri.
Wanita itu memilih mengamankan diri sendiri daripada ikut terkena getahnya.
Ketika Emran berniat mengajak sang istri istirahat ke ruang pribadinya. Raichand meminta putra sulungnya untuk tetap tinggal karena ingin berbicara empat mata. Orang tua mana yang tidak kecewa dengan keputusan sepihak itu, apalagi ini masalah hubungan serius yang akan dibina sekali seumur hidup.
Meskipun ada kebahagiaan yang dirasakan tetapi dia tetap kecewa dengan keputusan putranya ini. Demi menghilangkan kekecewaannya, Raichand memaksa Emran untuk mengadakan resepsi mewah dengan mengundang seluruh kolega bisnisnya dalam waktu satu minggu ke depan. Dia tidak peduli bagaimana putranya akan mewujudkan keinginannya itu.
__ADS_1
"Anggap saja ini hukuman karena kamu telah mengecewakan papa," pungkas Raichand sebelum mengakhiri pembicaraan.
''Jangan libatkan aku, Kak. Urus saja sendiri, pekerjaanku numpuk," kata Emru ketika sang kakak menatap intens kearahnya. Dia pun ikut menyusul kepergian sang ayah meninggalkan pria itu sendirian.
...----------------...
''Papa meminta kita mengadakan resepsi pernikahan secepatnya. Dia merajuk gara-gara aku tidak memberitahunya," keluh Emran ketika tengah istirahat berdua di dalam kamar.
''Ini juga gara-gara kamu, salahmu sendiri. Jadi, akibatnya ya tanggung sendiri," balas Maura acuh tak acuh.
Dia justru sibuk menata perlengkapan pribadinya pada tempat yang sudah dipersiapkan.
''Kok gitu, apa kau senang papa marah sama aku, hem?" Emran langsung menghampiri istrinya, lalu mendekap erat tubuh wanita itu.
''Tolong, tangan Anda dikondisikan, Dokter Emran." Maura memberi peringatan ketika tangan pria itu menjalar ke tempat-tempat yang tidak semestinya.
''Kenapa hemm? Lagian semua ini sudah menjadi milikku," bisik Emran tepat di telinga sang istri.
Tanpa sadar Maura mendesis pelan ketika tangan itu mengeratkan genggamannya pada area sensitifnya.
''Mulutmu boleh menolak tapi tubuhmu merespon cepat, Sayang." Tangan kekar itu semakin tak bisa dikendalikan, meraih apapun yang ia suka.
''Awwsssh, panas, Ra ... Kok malah dicubit sih," desis Emran sembari mengusap lengannya yang terasa panas.
''Biarin, salah sendiri nakal. Anak nakal mesti dicubit. Masih sore juga macem-macem," sahut Maura ketus, disertai lirikan sinisnya.
''Cuma satu macem, Ra. Yang enak pokoknya."
Maura merotasi kedua bola matanya. Sejak kapan pria dingin ini berubah menjadi pria mesum. Apa kepalanya habis terbentur sesuatu.
''Enggak ada sebelum resepsi diadakan," sahut Maura dengan santai, kemudian memilih meninggalkan tempat itu untuk menyiapkan makan malam.
''Maura, Sayang ... Kok malah pergi.''
"Ra, Maura."
...----------------...
Rekomendasi novel lagi, guys....
__ADS_1
yang kepo bisa merapat ya...